Bank of Korea (BOK) resmi meluncurkan survei investigasi mendalam terhadap 31 lembaga keuangan terkemuka di Korea Selatan guna memetakan potensi risiko sistemik dari keterpaparan pasar aset virtual pada Senin (2/11/2026). Langkah bank sentral ini melibatkan 18 bank komersial dan 13 perusahaan pialang efek, yang diwajibkan menyetorkan laporan komprehensif mengenai kesiapan permodalan, alokasi anggaran, hingga skenario terburuk jika bursa kripto terbesar di negara tersebut mengalami gangguan operasional fatal atau peretasan masif.
Skenario Stres Likuiditas dan Simulasi Kelumpuhan Bursa
Fokus utama kuesioner BOK mencakup simulasi tekanan ekstrem (stress test) yang belum pernah dilakukan sebelumnya secara resmi di sektor keuangan domestik. Dalam salah satu modul pengujian, BOK meminta bank dan sekuritas memperhitungkan efek domino jika platform pertukaran aset kripto terbesar di Korea Selatan, seperti Upbit, tiba-tiba menghentikan layanan perdagangan akibat serangan siber atau kegagalan infrastruktur kritis. Lembaga keuangan diminta mengukur seberapa cepat penarikan dana investor dapat menekan likuiditas perbankan yang menjadi mitra rekening nama asli (real-name accounts).
Selain skenario kelumpuhan operasional bursa utama, bank sentral juga menuntut analisis mitigasi apabila terjadi penurunan tajam harga kripto secara berkepanjangan yang memicu krisis volume perdagangan. Simulasi tersebut turut mencakup risiko penularan (contagion risk) antarlembaga, di mana kerugian besar yang dialami oleh satu entitas keuangan akibat eksposur aset digital berpotensi merembet ke stabilitas sistem finansial konvensional secara menyeluruh. Seluruh 31 institusi diwajibkan mengembalikan tanggapan resmi sebelum batas waktu pada Rabu (4/11/2026).
Pemetaan Anggaran, Personel, dan Proyek Inovasi Stablecoin
Survei BOK tidak hanya terbatas pada instrumen manajemen risiko pasif, melainkan juga menelusuri secara terperinci keterlibatan aktif institusi keuangan dalam industri Web3. Dokumen evaluasi membedah jumlah staf khusus kripto, besaran anggaran teknologi yang dialokasikan, motif strategis memasuki pasar aset digital, hingga portofolio investasi modal ventura yang telah disalurkan ke perusahaan kripto domestik maupun internasional. Data ini dihimpun untuk memberikan visibilitas penuh kepada regulator mengenai seberapa dalam institusi finansial telah terintegrasi dengan ekosistem terdesentralisasi.
Pengawasan ketat ini berlangsung di tengah maraknya eksperimen stablecoin oleh perbankan besar Korea Selatan. Sebagai contoh, KB Financial Group telah menyelesaikan proyek percontohan stablecoin berbasis won pada Mei lalu, sementara Kakao Pay dan KakaoBank menjalin kemitraan strategis dengan Fireblocks pada September guna membangun infrastruktur kustodi digital. Bank of Korea secara konsisten mendorong agar penerbitan stablecoin dipimpin oleh perbankan berizin, kendati perdebatan yuridis mengenai kriteria penerbit masih memperlambat pengesahan Undang-Undang Dasar Aset Digital (Digital Asset Basic Act). Pejabat BOK menegaskan bahwa lembaga keuangan telah mengambil inisiatif mandiri mendahului rampungnya kerangka undang-undang resmi.
Pengetatan Keamanan Siber Finansial Pasca Gelombang Peretasan
Kendati kuesioner telah didistribusikan sejak 23 Oktober, urgensi pengawasan risiko aset kripto kian memuncak setelah industri global diguncang insiden peretasan Binance senilai $6,3 miliar pada akhir Oktober yang dikaitkan otoritas AS dengan kelompok peretas Korea Utara. Kerentanan pada jembatan lintas rantai dan manipulasi kontrak pintar mempertegas kekhawatiran regulator bahwa celah teknologi pada sektor kripto dapat dimanfaatkan oleh aktor jahat untuk menembus batas-batas keamanan sistem keuangan konvensional.
Komisi Jasa Keuangan (FSC) Korea Selatan sendiri telah memperketat standar kepatuhan keamanan informasi setelah audit menemukan kelemahan siber pada 130 dari 555 entitas keuangan yang diperiksa bulan lalu. FSC mengusulkan kewajiban asesmen kerentanan berkala serta penguatan tanggung jawab hukum jajaran eksekutif, menyusul serangkaian insiden keamanan yang melibatkan 16 perusahaan teknologi finansial dan bursa kripto. Langkah terkoordinasi antara BOK dan FSC ini mencerminkan komitmen tegas otoritas Seoul dalam membentengi stabilitas makroekonomi dari volatilitas tak terduga di pasar aset digital.



