Badan Keamanan Siber Nasional India (CERT-In) bersama divisi tanggap insiden keuangan CSIRT-Fin secara resmi merilis peringatan darurat menyusul eskalasi kampanye spionase dan peretasan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menargetkan bursa kripto serta institusi keuangan. Dalam pembaruan resmi yang dirilis Rabu (5/11/2026), otoritas keamanan siber tersebut menetapkan kelompok peretas ini dengan sandi “CRAFTY FALCON”. Kelompok ini beroperasi dengan memanfaatkan otomatisasi model AI tingkat lanjut untuk mencuri kunci dompet digital dan menguras saldo aset kripto korban secara masif.
CSIRT-Fin mengonfirmasi bahwa ancaman ini berstatus aktif dan terus memakan korban baru, termasuk sejumlah lembaga keuangan non-bank (NBFC) dan perusahaan teknologi finansial (fintech) yang sebelumnya telah menerapkan langkah remediasi. Serangan ini menandai babak baru dalam ancaman siber finansial, di mana pelaku tidak lagi bertumpu pada teknik rekayasa sosial konvensional yang memakan waktu berhari-hari, melainkan mengandalkan kecerdasan buatan untuk mengeksekusi intrusi berskala luas dalam hitungan menit.
Modus Operandi CRAFTY FALCON dan Kecepatan Mesin
Dalam laporan investigasinya, CERT-In mengungkapkan bahwa CRAFTY FALCON memindai infrastruktur target menggunakan kecerdasan mesin (machine intelligence), mengeksekusi perintah pada kecepatan mesin (machine speed), dan membobol sistem dengan mengeksploitasi Application Programming Interface (API) pembayaran serta pencairan dana internal milik korban. Pola serangan ini memicu transaksi pengeluaran dana yang tampak sah di mata protokol internal, sehingga mampu melewati lapisan filter keamanan reguler tanpa memicu sinyal peringatan manual.
Pelaku secara agresif membidik celah kerentanan aplikasi dan lingkungan pengujian (staging/testing environment) yang terekspos ke jaringan publik. Melalui perolehan kredensial dan token akses bersama di server uji coba tersebut, peretas kemudian melakukan eskalasi hak akses (privilege escalation) ke jaringan produksi utama dan menyusupkan muatan berbahaya (malicious payload) ke dalam arsitektur cloud perusahaan sasaran. Untuk menyamarkan jejak, sindikat ini kerap meluncurkan serangan pada akhir pekan dan hari libur nasional ketika pengawasan operasional tim teknis berada pada level minimum.
Sebelum menguras dana dalam jumlah fantastis, CRAFTY FALCON tercatat menerapkan metode uji validasi transfer ilegal bernilai sangat kecil. Begitu saluran verifikasi API dipastikan berhasil dibobol tanpa hambatan, pelaku langsung melancarkan eksekusi pengurasan kunci privat dompet kustodian dan memindahkan aset ke berbagai jaringan desentralisasi secara beruntun.
Lonjakan Pemanfaatan Tool AI ARTEX dan Cermin Kerentanan Global
Munculnya kampanye CRAFTY FALCON memperpanjang bukti nyata bagaimana teknologi otomasi cerdas telah dipersenjatai oleh kelompok penyerang siber global. Berdasarkan analisis CERT-In, kelompok peretas menggunakan perkakas uji penetrasi berbasis AI bernama ARTEX serta model kecerdasan buatan komersial seperti Claude Code guna merekayasa balik (reverse-engineer) basis kode aplikasi dan menyusun skrip eksploitasi spesifik hanya dalam hitungan detik.
Temuan ini selaras dengan laporan firma intelijen keamanan siber CrowdStrike pada Oktober lalu, yang mendokumentasikan serangan terhadap sejumlah entitas finansial di Korea Selatan menggunakan kombinasi ARTEX dan model bahasa besar. Sektor kripto internasional saat ini berada dalam fase kerentanan kritis, menyusul insiden pembobolan masif senilai 6,3 miliar dolar AS di Binance yang dipicu oleh malware pada aplikasi AI palsu, serta insiden peretasan berulang di bursa BitMart akibat defisit personel keamanan.
Menanggapi fenomena ini, Chief Information Security Officer (CISO) Solana Foundation, Michael Coates, menegaskan urgensi adopsi teknologi tandingan bagi korporasi Web3. "Kita harus memastikan model AI terbaik berada di tangan para pihak bertahan, karena pihak penyerang sudah terbukti memiliki perkakas yang sangat kapabel," ujar Coates. Peringatan senada disampaikan Ari Redbord, Kepala Kebijakan TRM Labs, yang menyatakan bahwa teknik serangan siber saat ini berkembang jauh lebih cepat melampaui kemampuan audit keamanan statis yang hanya dilakukan sekali saat peluncuran protokol.
Rekomendasi Mitigasi dan Langkah Antisipasi Bursa Kripto
Guna mencegah kerugian operasional dan pembobolan dompet aset digital, CERT-In menginstruksikan seluruh platform bursa kripto dan gerbang pembayaran digital untuk memperlakukan kampanye CRAFTY FALCON sebagai ancaman berstatus kritis yang tengah bereskalasi. Otoritas mewajibkan pengelola bursa untuk memperketat protokol pemantauan telemetri jaringan secara berkesinambungan selama 24 jam penuh tanpa jeda.
Selain itu, operator bursa kripto diminta untuk meningkatkan kesiagaan personel Security Operations Center (SOC) dan menurunkan ambang batas deteksi anomali (alert threshold), terutama pada jendela waktu berisiko tinggi seperti libur akhir pekan. Langkah isolasi ketat antara lingkungan pengembangan dengan klaster produksi utama juga menjadi prioritas mendesak, termasuk penerapan rotasi kredensial API berkala, autentikasi multi-faktor berbasis hardware token, serta mekanisme penghentian darurat (circuit breaker) otomatis terhadap volume transaksi pencairan dana yang melebihi batas statistik wajar.
Meskipun otoritas India belum merilis daftar spesifik entitas bursa lokal yang terdampak langsung oleh serangan ini, peringatan terkoordinasi ini menjadi sinyal keras bagi industri kripto regional untuk segera merevisi postur pertahanan siber mereka di era ancaman bertenaga kecerdasan buatan.



