Bitcoin

Whale Bitcoin Serok Rp273 Triliun Saat ETF Cetak Rekor Outflow

Whale Bitcoin Serok Rp273 Triliun Saat ETF Cetak Rekor Outflow

Key Takeaways

Whale Bitcoin mengakumulasi 270.000 BTC senilai Rp273 triliun dalam dua pekan terakhir, saat ETF spot AS justru mencatat rekor outflow $4,06 miliar di bulan Juni.

Di tengah tekanan jual masif dari institusi Amerika Serikat, para pemegang besar Bitcoin atau whale justru bergerak agresif mengakumulasi lebih dari 270.000 BTC dalam dua pekan terakhir. Nilai akumulasi tersebut mencapai sekitar $16,7 miliar atau setara Rp273 triliun, menciptakan divergensi tajam antara arus keluar ETF dan aktivitas dompet besar.

Rekor Outflow ETF Bitcoin Spot AS

Fenomena ini semakin menarik karena terjadi bersamaan dengan bulan terburuk ETF Bitcoin spot AS sepanjang sejarah. Data menunjukkan bahwa sepanjang Juni 2026, ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar bersih sebesar $4,06 miliar—memecahkan rekor sebelumnya sebesar $3,56 miliar yang terjadi pada Februari 2025. Akibatnya, untuk pertama kalinya di tahun 2026, total aliran dana ETF Bitcoin AS secara kumulatif berubah menjadi negatif.

Meski demikian, sentimen mulai menunjukkan tanda perbaikan tipis pada awal Juli. Pada hari Kamis, 2 Juli 2026, ETF Bitcoin spot AS akhirnya mencatat aliran masuk bersih sebesar $221 juta, memutus rentetan arus keluar selama 10 hari berturut-turut yang sebelumnya telah menguras sekitar $2,7 miliar dari produk investasi tersebut.

Akumulasi Whale dan Pola Historis

Menurut analis dari bursa kripto Bitfinex yang membagikan data ini kepada CoinDesk, akumulasi whale berlangsung saat "spot premium"—indikator yang mengukur seberapa agresif pembeli AS melakukan bid—tetap berada di zona negatif. Artinya, pembelian besar-besaran ini tidak berasal dari meja perdagangan spot konvensional, melainkan kemungkinan dari transaksi over-the-counter (OTC) dan akumulasi diam-diam oleh investor jangka panjang.

Pola divergensi antara institusi yang menjual dan pemegang besar yang mengakumulasi ini bukanlah hal baru dalam sejarah Bitcoin. Secara historis, fenomena serupa kerap muncul di sekitar titik terendah siklus pasar (cycle bottom), di mana pemegang jangka panjang menyerap koin dari tangan penjual sebelum pemulihan harga benar-benar terjadi.

Solana Jadi Pengecualian, L2 Ethereum Tertekan

Di sisi lain, tidak semua aset kripto bernasib sama. Solana (SOL) mencuri perhatian dengan kenaikan sekitar 15% sejak awal Juni, bahkan ketika Bitcoin menyentuh level terendah dalam 21 bulan. Ketahanan SOL ditopang oleh peningkatan protokol dan lonjakan transfer aset dunia nyata yang ditokenisasi (tokenized real-world assets) sebesar 120% menjadi $8,53 miliar di jaringan Solana.

Sementara itu, token Layer 2 Ethereum seperti Optimism justru tertekan ke level terendah sepanjang masa. Pemicunya adalah keputusan Base, jaringan Layer 2 milik Coinbase, yang menghapus penggunaan teknologi bersama Optimism, sehingga menghilangkan argumen fee-capture yang selama ini menopang valuasi token L2.

Prospek ke Depan: Inflasi AS Jadi Kunci

Ke depan, pasar akan sangat bergantung pada rilis data inflasi AS berikutnya. Inflasi bulan Mei tercatat cukup tinggi di level 4,2%, namun komentar Ketua Federal Reserve Christopher Warsh di forum ECB Sintra bahwa "risiko inflasi telah mereda" sempat memberi sedikit angin segar bagi aset berisiko termasuk Bitcoin. Jika data inflasi berikutnya menunjukkan pendinginan, narasi suku bunga The Fed berpotensi bergeser dan menjadi katalis positif bagi Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan.

Sumber: CoinDesk

Disclaimer

Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai nasihat keuangan, investasi, atau trading. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi. Selalu lakukan riset mendalam (DYOR - Do Your Own Research) sebelum berinvestasi dalam aset kripto atau digital.

Komentar (0)

Silakan login untuk bergabung dalam diskusi.

Login untuk Komentar