Aktivitas pemindahan dana mencurigakan kembali terdeteksi melintasi ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi) Solana pada Rabu (4/11/2026). Seorang analis on-chain independen berhasil melacak pergerakan aset kripto senilai sekitar $1,46 juta yang diduga kuat terafiliasi dengan sindikat peretas asal Korea Utara. Aliran dana tersebut terpantau disalurkan melalui protokol pinjaman terdesentralisasi Jupiter Lend serta jembatan lintas rantai milik Circle sebelum akhirnya dikembalikan ke jaringan Solana. Temuan ini segera memicu perhatian luas dari komunitas keamanan Web3 mengingat modus perputaran transaksi yang sangat cepat dan terencana.
Rute Transaksi Multi-Hop dan Modus Pemecahan Saldo
Berdasarkan pemantauan forensik yang diungkapkan oleh analis on-chain FabianoSolana, dana gelap tersebut bermula dari sebuah alamat dompet Solana berawalan AffzFD. Alamat pengirim awal ini diketahui telah masuk ke dalam daftar pengawasan khusus dan ditandai secara resmi oleh Biro Investigasi Federal (FBI) Amerika Serikat sebagai entitas yang terafiliasi dengan aktivitas kejahatan siber aktor negara. Dari dompet primer tersebut, pelaku tidak langsung mentransfer dana dalam satu transaksi utuh guna mengelabui sistem pemantauan otomatis.
Pelaku memecah total dana senilai $1.463.400 tersebut ke sekitar 35 alamat dompet penampung sementara dalam waktu singkat. Setelah proses fragmentasi selesai, seluruh saldo dikonsolidasikan kembali dan disetorkan ke dalam kolam likuiditas Jupiter Lend di jaringan Solana. Menariknya, hanya berselang beberapa menit setelah deposit terkonfirmasi, sebuah dompet baru yang belum pernah aktif sebelumnya langsung melakukan penarikan dana dengan nominal yang nyaris identik. Pola keluar-masuk kilat ini menunjukkan pemanfaatan protokol likuiditas sebagai titik transit untuk mengaburkan histori transaksi awal.
Setelah ditarik dari Jupiter Lend, dana tersebut segera dikonversi ke dalam bentuk stablecoin USD Coin (USDC). Dari sana, pelaku memanfaatkan jembatan lintas rantai resmi milik Circle, yakni Cross-Chain Transfer Protocol (CCTP), untuk membawa modal keluar dari ekosistem Solana. Rute pelarian berlanjut melintasi jaringan Noble dan protokol derivatif terdesentralisasi dYdX sebelum akhirnya dialirkan kembali ke alamat dompet baru di Solana. Analisis mencatat sebanyak $1.463.400 keluar melalui 16 transaksi terpisah dan kembali dalam 19 transaksi, dengan selisih nilai akhir hanya sekitar $10.
Klarifikasi Resmi Jupiter dan Mekanisme Pelacakan LP
Menanggapi temuan pergerakan dana mencurigakan yang melintasi ekosistemnya, manajemen Jupiter segera memberikan klarifikasi terbuka. Chief Operating Officer (COO) Jupiter, Kash Dhanda, menegaskan bahwa hasil investigasi internal mengonfirmasi pelaku memang memanfaatkan platform Jupiter Lend murni untuk fungsi deposit dan penarikan likuiditas. Namun, pihak manajemen membantah anggapan bahwa protokol mereka telah berhasil dimanfaatkan sebagai sarana pencucian uang yang efektif atau tidak dapat terlacak oleh penegak hukum.
Menurut Dhanda, arsitektur likuiditas di Jupiter Lend beroperasi dengan menerbitkan token bukti penyedia likuiditas (LP tokens). Keberadaan token akuntansi ini justru memastikan setiap perpindahan nilai modal tetap meninggalkan jejak on-chain yang transparan dan mempertahankan keterkaitan langsung dengan alamat dompet asal. Dengan demikian, proses pengaburan jejak dana yang diupayakan pelaku dinilai gagal karena rantai kepemilikan aset tidak terputus secara teknis di buku besar terdistribusi.
Manajemen Jupiter juga mengonfirmasi bahwa divisi keamanan internal mereka saat ini terus memantau pergerakan dompet-dompet terkait secara real-time. Kendati demikian, hingga laporan ini diturunkan, seluruh saldo aset kripto tersebut belum mengalami pembekuan yudisial maupun pemblokiran smart contract dari pihak penerbit stablecoin. Pihak Jupiter memastikan siap berkoordinasi penuh dengan auditor keamanan eksternal dan otoritas berwenang untuk mencegah penyalahgunaan kolam likuiditas lebih lanjut.
Tantangan Sistem Kepatuhan KYT pada Ekosistem Lintas Rantai
Insiden pemindahan dana terduga peretas Korea Utara ini kembali menyoroti kelemahan mendasar dalam arsitektur kepatuhan Know-Your-Transaction (KYT) pada sektor DeFi modern. Banyak protokol jembatan dan agregator likuiditas hanya mengimplementasikan penyaringan daftar hitam pada tingkat antarmuka web (frontend), sehingga transaksi yang dieksekusi langsung melalui panggilan kontrak pintar (direct smart contract calls) kerap lolos tanpa hambatan berarti. Situasi ini diperparah oleh adanya latensi pembaruan data antara penyedia analitik keamanan dengan node validator di berbagai rantai blok.
Ketika jalur pertukaran utama seperti THORChain atau jembatan tersentralisasi memperketat pengawasan, kelompok peretas terorganisir seperti Lazarus Group terbukti secara konsisten mengalihkan rute operasional mereka ke jembatan berbasis mint-and-burn seperti Circle CCTP serta protokol pinjaman multi-rantai. Kecepatan eksekusi transfer yang memanfaatkan puluhan alamat perantara membuktikan bahwa sistem pertahanan otomatis industri saat ini masih rentan kewalahan menghadapi teknik pengaburan likuiditas tingkat tinggi.
Para pakar keamanan siber Web3 memperingatkan bahwa protokol keuangan terdesentralisasi perlu memperkuat koordinasi sinyal darurat antar-ekosistem, mulai dari integrasi feed intelijen ancaman real-time hingga mekanisme jeda transaksi adaptif pada dompet berisiko tinggi. Tanpa adanya standardisasi pembekuan kolaboratif yang melintasi jaringan Layer-1 dan jembatan lintas rantai, pelaku kejahatan siber negara akan terus mengeksploitasi celah desentralisasi untuk memutar aset curian mereka secara leluasa.
Sumber: TokenPost



