Penyelidik on-chain independen terkemuka, ZachXBT, menaikkan estimasi total kerugian akibat aksi pembobolan aset kripto yang menimpa entitas institusional di Uni Eropa menjadi lebih dari $133 juta (sekitar Rp2,18 triliun) pada Selasa (3/11/2026). Peningkatan angka kerugian ini terjadi setelah ZachXBT mengidentifikasi penarikan dana mencurigakan tambahan sebesar $27 juta (sekitar Rp442 miliar) dari sejumlah bursa terpusat (CEX). Sebagian penarikan susulan tersebut bahkan berlangsung tepat setelah temuan awal dipublikasikan ke publik pada awal pekan, memicu kecurigaan kuat adanya upaya penutupan fakta secara sengaja oleh korban guna menghindari sorotan publik dan regulasi ketat.
Rincian Penarikan Tambahan dan Dugaan Penutupan Fakta
Berdasarkan temuan investigasi teranyar, penarikan susulan senilai $27 juta tersebut mengalir dari akun korporasi yang sama di berbagai bursa terpusat menuju klaster alamat dompet yang dikendalikan oleh pelaku. Langkah ini menambah parah skala kerugian dari angka awal sebesar $106 juta yang dilaporkan pada Senin kemarin. ZachXBT secara terbuka melontarkan dugaan keras bahwa korban peretasan skala sembilan digit ini merupakan lembaga keuangan besar yang berbasis di Eropa Barat dan saat ini berupaya menutupi insiden tersebut dari otoritas pengawas maupun publik luas.
Ketiadaan pengungkapan insiden secara transparan dan cepat dinilai berakibat fatal terhadap upaya penyelamatan aset. ZachXBT menegaskan bahwa keterlambatan laporan dan sikap tertutup dari entitas terdampak telah memberi ruang gerak leluasa bagi pelaku untuk mencuci lebih dari $30 juta. Padahal, jika insiden ini segera dilaporkan secara resmi sejak awal terdeteksi, aparat penegak hukum di Uni Eropa bersama pihak penerbit aset memiliki jendela waktu emas untuk membekukan sebagian besar aliran dana tersebut di lapisan smart contract sebelum dilarikan ke luar jangkauan regulasi.
Alur Konversi Kilat Stablecoin ke Ethereum dan Monero
Data forensik on-chain dari firma analitik Bitquery memperlihatkan modus pencucian uang yang sangat terorganisir dan berkejaran dengan waktu. Dalam kurun waktu sekitar empat jam pasca penarikan perdana, pelaku segera menukarkan stablecoin senilai $62,98 juta menjadi 27.553 Ether (ETH). Taktik konversi kilat ini dirancang khusus guna menghindari fungsi pembekuan terpusat (blacklist function) yang dimiliki oleh kontrak pintar penerbit stablecoin seperti Tether dan Circle, mengingat aset L1 murni seperti Ethereum tidak dapat dibekukan secara sepihak.
Hingga Senin sore pukul 13.47 UTC, sekitar $78,3 juta aset masih terpantau berada di alamat-alamat dompet milik pelaku, sementara $30,5 juta lainnya telah berhasil dipindahkan keluar dari alamat yang dipantau. Dari keseluruhan cadangan stablecoin awal, Bitquery mencatat hanya tersisa $3,74 juta dalam bentuk USD Coin (USDC) yang secara teoritis masih berpeluang dibekukan oleh Circle. Sebagian besar dana curian lainnya telah dialihkan secara agresif melalui layanan pertukaran instan (instant exchanges) dan protokol lintas rantai (cross-chain bridges) tanpa verifikasi identitas ketat, kemudian dikonversi ke koin privasi Monero (XMR) untuk memutus rantai pelacakan transaksi secara permanen.
Analisis Forensik On-Chain dan Pembedaan dari Kelompok Lazarus
Meskipun nilai pembobolan mencapai skala ratusan juta dolar yang lazim diasosiasikan dengan kelompok peretas negara (state-sponsored actors), ZachXBT mencatat bahwa tanda-tanda forensik pada insiden ini tidak mencerminkan karakteristik khas Lazarus Group asal Korea Utara. Kelompok siber Pyongyang biasanya mendispersikan dana hasil peretasan ke belasan ribu dompet secara bertahap, mendiamkan aset selama berminggu-minggu, atau memanfaatkan protokol jembatan tertentu dengan pola pencucian yang sudah sangat terpetakan oleh aparat intelijen internasional.
Sebaliknya, pelaku pada pembobolan lembaga keuangan Eropa ini mengeksekusi strategi jalan keluar kilat (fast exit ramp) dengan langsung memburu likuiditas instan di berbagai bursa terdesentralisasi dan platform swap swap instan. Pemilihan aset tujuan akhir berupa Monero menegaskan intensi penyerang non-negara yang berfokus pada kecepatan pemutusan audit jejak kas digital (untraceable ring signatures), alih-alih membangun cadangan perbendaharaan jangka panjang. Karakteristik serangan ini mengindikasikan keterlibatan sindikat kriminal siber profesional yang memiliki kapabilitas penetrasi tingkat tinggi terhadap sistem korporasi.
Evaluasi Keamanan dan Pelajaran Manajemen Kunci Korporasi
Peristiwa pencurian masif terhadap akun korporasi di platform bursa terpusat ini menjadi alarm darurat bagi institusi finansial tradisional yang mengelola aset digital. Tidak seperti peretasan protokol DeFi yang mengeksploitasi celah logika smart contract, insiden ini berakar pada kegagalan tata kelola keamanan akun, kompromi kredensial API berprivilese tinggi, serta kelonggaran otentikasi penarikan dana berkapasitas besar tanpa mekanisme persetujuan berjenjang (multi-signature approval) yang memadai.
Pakar keamanan industri mengingatkan bahwa penundaan pelaporan insiden peretasan (cover-up) demi melindungi reputasi korporasi justru menjadi bumerang yang melipatgandakan kerugian ekosistem. Praktik transparansi instan dan kerja sama lintas yurisdiksi antara pengelola akun institusional, bursa kripto, penerbit stablecoin, dan penegak hukum merupakan garis pertahanan terpenting untuk menghentikan laju pencucian dana ilegal sebelum aset terkonversi ke dalam instrumen privasi yang tidak dapat dilacak.
Sumber: CoinTelegraph



