Penyelidikan atas peretasan terbesar dalam sejarah industri kripto terhadap bursa Binance senilai $6,4 miliar kini memasuki babak baru dengan keterlibatan langsung dua badan penegak hukum federal terkuat Amerika Serikat, yakni Biro Investigasi Federal (FBI) dan United States Secret Service. Langkah agresif ini diperkuat oleh tindakan cepat dari penerbit stablecoin terkemuka dunia, di mana Circle mengonfirmasi telah membekukan lebih dari $823 juta USD Coin (USDC) yang terhubung langsung dengan dompet digital peretas. Bersama pembekuan Tether sebelumnya, otoritas dan mitra industri kini berhasil melumpuhkan miliaran dolar aset jarahan di atas blockchain, mempersempit ruang gerak kelompok siber sebelum dana tersebut dialihkan ke jaringan pencucian uang lintas negara.
Kolaborasi Penegak Hukum Federal AS dan Satgas Siber Global
Keterlibatan FBI dan Secret Service menandai eskalasi drastis dalam perburuan dana hasil eksploitasi Binance yang terjadi pada akhir Oktober 2026. Laporan eksklusif Reuters mengonfirmasi bahwa manajemen Binance secara proaktif membuka koordinasi intensif dengan berbagai lembaga penegak hukum internasional, dengan fokus utama pada otoritas keamanan federal Amerika Serikat. Juru bicara FBI menyatakan bahwa lembaganya telah memantau insiden ini secara cermat dan bekerja sama dengan mitra sektor publik maupun swasta guna menilai cakupan pelanggaran sistem serta menyelaraskan langkah investigasi forensik digital.
Meskipun Secret Service lebih dikenal publik melalui tugas pengawalan kepresidenan, badan federal tersebut memiliki mandat undang-undang yang kuat dalam menindak kejahatan keuangan terorganisir, akses ilegal ke sistem komputer perbankan, dan tindak pidana yang melibatkan aset digital. Jejak kolaborasi antara Secret Service dan industri kripto sebelumnya tercatat dalam Operasi Atlantic pada April lalu, sebuah operasi gabungan bersama National Crime Agency (NCA) Inggris, Binance, dan Coinbase yang sukses mengidentifikasi 20.000 korban peretasan serta menyita puluhan juta dolar aset kripto. Sinergi ini kini dikerahkan kembali dengan kapasitas penuh untuk melacak aliran transaksi onchain Binance yang sangat kompleks.
Pembekuan Masif Circle dan Tether Lumpuhkan Likuiditas Peretas
Di lini pertahanan infrastruktur blockchain, penerbit stablecoin memainkan peran sentral yang luar biasa dalam membatasi dampak kerugian. Chief Executive Officer Circle, Jeremy Allaire, secara terbuka mengonfirmasi bahwa perusahaannya telah memasukkan sejumlah alamat dompet peretas ke dalam daftar hitam (blacklist), sehingga berhasil membekukan aset senilai lebih dari $823 juta dalam bentuk USDC. Langkah pembekuan terkoordinasi ini dilakukan menyusul tindakan serupa oleh Tether, di mana CEO Paolo Ardoino mengungkapkan bahwa Tether telah melumpuhkan lebih dari 1,567 miliar USDT yang teridentifikasi terkait dengan transaksi penyerang.
Secara teknis, kontrak pintar (smart contract) dari kedua penerbit stablecoin terpusat ini memiliki fungsi pembekuan terprogram yang memungkinkan penerbit memutus izin transfer token dari dompet tertentu tanpa memerlukan persetujuan pemilik kunci privat. Kemampuan ini menjadi instrumen penyelamat krusial yang menghentikan upaya peretas untuk menukarkan stablecoin ke aset non-freezable seperti Ethereum melalui bursa terdesentralisasi (DEX) atau protokol peminjaman otomatis. Secara kumulatif, kemitraan antara penerbit stablecoin, protokol DeFi, dan bursa telah mengamankan sekitar $3 miliar aset curian dari peredaran bebas.
Jejak Hacker Korea Utara dan Komitmen Pemulihan Penuh Binance
Fokus investigasi federal kini tertuju tajam pada kelompok peretas elit TraderTraitor yang berafiliasi dengan badan intelijen siber Korea Utara. Firma analitik intelijen blockchain terkemuka seperti TRM Labs dan Chainalysis sama-sama mengidentifikasi pola transaksi dan infrastruktur pencucian uang serangan ini identik dengan taktik TraderTraitor, kelompok yang sebelumnya mendalangi pembobolan bursa Bybit senilai $1,5 miliar pada Februari 2025. Penyelidikan internal Binance mengungkap bahwa penyerang memanfaatkan celah delegasi EIP-7702 dan mengeksekusi mekanisme destruksi otomatis setelah menyusupi laptop seorang insinyur DevOps perusahaan.
Chief Executive Officer Binance, Richard Teng, menegaskan bahwa tidak ada bukti kebocoran kunci privat (private keys) pada dompet utama bursa, dan seluruh dana nasabah tetap berada dalam kondisi aman. Untuk menjamin pemulihan saldo secara total, Binance telah mengalokasikan cadangan likuiditas internal dan dana darurat Secure Asset Fund for Users (SAFU) senilai lebih dari $6,34 miliar guna menutupi seluruh defisit aset yang belum terselamatkan. Manajemen bursa menargetkan pembukaan kembali layanan deposit dan penarikan secara bertahap pada hari Minggu setelah peninjauan infrastruktur keamanan selesai dilakukan.
Sumber: Decrypt, Reuters



