Jaringan pesan keuangan terbesar dunia, SWIFT, resmi mengumumkan peluncuran ledger berbasis blockchain yang siap digunakan setelah sembilan bulan pengembangan. Langkah ini menjadi tonggak sejarah baru dalam upaya tokenisasi aset di sektor perbankan global.
Ledger Blockchain Siap Digunakan
Dalam pengumuman resminya pada Kamis (9/7), SWIFT mengonfirmasi bahwa 17 bank besar dunia telah bersiap untuk memulai uji coba pembayaran lintas batas menggunakan deposito bank yang ditokenisasi di atas ledger baru tersebut. Bank-bank yang terlibat mencakup nama-nama raksasa seperti HSBC, Citi, BNP Paribas, UBS, ANZ, DBS, dan Standard Chartered.
Ledger blockchain SWIFT ini memungkinkan bank peserta untuk mendukung pembayaran lintas batas 24/7, termasuk transaksi di luar jam kerja dan akhir pekan. Yang paling penting, sistem baru ini tetap mempertahankan standar kepatuhan, kredit, risiko, dan kontrol yang sama ketatnya dengan infrastruktur pembayaran tradisional yang telah digunakan selama ini.
Tonggak Penting untuk Aset Digital
Thierry Chilosi, Chief Business Officer SWIFT, menyebut peluncuran ini sebagai "tonggak penting untuk aset digital teregulasi" yang dapat menjadi fondasi bagi inovasi masa depan di berbagai bidang, termasuk programmable money dan agentic commerce. "Ini memungkinkan nilai yang ditokenisasi bergerak melintasi perbatasan dengan kecepatan dan fleksibilitas yang diharapkan perdagangan modern, sambil mempertahankan tingkat ketahanan, keamanan, dan kepatuhan yang sama dengan yang dibutuhkan keuangan global," ujar Chilosi.
SWIFT sendiri bukan pemain baru dalam dunia keuangan global. Jaringan pesan antar bank miliknya saat ini menghubungkan lebih dari 11.500 bank dan lembaga keuangan di lebih dari 200 negara. Data SWIFT menunjukkan bahwa 75 persen pembayaran di jaringannya yang ada sudah mencapai bank penerima dalam waktu 10 menit, seringkali bahkan dalam hitungan detik.
Gelombang Tokenisasi di Sektor Keuangan
Peluncuran ini melanjutkan tren tokenisasi yang semakin masif di sektor keuangan tradisional. Bulan lalu, konsorsium bank besar yang dipimpin JPMorgan Chase, Bank of America, Citibank, Barclays, BNY, dan Wells Fargo mengumumkan rencana peluncuran jaringan deposito token pada paruh pertama 2027. Jaringan tersebut akan dioperasikan oleh The Clearing House dan menghubungkan rel pembayaran tradisional dengan infrastruktur aset digital untuk penyelesaian 24/7.
Tidak mau ketinggalan, bursa saham juga ikut terjun ke dunia tokenisasi. Pada Maret lalu, New York Stock Exchange (NYSE) bermitra dengan platform tokenisasi Securitize untuk membangun infrastruktur blockchain bagi saham token dan exchange-traded fund (ETF). Bahkan, pada Januari 2026, perusahaan induk NYSE, Intercontinental Exchange (ICE), telah lebih dulu mengungkapkan rencana untuk membangun venue sekuritas token dengan fitur trading 24/7, penyelesaian instan, pendanaan berbasis stablecoin, dan penyelesaian on-chain.
Dampak dan Prospek ke Depan
Langkah SWIFT menjadi katalis signifikan bagi adopsi blockchain di level institusional. Dengan basis lebih dari 11.500 institusi keuangan global, integrasi teknologi blockchain oleh SWIFT berpotensi mempercepat standardisasi tokenisasi deposito bank di seluruh dunia dan membuka pintu bagi inovasi keuangan yang lebih luas.
SWIFT berencana untuk memperluas fungsionalitas dan ketersediaan ledger setelah fase peluncuran awal yang terkendali ini selesai. Jika uji coba dengan 17 bank berjalan sukses, bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan, pembayaran lintas batas berbasis blockchain akan menjadi standar baru dalam sistem keuangan global.
Sumber: Cointelegraph - "SWIFT Launches Blockchain, Announces Tokenized Deposit Pilot with 17 Banks"



