Setelah berbulan-bulan negosiasi di balik layar dan spekulasi yang beredar di koridor Kongres, Rancangan Undang-Undang Digital Asset Market Clarity Act akhirnya memasuki babak baru. Sejumlah sumber yang dekat dengan proses pembahasan mengonfirmasi kepada CoinDesk bahwa versi terbaru dari regulasi pasar kripto paling ambisius di Amerika Serikat ini akan dirilis pada pekan ini, tepatnya sekitar 14–18 Juli 2026.
Draf Baru dengan 70 Halaman Tambahan
Rumor tentang matinya Clarity Act ternyata sangat dilebih-lebihkan. RUU yang sejak awal digadang-gadang sebagai kerangka regulasi komprehensif pertama bagi aset digital di AS ini menggabungkan dua versi berbeda yang sebelumnya lolos dari komite Senat Bidang Perbankan dan Senat Bidang Pertanian. Versi gabungan ini disebut memiliki tambahan sekitar 70 halaman dibanding draf sebelumnya, mencerminkan kompleksitas negosiasi yang telah berlangsung intensif.
Namun, lahirnya draf baru bukan berarti jalan mulus sudah terbuka. Justru sebaliknya: tantangan terbesar masih menanti. Salah satu isu paling krusial yang hingga kini belum terselesaikan adalah ketentuan etika (ethics provision). Tanpa klausul etika yang memadai—terutama terkait konflik kepentingan Presiden Donald Trump yang tahun lalu meraup keuntungan sekitar 1,4 miliar dolar AS dari aset kripto—sejumlah anggota Senat dari Partai Demokrat diperkirakan tidak akan memberikan suara dukungan.
Lolos Butuh 60 Suara Senat
Pemimpin Mayoritas Senat John Thune sebelumnya menyatakan kepada Punchbowl News bahwa ia bersedia membawa RUU ini ke pemungutan suara di lantai Senat pada bulan Juli. Rumor yang beredar menyebutkan bahwa voting bisa dijadwalkan pada minggu 20 Juli atau 27 Juli. Untuk lolos, RUU ini membutuhkan setidaknya 60 suara di Senat, yang berarti minimal tujuh Senator Demokrat harus mendukungnya. Ini bukan tugas ringan di tengah atmosfer politik yang kian memanas menjelang pemilu paruh waktu (midterm election) pada 3 November 2026.
Jarak waktu yang kurang dari empat bulan menuju pemilu paruh waktu menambah tekanan bagi kedua belah pihak. Para anggota Kongres harus berhadapan dengan basis pendukung mereka setelah reses musim panas, dan sikap terhadap regulasi kripto bisa menjadi isu kampanye yang tajam. Organisasi advokasi seperti Stand With Crypto diperkirakan akan aktif menilai (scoring) hasil voting, dan industri kripto dipastikan akan mengingatkan para politisi tentang ratusan juta dolar yang dimiliki komite aksi politik (PAC) pro-kripto.
Larangan CBDC Singkirkan Satu Hambatan
Di sisi lain, satu hambatan potensial telah tersingkirkan. Sebuah ketentuan dalam RUU perumahan yang secara otomatis menjadi undang-undang pada Sabtu dini hari lalu telah melarang Federal Reserve menerbitkan Central Bank Digital Currency (CBDC) setidaknya hingga tahun 2030. Ini mengurangi tekanan bagi anggota DPR dari Partai Republik yang sebelumnya ingin menyelipkan larangan CBDC ke dalam Clarity Act, yang akan semakin memperumit proses negosiasi.
Komite Jasa Keuangan DPR juga dijadwalkan menggelar sidang subkomite aset digital di New York pada hari Jumat pekan ini untuk membahas Clarity Act. Ini menjadi sinyal bahwa meskipun waktu semakin sempit, upaya untuk mendorong RUU ini tetap berjalan di berbagai lini.
Dampak Global dan Penutup
Bagi industri kripto global, Clarity Act bukan sekadar urusan domestik AS. Kepastian regulasi di pasar terbesar dunia ini akan menjadi patokan bagi negara-negara lain yang sedang menyusun kerangka aturan serupa. Jika RUU ini berhasil lolos tahun ini, lanskap aset digital akan berubah secara fundamental. Jika gagal, ketidakpastian regulasi bisa berlanjut hingga tahun-tahun mendatang, memperlambat inovasi dan adopsi institusional.
Dengan waktu yang terus berdetak dan dinamika politik yang sulit diprediksi, pekan ini bisa menjadi momen penentu bagi masa depan regulasi kripto di Amerika Serikat.
Sumber: CoinDesk – "Signs of life?: State of Crypto" oleh Nikhilesh De (12 Juli 2026)



