Bitcoin mengalami tekanan jual signifikan pada perdagangan Rabu (8/7), ambles 3,5% dan mendekati level support kritis $60.000. Kombinasi tiga faktor besar menjadi pemicu utama kejatuhan ini: memanasnya kembali konflik AS-Iran yang mendorong harga minyak melonjak, kekhawatiran pasar obligasi Jepang, serta aksi jual Bitcoin senilai $216 juta oleh Strategy (MSTR).
Konflik AS-Iran Memanas, Minyak Melonjak
Harga Bitcoin sempat mencoba merebut kembali level $64.500 pada awal pekan, namun gagal bertahan. Berbeda dengan indeks Nasdaq yang berhasil memangkas sebagian kerugiannya pada hari Rabu, Bitcoin justru tidak mampu bangkit dari level $62.000. Underperform ini mengindikasikan adanya tekanan spesifik yang membebani aset kripto tersebut.
Presiden AS Donald Trump secara resmi menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah "berakhir" setelah militer AS melancarkan serangan terhadap situs-situs Iran. Deklarasi ini memicu lonjakan harga minyak mentah Brent ke level $74 per barel, naik dari $68 pada pekan sebelumnya. Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi baru dan secara langsung mengurangi kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga pada September kini mencapai 69%, naik drastis dari 42% sebulan sebelumnya. Lingkungan suku bunga tinggi ini menjadi beban berat bagi aset berisiko seperti Bitcoin, yang masih belum dipersepsikan sebagai aset lindung nilai yang efektif oleh pasar.
Strategy Jual $216 Juta, Investor Cemas
Dari sisi institusional, Strategy — perusahaan pemegang Bitcoin terbesar — mengejutkan pasar dengan mengumumkan penjualan 3.588 BTC senilai $216 juta. Yang lebih mengkhawatirkan, penjualan ini dilakukan di luar Monetization Program senilai $1,25 miliar yang sudah lebih dulu diumumkan. Investor kini khawatir Strategy akan terus menjual kepemilikan Bitcoin-nya untuk mengelola struktur permodalan dan kewajiban utang, termasuk dividen tahunan sebesar $1,76 miliar dan utang konversi senilai $3,8 miliar yang jatuh tempo sebelum April 2027.
Makroekonom Lyn Alden mengomentari situasi ini dengan menegaskan bahwa Bitcoin harus mampu berdiri sendiri tanpa bergantung pada pembelian institusional besar.
Tekanan Global: Jepang, India, dan Perang Dagang
Dari Asia, tekanan tambahan datang dari Jepang di mana imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun melonjak ke level tertinggi 30 tahun. Jepang sebagai pemegang terbesar US Treasuries asing menambah risiko penularan global. Di saat yang sama, Reserve Bank of India (RBI) kembali menegaskan sikap hawkish-nya dengan mendorong larangan aktivitas kripto demi stabilitas keuangan.
Presiden Trump juga menambah ketegangan perdagangan global dengan menyerukan penghentian perdagangan AS dengan Spanyol dalam KTT NATO, menyebut sekutu kuncinya itu sebagai "penyebab sia-sia" karena gagal memenuhi target belanja pertahanan. Friksi perdagangan ini berisiko memperlambat aktivitas ekonomi global dan memperkuat kekhawatiran kontraksi.
Dengan sentimen pasar yang rapuh akibat ketidakstabilan geopolitik, prospek kebijakan moneter AS yang lebih ketat, dan kebutuhan kas Strategy yang berkelanjutan, pengujian ulang support $60.000 menjadi semakin mungkin dalam waktu dekat. Para analis memperingatkan bahwa jika level ini gagal bertahan, koreksi lebih dalam dapat terjadi.
Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset independen sebelum mengambil keputusan keuangan.



