Raksasa perbankan Amerika Serikat Wells Fargo bersama lima emiten terkemuka lainnya resmi mengajukan keberatan formal atas rencana pencatatan saham tertokenisasi di platform OKXICE pada Jumat (23/10/2026). Langkah penolakan terbaru ini menambah total 22 korporasi publik yang menggunakan hak veto emiten untuk keluar dari inisiatif bursa ekuitas berbasis blockchain tersebut. OKXICE merupakan entitas patungan strategis antara bursa kripto global OKX dan Intercontinental Exchange (ICE), perusahaan induk dari New York Stock Exchange (NYSE). Mengacu pada laporan Reuters, penolakan ini diajukan di bawah kerangka kerja Innovation Exemption lima tahun yang diterbitkan oleh Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), di mana emiten diberikan jendela waktu 30 hari untuk menolak keterlibatan saham mereka dalam perdagangan sekuritas digital on-chain.
Penolakan Masif Emiten dan Hak Veto 30 Hari SEC
Pendaftaran keberatan dari Wells Fargo, perancang cip semikonduktor Arm Holdings, serta pengembang perangkat lunak finansial Intuit menyusul langkah serupa yang sebelumnya telah diambil oleh emiten raksasa seperti Alphabet (induk Google) dan Microsoft. Di bawah skema Innovation Exemption yang disahkan SEC pada September 2026, platform perdagangan sekuritas tertokenisasi (Tokenized Securities Venues/TSVs) diizinkan memperdagangkan saham publik selama 24 jam sehari dan 7 hari sepekan dengan penyelesaian transaksi instan (T+0). Namun, regulasi tersebut memuat klausul hak veto emiten (narrow issuer veto) yang mewajibkan bursa memberikan tenggat waktu 30 hari kalender bagi emiten untuk mengajukan opsi keluar (opt-out).
Jika emiten tidak mengajukan penolakan resmi dalam jendela waktu tersebut, saham mereka dianggap disetujui secara default untuk dicatatkan dalam bentuk token digital. Dari total 62 emiten publik terkemuka yang awalnya diajukan oleh OKXICE dalam berkas pendaftaran ke SEC pada awal Oktober, kini sebanyak 22 perusahaan atau lebih dari sepertiga portofolio awal telah memilih keluar dari proyek percontohan tersebut. Fakta ini memperlihatkan kehati-hatian mendalam dari dewan direksi perusahaan publik konvensional terhadap model perdagangan saham sintetis maupun representasi token on-chain yang belum teruji secara menyeluruh di pasar modal global.
Kekhawatiran Likuiditas Terfragmentasi Panduan Nasdaq
Secara demografi pasar, mayoritas penolakan datang dari perusahaan yang tercatat di bursa Nasdaq. Dari 22 emiten yang menolak, sebanyak 16 perusahaan merupakan konstituen Nasdaq, sementara hanya 6 perusahaan yang berasal dari papan pencatatan NYSE. Fenomena ini mencerminkan sikap hati-hati yang dipicu oleh panduan resmi Nasdaq yang dirilis pada akhir September 2026 mengenai partisipasi emiten dalam program Innovation Exemption SEC. Dalam panduan tersebut, Nasdaq secara eksplisit memperingatkan para emiten publik agar bersikap sangat waspada terhadap risiko fragmentasi likuiditas dan distorsi pembentukan harga.
Nasdaq menekankan bahwa konsekuensi negatif terhadap likuiditas pasar primer, efisiensi penemuan harga (price discovery), serta nilai pemegang saham jangka panjang mungkin baru akan terlihat jelas setelah eksperimen on-chain berjalan lama. Pemisahan likuiditas antara bursa reguler dan jaringan blockchain dikhawatirkan dapat memicu selisih harga (arbitrage spreads) yang merugikan investor ritel serta memicu volatilitas liar di luar jam perdagangan reguler bursa Wall Street. Selain itu, belum adanya standardisasi mekanisme hak suara pemegang saham (proxy voting) bagi pemilik token saham digital memperkuat keraguan tim hukum korporasi besar untuk berpartisipasi pada tahap awal.
Respon Pimpinan OKXICE dan Dinamika Bursa On-Chain
Menanggapi gelombang penolakan dari korporasi terkemuka Wall Street, Co-Chair OKXICE yang juga mantan Gubernur New York, Andrew Cuomo, menegaskan bahwa manajemen telah mengantisipasi dinamika ini sejak awal pengajuan berkas. Dalam wawancaranya, Cuomo menyatakan bahwa penolakan tersebut adalah respons alamiah dari perusahaan besar yang enggan menjadi pihak pertama yang dijadikan kelinci percobaan dalam model pasar modal baru. Manajemen OKXICE memahami kehati-hatian emiten, namun tetap optimistis bahwa efisiensi operasional dari infrastruktur distributed ledger technology (DLT) akan membuktikan keunggulannya seiring berjalannya waktu dan maturitas infrastruktur kustodi institusional.
Meskipun juru bicara Wells Fargo dan Arm Holdings menolak memberikan komentar resmi, serta Intuit belum merespons pertanyaan media, perkembangan ini menjadi ujian penting bagi kepemimpinan Ketua SEC Paul Atkins. Di bawah arahan Atkins, SEC berupaya merangkul inovasi keuangan terdesentralisasi melalui dispensasi regulasi bersyarat guna mewujudkan ambisi Amerika Serikat sebagai pusat kripto dunia. Namun, keberhasilan integrasi saham publik ke rel teknologi terdesentralisasi kini sangat bergantung pada kemampuan operator bursa seperti OKXICE untuk meyakinkan emiten bahwa likuiditas, tata kelola korporasi, dan perlindungan investor tetap terjamin setara dengan sistem kliring kliring sentral konvensional.
Sumber: CoinTelegraph



