Latar Belakang Pelarangan CFTC
Polymarket, platform prediksi berbasis blockchain terbesar di dunia, secara resmi melakukan comeback ke pasar Amerika Serikat setelah absen selama empat tahun akibat pelarangan oleh Commodity Futures Trading Commission (CFTC). Kembalinya Polymarket ditandai dengan kampanye pemasaran berskala besar yang menggandeng kreator konten, influencer media sosial, serta sejumlah mitra strategis dari industri olahraga dan media.
Empat tahun lalu, Polymarket menyetujui untuk berhenti melayani pelanggan AS sebagai bagian dari penyelesaian senilai $1,4 juta dengan CFTC. Regulator saat itu menuding platform tersebut menawarkan derivatif berbasis peristiwa atau event-based derivatives tanpa registrasi yang sah. Situasi semakin memanas pada akhir 2024 ketika otoritas penegak hukum federal menggerebek kediaman CEO Polymarket, Shayne Coplan, dalam investigasi apakah platform tetap melayani pengguna AS meskipun sudah ada kesepakatan larangan. Investigasi oleh jaksa federal dan CFTC tersebut akhirnya dihentikan tujuh bulan kemudian tanpa dakwaan, menyusul perubahan administrasi kepresidenan di Amerika Serikat.
Strategi Comeback dan Kemitraan Besar
Proses rehabilitasi Polymarket di pasar AS dimulai pada Desember tahun lalu dengan peluncuran aplikasi seluler yang memungkinkan pengguna bertaruh menggunakan uang sungguhan pada acara olahraga di bawah pengawasan ketat CFTC. Langkah ini merupakan buah dari akuisisi QCEX setahun sebelumnya, yang menjadi tiket legal bagi Polymarket untuk kembali menginjakkan kaki di Negeri Paman Sam.
Menurut laporan eksklusif Associated Press pada Rabu (8/7), Polymarket kini mengerahkan tim kreator konten dan influencer untuk memproduksi konten viral di TikTok dan berbagai platform media sosial lainnya. Tidak hanya itu, perusahaan juga telah menandatangani perjanjian kemitraan dengan sejumlah tim olahraga profesional, Major League Baseball (MLB), serta outlet berita raksasa seperti CNBC dan CNN. Langkah ini merupakan bagian dari strategi besar Polymarket untuk meyakinkan pembuat kebijakan, regulator, dan calon pengguna bahwa platform mereka dapat dipercaya.
Dominasi di Media Sosial
Dari sisi metrik, akun X (sebelumnya Twitter) Polymarket kini telah mencapai 1,7 juta pengikut dan aktif memposting konten tentang peristiwa terkini beberapa kali setiap hari. Angka ini jauh melampaui pesaing terdekatnya, Kalshi, yang telah beroperasi di bawah pengawasan CFTC sejak 2020 dan hanya memiliki 431.400 pengikut.
Kontroversi dan Tantangan
Meski demikian, perjalanan comeback Polymarket tidak sepenuhnya tanpa hambatan. Bulan lalu, Wall Street Journal menerbitkan laporan investigasi yang menuding Polymarket menggunakan influencer berbayar untuk mempromosikan trading simulasi dan kemenangan di media sosial tanpa pengungkapan sponsorship yang memadai. Polymarket merespons dengan menyatakan komitmennya untuk menjaga pasar yang akurat, adil, dan transparan.
Dan Lee, Kepala Operasional AS Polymarket, dalam wawancara dengan AP menegaskan bahwa langkah-langkah yang diambil perusahaan akan membantu melegitimasi bisnisnya di mata regulator dan publik. "Saya pikir fakta bahwa bisnis internasional menjadi mayoritas volume sering kali menutupi kemajuan yang kami buat di sini, di AS, untuk memperluas penerimaan Polymarket," ujar Lee.
Dengan infrastruktur regulasi yang kini lebih jelas dan strategi pemasaran agresif, Polymarket berupaya membangun ulang kepercayaan publik dan regulator di pasar terbesarnya. Keberhasilan comeback ini tidak hanya menjadi ujian penting bagi Polymarket, tetapi juga akan menjadi preseden bagi masa depan platform prediksi berbasis kripto di Amerika Serikat secara keseluruhan.



