Keamanan

Binance Ungkap Laptop DevOps Diretas, $3 Miliar Aset Curian Dibekukan

Binance Ungkap Laptop DevOps Diretas, $3 Miliar Aset Curian Dibekukan

Key Takeaways

Binance mengungkap peretasan $6,3 miliar bersumber dari laptop insinyur DevOps. Sebanyak $3 miliar aset berhasil dibekukan oleh penerbit stablecoin dan DAO.

Bursa aset kripto terbesar di dunia, Binance, merilis temuan investigasi awal terkait insiden keamanan besar yang melanda infrastruktur hot wallet miliknya pada Jumat (30/10/2026). Hasil investigasi forensik internal mengindikasikan bahwa peretasan bersumber dari kompromi perangkat laptop milik seorang insinyur DevOps perusahaan. Akses tidak sah tersebut memungkinkan aktor ancaman menyusup ke dalam container layanan dan mengeksekusi serangkaian transaksi penarikan dana tanpa otorisasi. Manajemen Binance mengonfirmasi total estimasi dampak kerugian mencapai $6,3 miliar, namun menegaskan bahwa kunci privat (private keys) dompet utama tetap aman dan dana pengguna dilindungi sepenuhnya oleh cadangan internal.

Kompromi Laptop DevOps dan Keterlibatan Lazarus Group

Investigasi teknis tim keamanan siber Binance menunjukkan bahwa penyerang memanfaatkan celah otentikasi pada perangkat laptop insinyur DevOps untuk memperoleh jalur akses istimewa ke cluster container backend. Celah ini dieksploitasi untuk memicu perintah penarikan dana liar secara masif dari beberapa alamat hot wallet bursa, termasuk Hot Wallet 34 dan Binance 14. Meski demikian, tim audit forensik memastikan tidak ada bukti kebocoran kunci privat kriptografi dompet bursa. Pihak bursa segera mencabut seluruh izin akses kredensial yang terdampak dan membekukan sementara layanan deposit maupun penarikan demi mengisolasi sistem secara menyeluruh.

Di sisi lain, penyelidik forensik blockchain independen ternama, ZachXBT, secara terbuka mengaitkan pola serangan dan pergerakan dana ini dengan kelompok peretas terafiliasi negara Korea Utara, Lazarus Group. ZachXBT mengidentifikasi tanda-tanda metodologi pencucian cepat dan pemecahan likuiditas on-chain yang menjadi ciri khas sindikat kejahatan siber negara tersebut. Menanggapi eskalasi krisis ini, Co-Founder Binance He Yi menyatakan bahwa penarikan dana nasabah akan tetap ditangguhkan sementara hingga lingkungan keamanan internal dipastikan bersih dari segala potensi ancaman lanjutan, seraya berjanji menerbitkan laporan teknis komprehensif setelah seluruh investigasi tuntas.

Pembekuan Terkoordinasi $3 Miliar Bersama Penerbit Stablecoin

Dalam hitungan jam setelah anomali transaksi terdeteksi, koordinasi lintas industri berhasil membekukan sekitar $3 miliar aset yang terhubung dengan alamat penyerang per pukul 08.52 waktu Beijing. Tindakan pembekuan berskala masif ini dipimpin oleh penerbit stablecoin terkemuka dan konsorsium terdesentralisasi. CEO Tether Paolo Ardoino mengonfirmasi bahwa perusahaannya telah membekukan lebih dari 1,567 miliar USDT, yang kemudian diperluas hingga mencapai total 1,77 miliar USDT, 12.574 token emas fisik Tether Gold (XAUt), serta 6,19 juta token USDT0 yang beredar di jaringan terdesentralisasi.

Langkah serupa dieksekusi oleh Circle melalui koordinasi erat bersama aparat penegak hukum federal global. CEO Circle Jeremy Allaire menyatakan pihaknya berhasil memasukkan alamat dompet peretas ke dalam daftar hitam dan membekukan dana sebesar 823 juta USD Coin (USDC). Selain itu, First Digital membekukan sekitar 3,4 juta token FDUSD, World Liberty Financial memblokir $27 juta USD1 dan 48 juta token WLFI senilai $2 juta, serta Ripple mengunci sekitar 200 juta unit aset terkait. Dewan Keamanan Arbitrum (Security Council) juga memindahkan 74,56 juta token ARB dan 8.425 Ether (ETH) ke dompet karantina terbatas yang hanya dapat diakses melalui pemungutan suara darurat Arbitrum DAO.

Jaminan Dana SAFU dan Pelacakan Aset Non-Freezable

Kendati pembekuan stablecoin terpusat berjalan efektif, tantangan terbesar kini tertuju pada aset kripto natif yang tidak memiliki fungsi pembekuan kontrak pintar (smart contract blacklisting). Berdasarkan pemantauan on-chain, peretas saat ini masih memegang sekitar 195.000 ETH dan 18.270 Bitcoin (BTC) yang tidak dapat dibekukan secara sepihak oleh entitas mana pun. Sebagian likuiditas ETH tersebut bahkan terdeteksi telah disalurkan ke dalam protokol pinjaman terdesentralisasi Aave untuk ditukarkan menjadi agunan sebelum intervensi pasar dilakukan. Binance sendiri telah membekukan 29.934 Wrapped Beacon ETH (WBETH) pada produk liquid staking internalnya guna membatasi ruang gerak pelaku.

Manajemen Binance secara tegas menjamin bahwa saldo pengguna berada dalam kondisi aman dan tidak akan menanggung kerugian apa pun. Seluruh kerugian yang timbul akan ditutup penuh melalui cadangan Secure Asset Fund for Users (SAFU) serta kas operasional perusahaan. Dana darurat SAFU yang didirikan sejak 2018 memang dirancang khusus untuk melindungi kepentingan investor ritel dari peristiwa ekstrem semacam ini. Binance menegaskan tengah bekerja sama dengan lembaga intelijen blockchain dan otoritas penegak hukum internasional guna memburu pelaku, serta berkomitmen merilis ulang laporan bukti cadangan aset (Proof of Reserves) segera setelah proses rekapitalisasi neraca keuangan selesai dilakukan.

Sumber: TokenPost

Disclaimer

Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai nasihat keuangan, investasi, atau trading. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi. Selalu lakukan riset mendalam (DYOR - Do Your Own Research) sebelum berinvestasi dalam aset kripto atau digital.

Komentar (0)

Silakan login untuk bergabung dalam diskusi.

Login untuk Komentar