Token tata kelola bursa terdesentralisasi Hyperliquid, HYPE, melonjak sekitar 20 persen dalam 24 jam terakhir hingga menembus level 96 dolar AS pada Kamis (29/10/2026). Reli tajam ini terpicu oleh pengumuman resmi Intercontinental Exchange (ICE), perusahaan induk dari Bursa Efek New York (NYSE), yang menjalin kemitraan strategis dengan platform Trade[XYZ] untuk meluncurkan produk kontrak berjangka perpetual (perpetual futures) berbasis infrastruktur Hyperliquid bagi investor ritel di Amerika Serikat. Langkah ini menandai tonggak sejarah penting di mana raksasa pasar modal tradisional Wall Street secara langsung mengadopsi likuiditas dan arsitektur protokol decentralized finance (DeFi) ke dalam sistem perdagangan teregulasi.
Kemitraan Strategis ICE dan Dukungan Tokoh Wall Street
Berdasarkan perjanjian definitif yang disepakati, ICE mengambil porsi kepemilikan saham minoritas strategis di Trade[XYZ] sekaligus bertindak sebagai operator eksklusif bagi pasar teregulasi platform tersebut. Trade[XYZ] selama ini beroperasi di atas jaringan Layer-1 Hyperliquid untuk menyediakan akses perdagangan perpetual 24 jam penuh pada instrumen saham, indeks ekuitas global, komoditas, hingga valuta asing bagi pengguna di luar yurisdiksi Amerika Serikat.
Kemitraan ini semakin menarik perhatian publik setelah investor makro legendaris Stanley Druckenmiller mengumumkan dukungannya secara terbuka melalui unggahan perdananya di platform media sosial X. Mantan pengelola Duquesne Capital tersebut menyatakan antusiasmenya menjadi pemodal di Trade[XYZ] yang bekerja sama dengan ICE untuk menghadirkan kontrak perpetual 24/7 di AS, serta berencana memanfaatkan produk inovatif tersebut guna mengoptimalkan proses investasinya. Unggahan Druckenmiller tersebut bahkan langsung direspons oleh Elon Musk dengan komentar singkat bernada positif.
Struktur Kliring Khusus Ritel dan Kerangka Regulasi Ketat
Untuk mengoperasikan pasar derivatif kripto ini secara legal, ICE merancang struktur kliring dan pasar perdagangan ritel yang sepenuhnya terpisah dari divisi kontrak berjangka institusionalnya. Chairman sekaligus Chief Executive Officer ICE, Jeffrey Sprecher, menegaskan bahwa kehadiran kontrak perpetual ini bersifat melengkapi portofolio pasar berjangka yang ada, bukan menggantikannya. Pemisahan infrastruktur ini bertujuan untuk melindungi nasabah institusional ICE, yang saat ini mencakup lebih dari 99 persen total volume partisipasi, dari potensi risiko counterparty pasar ritel.
Akses perdagangan nantinya akan disalurkan melalui pialang berjangka resmi (Futures Commission Merchants/FCM) dengan kewajiban verifikasi identitas (Know Your Customer/KYC) dan kepatuhan anti-pencucian uang (AML) yang ketat. Selain itu, jaringan distribusi produk ini direncanakan terintegrasi dengan kemitraan ventura bersama antara ICE dan bursa kripto OKX yang sebelumnya disepakati pada valuasi 25 miliar dolar AS, sembari menanti persetujuan final dari regulator Komoditas Berjangka AS (CFTC).
Kinerja Pasar HYPE dan Tren Integrasi Keuangan Tradisional
Sentimen ekspansi Wall Street ini mendorong kapitalisasi pasar HYPE melambung hingga mencapai 22,4 miliar dolar AS, mempersempit jarak ke rekor tertinggi sepanjang masa (all-time high) di level 97,96 dolar AS yang sempat tercatat pada September lalu. Menurut data DefiLlama, Hyperliquid saat ini memimpin lanskap bursa terdesentralisasi global untuk instrumen perpetual, mencatatkan dominasi volume perdagangan yang signifikan di sektor on-chain.
Integrasi antara ICE dan Hyperliquid ini dipandang oleh analis pasar sebagai validasi monumental terhadap daya tahan model order book on-chain berkecepatan tinggi. Di tengah dorongan pemerintah AS untuk menghadirkan regulasi aset digital yang lebih adaptif, kolaborasi ini membuka gerbang baru bagi arus modal institusional dan ritel untuk bertransaksi dalam ekosistem derivatif kripto yang sepenuhnya patuh hukum.



