Total Value Locked (TVL) di sektor decentralized finance (DeFi) telah mengalami penurunan drastis sebesar 39% sepanjang tahun 2026, menyebabkan lebih dari $45 miliar nilai terkunci menguap dari ekosistem. Data dari platform agregator kripto CryptoRank yang dirilis Rabu (24/6) menunjukkan TVL DeFi kini menyusut ke kisaran $70 miliar, dibandingkan posisi $115 miliar pada awal Januari 2026.
Akar Masalah: Koreksi Pasar Pasca Puncak 2025
Penurunan tajam ini tidak terjadi dalam ruang hampa. CryptoRank mengaitkan penyusutan tersebut dengan koreksi pasar yang lebih luas pasca puncak pasar kripto pada Oktober 2025. Saat itu, Bitcoin sempat mencetak rekor tertinggi baru di atas $122.000 sebelum akhirnya tergelincir dalam siklus deleveraging masif.
Momen krusial terjadi pada 10 Oktober 2025, ketika peristiwa likuidasi besar-besaran menghapus lebih dari $19 miliar posisi leverage hanya dalam satu hari. Peristiwa ini menjadi katalis awal yang mempercepat keluarnya modal dari protokol DeFi secara bertahap.
Namun, CryptoRank menekankan bahwa penurunan saat ini masih jauh lebih ringan dibandingkan dengan bear market 2021-2022, yang menunjukkan bahwa struktur pasar DeFi kini lebih tangguh dan matang.
Eksploitasi Kelp DAO Picu Kepanikan Massal
Eksploitasi Kelp DAO, yang terjadi pada 18 April 2026, menjadi titik balik yang memperburuk keadaan. Serangan terhadap platform restaking tersebut mengakibatkan kerugian sebesar $293 juta dan memicu gelombang kepanikan di kalangan pengguna. Menurut analis riset senior Nansen, Nicolai Søndergaard, insiden ini memadatkan arus keluar modal yang seharusnya terjadi dalam hitungan minggu menjadi hanya beberapa hari.
Data menunjukkan bahwa pengguna Aave menarik sekitar $15 miliar dalam bentuk deposito hanya dalam empat hari setelah eksploitasi Kelp DAO terjadi. Peristiwa ini menjadi pukulan telak bagi sentimen pasar DeFi yang sudah rapuh akibat tekanan pasar yang berkepanjangan.
Rekor Peretasan 2026: 121 Insiden, $942 Juta Raib
Secara keseluruhan, tahun 2026 mencatat 121 insiden peretasan dengan total kerugian sekitar $942 juta year-to-date. Yang lebih mengkhawatirkan, kuartal kedua 2026 tercatat sebagai kuartal dengan jumlah insiden peretasan terbanyak sepanjang sejarah, dengan 83 serangan terhadap protokol kripto.
Meski jumlah nilai yang dicuri menurun dibandingkan kuartal-kuartal sebelumnya — kuartal keempat 2020 masih memegang rekor kerugian terbesar sebesar $3,56 miliar — para ahli memperingatkan agar tidak lengah. Dmytro Matviiv, CEO platform bug bounty HackenProof, menegaskan bahwa penurunan angka bukanlah tanda industri semakin aman.
"Penurunan kerugian agregat sering disalahartikan sebagai kemajuan," ujar Matviiv kepada Cointelegraph. Ia menjelaskan bahwa hanya protokol-protokol terkemuka yang kini lebih sulit dieksploitasi, sehingga peretas memperluas permukaan serangan ke target-target yang lebih kecil dan kurang terlindungi.
Konsolidasi dan Masa Depan DeFi
Di sisi lain, Alvin Kan, Chief Operating Officer Bitget Wallet, melihat adanya dinamika konsolidasi yang menarik. Ia menyatakan bahwa serangan siber memang membuat pengguna lebih berhati-hati, tetapi juga mendorong modal untuk keluar dari protokol "lemah" menuju platform dengan "venue yang lebih kuat dan model imbal hasil yang lebih jelas."
Fenomena ini menandakan bahwa industri DeFi tengah berada dalam fase seleksi alam — protokol dengan fundamental kuat dan keamanan solid akan bertahan, sementara yang lemah akan tersingkir. Konsolidasi ini, meski menyakitkan dalam jangka pendek, dapat menjadi fondasi yang lebih kokoh bagi pertumbuhan DeFi di masa depan.
Dengan TVL yang kini bertengger di sekitar $70 miliar, para pelaku industri dan investor dihadapkan pada pertanyaan krusial: apakah ini titik terendah DeFi, atau masih ada tekanan lebih lanjut yang menanti? Yang jelas, tahun 2026 menjadi ujian berat bagi ketahanan ekosistem keuangan terdesentralisasi.
Sumber: Cointelegraph



