Laporan riset terbaru dari Galaxy Research mengungkapkan pergeseran struktural besar dalam kepemilikan Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat sepanjang tahun 2026. Sembilan institusi keuangan raksasa Wall Street yang terdiri dari hedge fund multi-strategi dan bank investasi terkemuka memangkas kepemilikan mereka sebesar 68.000 BTC, setara dengan sekitar US$5,4 miliar (Rp85,3 triliun). Namun, di tengah pelepasan aset skala besar tersebut, likuiditas pasar langsung diserap oleh dana kekayaan negara (sovereign wealth funds) dari Timur Tengah serta divisi pengelolaan kekayaan institusional, menandai transisi penting dari modal spekulatif jangka pendek menuju investasi strategis berjangka panjang.
Sembilan Raksasa Wall Street Lepas Posisi ETF Bitcoin Spot
Berdasarkan analisis terhadap dokumen 13F yang diajukan ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC), sembilan institusi yang memangkas portofolio mereka secara signifikan mencakup Millennium Management, Brevan Howard, Goldman Sachs, Capula Management, Farallon Capital, D.E. Shaw, Schonfeld Strategic Advisors, Symmetry Investments, dan Tudor Investment. Institusi-institusi tersebut memangkas eksposur mereka antara 29 persen hingga 100 persen penuh, yang berkontribusi terhadap penurunan kepemilikan bersih di kalangan seluruh pelapor 13F dari 355.000 BTC pada September 2025 menjadi 307.000 BTC pada Juni 2026.
Meskipun sembilan raksasa tersebut melepas 68.000 BTC, total penurunan kepemilikan di seluruh pelapor 13F hanya tercatat sebesar 48.000 BTC (turun sekitar 14 persen). Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa sekitar 2.200 institusi pelapor lainnya justru mengakumulasi sekitar 20.000 BTC secara agregat, bernilai sekitar US$1,6 miliar pada periode yang sama. Selain itu, kelompok penasihat keuangan independen, kantor pengelola keluarga (family office), dan investor ritel yang tidak diwajibkan melapor 13F menunjukkan ketahanan luar biasa dengan hanya mengurangi kepemilikan sebesar 6,6 persen ketika harga pasar Bitcoin mengalami koreksi tajam.
Penurunan Spread Arbitrase Cash and Carry Jadi Pemicu Utama
Kepala Riset Perusahaan di Galaxy Research, Alex Thorn, menegaskan bahwa gelombang pelepasan aset oleh meja perdagangan institusional tersebut bukan dipicu oleh hilangnya keyakinan terhadap fundamental jangka panjang Bitcoin. Sebaliknya, aksi likuidasi murni didorong oleh penutupan strategi arbitrase cash-and-carry seiring menyempitnya spread imbal hasil antara harga ETF spot dengan kontrak berjangka CME Bitcoin futures.
Strategi cash-and-carry bekerja dengan membeli saham ETF Bitcoin spot sekaligus membuka posisi short pada kontrak berjangka untuk mengunci selisih harga (basis). Pada masa puncak reli sebelum rekor tertinggi Bitcoin, basis bulan depan (front-month basis) menghasilkan rata-rata 7,9 persen secara tahunan, atau 3,9 poin persentase di atas imbal hasil Surat Utang Negara AS (Treasury bills). Namun, dalam 30 hari hingga akhir Oktober 2026, basis tersebut menyusut drastis menjadi rata-rata 4,8 persen, hanya terpaut 0,6 poin persentase di atas suku bunga kas bebas risiko.
"Aritmatika tersebut, bukan pergerakan harga Bitcoin, yang menjadi alasan utama mengapa meja perdagangan multi-strategi memutuskan untuk hengkang," tulis Alex Thorn dalam laporan resminya. Setelah memperhitungkan beban biaya transaksi, biaya pemindahan kontrak (rolling costs), dan kewajiban margin leverage, potensi keuntungan bersih dari strategi arbitrase hanya menyisakan surplus sekitar 1,5 persen di atas kas tunai, sehingga rasio imbal hasil terhadap risiko ekor (tail risk) tidak lagi menarik bagi para pengelola dana kuantitatif.
Masuknya Sovereign Wealth Fund dan Akumulasi Terarah
Di saat modal arbitrase Wall Street keluar, kelompok pembeli strategis dengan cakrawala investasi multi-tahun mengambil alih porsi kepemilikan tersebut. Data pengajuan institusional mengonfirmasi bahwa divisi wealth management Morgan Stanley, bersama entitas dana abadi negara terkemuka Uni Emirat Arab seperti Mubadala Investment Company dan Abu Dhabi Investment Council (ADIC), tercatat sebagai pembeli aktif yang menyerap pasokan ETF Bitcoin spot di pasar sekunder.
Dinamika ini juga tercermin secara gamblang pada data pasar derivatif Commodity Futures Trading Commission (CFTC). Posisi beli bersih (net long) manajer aset pada kontrak berjangka CME Bitcoin tercatat turun 57 persen dari 43.300 BTC menjadi 18.400 BTC. Pada saat yang sama, posisi jual bersih (net short) dana ber-leverage—yang merepresentasikan sisi lindung nilai dari carry trade—menyusut dari 71.400 BTC menjadi 30.600 BTC, menandai normalisasi total dari eksposur leverage sintetis.
Galaxy Research mencatat bahwa sejak menyentuh titik terendah likuiditas pada Juni 2026, arus modal ke dalam ETF Bitcoin spot telah mencatatkan penambahan akumulasi bersih sebesar 87.000 BTC. Arus modal terbaru ini diklasifikasikan sebagai "directional buying" atau akumulasi langsung tanpa lindung nilai, yang menunjukkan penguatan basis pemegang institusional sejati menjelang siklus adopsi makro berikutnya.



