Penyelidik forensik siber blockchain dari TRM Labs, Chainalysis, serta investigator independen onchain ZachXBT secara resmi mengaitkan insiden peretasan masif bursa kripto Binance senilai $6,3 miliar dengan kelompok peretas negara Korea Utara bernama TraderTraitor. Temuan intelijen gabungan ini diumumkan pada Jumat (30/10/2026) setelah analis mendeteksi pola pergerakan dana hasil curian yang identik dengan serangan siber terdahulu. Kolaborasi penegak hukum dan perusahaan keamanan aset digital kini difokuskan untuk melacak rute pencucian uang yang tersebar di sepuluh jaringan blockchain utama guna meminimalisasi risiko konversi aset curian ke pasar fiat.
Temuan Forensik TRM Labs dan Jejak Onchain ZachXBT
Berdasarkan laporan resmi TRM Labs, atribusi serangan kepada kelompok TraderTraitor ditetapkan dengan tingkat keyakinan tinggi (*high confidence*) setelah mengombinasikan data transaksi onchain dan intelijen offchain. ZachXBT membeberkan bahwa sebagian dana hasil pembobolan Binance telah dicampur ke dalam alamat dompet penampung yang sama dengan hasil peretasan bursa Bitget senilai $352 juta beberapa waktu lalu. Penggabungan dana kedua insiden tersebut terdeteksi setelah pelaku melarikan aset curian melalui protokol likuiditas silang rantai THORChain.
Co-founder sekaligus Chief Executive Officer Chainalysis, Jonathan Levin, turut mengonfirmasi temuan tersebut dan menaksir nilai kerugian yang ditimbulkan mencapai $6,4 miliar. Menurut Levin, kemiripan tanda tangan transaksi digital serta taktik pengaburan jejak aset mengarah kuat pada unit siber khusus Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK). Analisis ini diperkuat oleh evaluasi CEO Blockaid, Ido Ben-Natan, yang sebelumnya menyatakan bahwa kompleksitas persiapan teknis selama 36 jam pra-serangan mencerminkan operasi siber terorganisir level militer.
Rekam Jejak TraderTraitor dan Pola Rekayasa Sosial
TraderTraitor selama ini telah dimasukkan ke dalam daftar ancaman siber paling berbahaya oleh Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat dan regulator internasional. Kelompok ini memiliki riwayat panjang dalam mengeksekusi pencurian aset kripto berskala raksasa, termasuk pembobolan bursa Bybit pada Februari 2025 dan pengurasan lebih dari $300 juta dari DMM Bitcoin di Jepang pada Mei 2024. Modus operandi kelompok ini berpusat pada rekayasa sosial tingkat lanjut yang membidik karyawan kunci di perusahaan sasaran.
Dalam pola serangan konvensionalnya, agen TraderTraitor kerap menyamar sebagai perekrut tenaga kerja profesional atau mitra bisnis potensial di platform profesional. FBI mencatat bahwa para peretas mengirimkan berkas pengujian kode berbahaya (*malicious coding test*) kepada pengembang software untuk menanam trojan di perangkat operasional. Skema serupa diduga kuat menjadi pintu masuk dalam insiden Binance, menyusul konfirmasi bursa bahwa intrusi awal bermula dari laptop seorang insinyur DevOps yang berhasil dikompromikan oleh aktor ancaman eksternal.
Upaya Pemulihan Aset dan Mitigasi Likuiditas Industri
Pengungkapan dalang peretasan ini mempercepat koordinasi antara penyedia layanan dompet, protokol terdesentralisasi, dan aparat penegak hukum global untuk membekukan sisa aset yang masih tertahan di jaringan publik. Binance sebelumnya menyatakan telah berhasil membekukan sekitar $3 miliar aset curian berkat kerja sama cepat dengan validator jaringan dan penerbit stablecoin. Namun, sejumlah pakar keamanan mengingatkan bahwa sisa dana dalam bentuk Bitcoin dan mata uang non-freezable berisiko tinggi sulit ditarik kembali secara utuh.
Insiden ini sekaligus memicu efek penularan likuiditas pada ekosistem bursa derivatif regional yang mengandalkan infrastruktur penyedia likuiditas Binance. Sejumlah platform mitra mulai memberlakukan pembatasan sementara pada pembukaan posisi kontrak futures baru untuk mencegah ketidakseimbangan pasar. Regulator keuangan di berbagai yurisdiksi kini memperketat audit keamanan internal bursa kripto, khususnya terkait protokol isolasi perangkat pengembang, otentikasi multi-pihak (MPC), dan prosedur penandatanganan transaksi darurat.
Sumber: CoinTelegraph



