Perusahaan perbendaharaan aset digital terkemuka di bursa efek Amerika Serikat, termasuk Strategy dan Strive, kini menghadapi tekanan neraca yang kian kompleks dalam menyeimbangkan akumulasi Bitcoin dengan kewajiban pembayaran dividen tunai saham preferen abadi (perpetual preferred stock). Laporan riset terbaru dari Fidelity Digital Assets mengungkapkan bahwa penerbitan instrumen hibrida tersebut memang berhasil mendanai pembelian sekitar 136.000 Bitcoin senilai miliaran dolar selama 20 bulan terakhir. Namun, ekspansi volume saham preferen yang beredar secara otomatis melipatgandakan beban dividen tunai berulang yang wajib disetor kepada investor yield, sehingga berpotensi membatasi likuiditas kas operasional untuk memborong aset kripto secara agresif di pasar spot.
Ekspansi Saham Preferen Abadi dan Dilema Pembayaran Dividen Tunai
Saham preferen abadi menempati struktur permodalan korporasi di antara surat utang (debt) dan saham biasa (common equity). Efek ini menawarkan imbal hasil tetap secara berkala tanpa memberikan hak suara bagi para pemegang saham, serta tidak memiliki tanggal jatuh tempo pelunasan pokok. Skema ini awalnya dipilih oleh Strategy dan Strive untuk menghimpun dana segar guna membeli Bitcoin tanpa menghadapi tekanan pembiayaan kembali (refinancing risk) seperti halnya penerbitan obligasi konversi konvensional. Melalui struktur tersebut, korporasi dapat menyerap modal dari investor pendapatan tetap yang ingin menikmati imbal hasil tinggi tanpa harus terpapar fluktuasi harga Bitcoin secara langsung.
Analis riset ekuitas senior di StoneX, Mark Palmer, menjelaskan bahwa saham preferen abadi berhasil membuka kanal modal baru bagi pasar Bitcoin dari kalangan investor yield yang selama ini tidak tersentuh oleh instrumen exchange-traded fund (ETF). Namun, Palmer menegaskan bahwa permintaan terhadap instrumen ini memiliki karakteristik refleksif yang sangat bergantung pada stabilitas harga saham preferen di pasar sekunder. Ketika harga saham preferen diperdagangkan mendekati nilai nominalnya (par value), penerbitan seri baru berjalan mulus. Sebaliknya, penurunan harga saham preferen akan meningkatkan biaya modal emiten dan memicu kekhawatiran terkait beban pembayaran dividen tunai dalam jangka panjang.
Data Akumulasi 136.000 BTC dan Beban Kupon Seri Saham STRC
Berdasarkan laporan analis riset Fidelity Digital Assets, Zack Wainwright, akumulasi 136.000 Bitcoin yang didanai melalui saham preferen telah mencakup lebih dari 0,5 persen dari total batas pasokan maksimal 21 juta BTC. Fidelity memperkirakan kapitalisasi pasar saham preferen bertema Bitcoin saat ini telah menembus 12 miliar dolar AS. Kendati angka ini masih merupakan fraksi kecil dibandingkan pasar pendapatan tetap global yang bernilai 150 triliun dolar AS, laju pertumbuhan dividen mulai menyerap arus kas yang signifikan. Salah satu seri saham preferen Strategy, yakni STRC yang menawarkan dividen variabel berkisar 12 persen, tercatat berhasil menghimpun dana hingga 7,5 miliar dolar AS sepanjang tahun 2026.
Kepala riset di CoinShares, James Butterfill, mencatat bahwa Strategy baru-baru ini mengalokasikan 193 juta dolar AS untuk membeli kembali (buyback) saham preferen seri STRC, sementara pembelian Bitcoin pada periode yang sama hanya mencapai 267 BTC. Langkah pembelian kembali saham preferen tersebut bertujuan untuk menekan beban kupon dividen tunai di masa depan, tetapi sekaligus menyedot modal yang seharusnya dapat dialokasikan untuk memborong Bitcoin. Ryan Rasmussen selaku kepala riset di Bitwise menambahkan bahwa meskipun instrumen preferen menjadi pendorong likuiditas alternatif, ETF Bitcoin spot tetap menjadi saluran permintaan utama dengan total arus masuk bersih kumulatif mencapai sekitar 57 miliar dolar AS dan dana kelolaan lebih dari 106 miliar dolar AS.
Implikasi Likuiditas Perbendaharaan dan Refleksivitas Siklus Pasar
Ketergantungan terhadap instrumen preferen abadi menciptakan tantangan volatilitas yang patut diwaspadai oleh pengelola perbendaharaan korporasi. Pendiri sekaligus CEO Two Prime, Alex Blume, mengungkapkan bahwa produk seperti STRC milik Strategy maupun SATA milik Strive tidak hanya mencerminkan pergerakan harga spot Bitcoin, melainkan sangat sensitif terhadap kelayakan manajemen modal dan sentimen likuiditas makroekonomi. Pada akhir Juni lalu, harga pasar STRC sempat anjlok ke kisaran 70 dolar AS per lembar sebelum kembali pulih ke level 99,40 dolar AS. Penurunan harga di bawah par mempersulit penerbitan seri saham baru, sehingga emiten terpaksa memprioritaskan pemulihan nilai efek ketimbang menambah cadangan Bitcoin.
Dalam kondisi pasar yang melemah, beban dividen tunai berisiko memaksa manajemen emiten menjual sebagian cadangan aset kripto guna memenuhi kewajiban kontraktual kepada pemegang saham preferen. James Butterfill memperingatkan bahwa saham preferen abadi dapat memperkuat siklus pasar secara dua arah: mengakselerasi pembelian Bitcoin saat kondisi pendanaan longgar, namun berbalik menekan likuiditas korporasi saat sentimen pasar memburuk. Ke depan, keberlanjutan model perbendaharaan hibrida ini akan sangat ditentukan oleh kemampuan manajemen menjaga cadangan kas tunai yang memadai serta stabilitas valuasi saham preferen di hadapan fluktuasi suku bunga global.



