Bank investasi raksasa Wall Street, Morgan Stanley, resmi mengonversi saham ekuitas dan surat utang negara Amerika Serikat (U.S. Treasuries) ke dalam bentuk token digital berbasis blockchain. Langkah bersejarah ini dijalankan melalui integrasi platform Tokenization Service (DTS) yang dikembangkan oleh The Depository Trust and Clearing Corporation (DTCC), lembaga kliring dan kustodi efek sentral terbesar di dunia. Konversi aset konvensional ke dalam representasi on-chain tersebut diumumkan langsung pada Rabu, 4 November 2026, memposisikan Morgan Stanley sebagai salah satu institusi perbankan tier-1 pertama di AS yang secara aktif mengadopsi infrastruktur sekuritas terdesentralisasi skala penuh.
Integrasi Ekuitas dan US Treasury ke Platform DTS DTCC
Pelaksanaan tokenisasi aset riil (real-world assets/RWA) ini menyusul peresmian operasional platform DTS oleh DTCC pada 28 Oktober 2026. Dalam peluncuran perdana tersebut, DTCC merangkul 20 institusi keuangan global terkemuka, termasuk JPMorgan, Citi, Bank of America, Barclays, BNP Paribas, Fidelity Investments, State Street, dan UBS. Sistem baru ini memungkinkan lembaga keuangan terakreditasi untuk menerbitkan representasi digital dari instrumen sekuritas yang telah tersimpan secara resmi di bawah kustodi The Depository Trust Company (DTC), yang saat ini mengelola aset kustodi global melampaui $114 triliun.
Secara teknis, platform tokenisasi DTCC beroperasi pada dua infrastruktur terpisah, yakni jaringan Canton Network dan blockchain privat berbasis Hyperledger Besu milik DTCC, dengan rencana ekspansi integrasi lintas jaringan publik pada awal tahun 2027. Sesuai dengan ketentuan kerangka kerja DTCC, seluruh sekuritas yang ditokenisasi tetap mempertahankan hak ekonomi, kepemilikan yuridis sah, serta proteksi investor yang setara dengan instrumen pasar modal konvensional. Langkah ini didukung penuh oleh persetujuan keringanan regulasi (regulatory relief) yang diterbitkan oleh Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) sejak Desember 2025 untuk instrumen ekuitas, surat utang, dan dana yang diperdagangkan di bursa (ETF).
Persiapan Perdagangan ATS dan Proyeksi Pasar RWA 2030
Keterlibatan aktif Morgan Stanley dalam ekosistem DTCC menjadi fondasi strategis bank dalam menyiapkan infrastruktur perdagangan sekuritas tertokenisasi melalui platform Alternative Trading System (ATS) miliknya. Layanan perdagangan alternatif tersebut dijadwalkan meluncur resmi pada kuartal pertama tahun 2027, setelah sebelumnya sempat ditargetkan pada paruh kedua tahun 2026. Penyesuaian jadwal ini dilakukan demi mematangkan kepatuhan likuiditas serta kesiapan ekosistem dompet kustodi digital internal yang memungkinkan nasabah institusional mengelola portofolio aset tradisional dan on-chain dalam satu sistem terpadu.
Kepala Strategi Aset Digital Morgan Stanley, Amy Oldenburg, menegaskan bahwa pengalaman langsung di lapangan menjadi katalis penting bagi transformasi bank di era Web3. "Pengalaman langsung dalam mengintegrasikan sekuritas tertokenisasi dengan infrastruktur pasar yang telah mapan akan memandu pengembangan berkelanjutan kapabilitas aset digital perusahaan seiring berkembangnya pasar," ujar Oldenburg. Ia juga memproyeksikan bahwa kapitalisasi pasar aset riil tertokenisasi secara global berpotensi melonjak hingga mencapai kisaran $3 triliun hingga $10 triliun pada tahun 2030, dengan instrumen saham privat, surat berharga terstruktur, dan dana investasi sebagai pendorong utama adopsi institusional.
Transformasi Kustodi Perbankan dan Arsitektur Digital Asset Lab
Partisipasi Morgan Stanley dalam proyek DTCC mempertegas keseriusan bank dalam memodernisasi arsitektur perbankan investasi. Sejak September lalu, bank telah mendirikan Digital Asset Lab khusus untuk mengeksplorasi utilitas stablecoin, deposit bank tertokenisasi (tokenized bank deposits), instrumen pasar uang on-chain, serta aplikasi keuangan terdesentralisasi (DeFi). Laboratorium riset terisolasi ini dirancang agar tim teknologi bank dapat menguji coba protokol mutakhir tanpa memaparkan risiko langsung terhadap sistem operasional perbankan utama.
Evolusi ini juga sejalan dengan langkah bursa efek Wall Street lainnya, seperti New York Stock Exchange (NYSE) yang baru saja menggandeng empat agen transfer utama—Broadridge, Computershare, Equiniti, dan Superstate—untuk membangun pasar perdagangan efek berbasis blockchain. Dengan masuknya aset perbendaharaan negara AS dan ekuitas korporasi bernilai triliunan dolar ke dalam buku besar terdistribusi, batas antara sistem kliring konvensional dan rel teknologi blockchain semakin menyatu secara permanen.
Sumber: The Block dan CoinDesk



