Harga Bitcoin (BTC) berhasil memantul kembali ke atas level $78.000 pada perdagangan Rabu (4/11/2026), memulihkan sebagian besar koreksi tajam harian setelah pasar aset digital menyerap hasil pemilu sela Amerika Serikat. Tekanan jual sebelumnya sempat menyeret harga aset kripto terbesar ini ke titik terendah tujuh pekan di $75.618 pada bursa Bitstamp, level terendah sejak pertengahan September 2026. Penurunan kilat tersebut memicu gelombang likuidasi beruntun pada kontrak derivatif bullish seiring kepastian Partai Demokrat merebut kendali penuh atas Kongres AS, sebelum akhirnya aksi beli agresif mengangkat kembali harga BTC ke kisaran $78.400.
Volatilitas Pasar dan Pembilasan Posisi Terungkit
Penurunan harga tajam yang terjadi menjelang penutupan harian pasar global dipicu oleh reaksi spontan pelaku pasar terhadap penghitungan suara pemilu sela AS 2026. Berdasarkan data agregasi pasar TradingView, pasangan perdagangan BTC/USD mengalami penurunan lebih dari 3 persen dalam semalam sebelum berhasil melakukan pemulihan cepat (rebound) lebih dari $2.800 dalam rentang waktu tiga jam perdagangan berikutnya.
Data likuidasi dari platform CoinGlass mencatat bahwa aksi penurunan singkat di bawah ambang batas psikologis $76.000 telah membilas posisi beli (long) terlambat yang menumpuk di pasar derivatif berjangka. Dalam rentang waktu 24 jam terakhir, total likuidasi posisi long di pasar kripto global mendekati angka $288 juta. Kendati demikian, pantulan harga ke area $78.000 kini tertahan oleh dinding pesanan jual (ask wall) yang cukup padat di bursa-bursa spot utama.
Dampak Politik Kongres dan Respon Pelaku Institusi
Sentimen pasar aset digital sempat tertekan menyusul proyeksi kemenangan Partai Demokrat yang berhasil mengamankan kendali mayoritas di Senat maupun Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS. Dinamika politik ini memicu kekhawatiran jangka pendek terhadap kelanjutan inisiatif legislasi pro-kripto seperti RUU CLARITY Act serta potensi pengetatan pengawasan komite parlemen terhadap bisnis aset digital yang terafiliasi dengan administrasi presiden.
Meski demikian, analis institusional menilai bahwa pasar sebenarnya telah mengantisipasi hasil pemilihan tersebut jauh-jauh hari. Kelly Ye, Kepala Riset di platform perdagangan aset digital institusional Talos, menegaskan bahwa pergerakan harga Bitcoin pasca-penutupan tempat pemungutan suara relatif sejalan dengan ekspektasi pasar opsi. Kelly Ye menjelaskan bahwa Bitcoin bergerak sekitar 1,7 persen setelah TPS ditutup, mendekati proyeksi volatilitas 1,8 persen yang telah diperhitungkan oleh pasar opsi, dan tidak terjadi pembilasan leverage berskala masif karena pasar telah bersiap menghadapinya.
Korelasi Pasar Makro dan Proyeksi Belanja Modal AI
Reaksi koreksi yang diikuti pemulihan cepat ini tidak hanya dialami oleh Bitcoin, melainkan juga tercermin pada indeks bursa ekuitas tradisional Wall Street. Kontrak berjangka indeks S&P 500 dan Nasdaq 100 sempat mengalami pelemahan sekitar 0,3 persen sebelum berangsur stabil, memperlihatkan tingkat korelasi makroekonomi yang masih erat antara aset berisiko dan arah kebijakan fiskal pemerintah AS.
Selain faktor hasil pemilu, sentimen pasar modal juga dibayangi oleh evaluasi terhadap kesinambungan belanja modal (capex) sektor kecerdasan buatan dan pusat data. Anthony Saglimbene, Kepala Strategi Pasar di perusahaan jasa keuangan Ameriprise Financial, menyampaikan kepada CNBC bahwa pergeseran kursi kepemimpinan regional dapat memengaruhi iklim investasi infrastruktur komputasi. Anthony Saglimbene mempertanyakan dampak kemenangan kursi gubernur oleh Demokrat terhadap pembangunan pusat data yang belakangan ini telah memicu skeptisisme terkait belanja modal masif penyedia hyperscaler. Ke depan, konsolidasi harga Bitcoin di atas $78.000 menjadi sinyal penting ketahanan struktur pasar kripto di tengah ketidakpastian lanskap regulasi Washington.
Sumber: CoinTelegraph



