Asosiasi perdagangan komoditas utama Amerika Serikat, Commodity Markets Council (CMC), resmi melayangkan surat keberatan resmi kepada Commodity Futures Trading Commission (CFTC) guna mendesak regulator federal tersebut menolak permohonan pencatatan kontrak berjangka abadi minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang diajukan oleh platform Kalshi. Kelompok industri yang mewakili bursa derivatif raksasa CME Group beserta para pedagang komoditas global tersebut menilai instrumen perpetual futures berpotensi merusak integritas mekanisme penemuan harga komoditas fisik. Selain menentang kontrak minyak abadi tanpa tanggal kedaluwarsa tersebut, CMC juga menuntut standar pengawasan seragam dan koordinasi lintas batas bersama regulator asing untuk menutup celah penggunaan jaringan privat virtual (VPN) oleh pelaku pasar ritel domestik yang mengakses bursa derivatif lepas pantai.
Desakan CMC dan Ancaman Terhadap Integritas Pasar Komoditas
Langkah hukum dan penolakan keras dari CMC berakar pada kekhawatiran mendasar mengenai pemisahan hubungan antara instrumen keuangan dengan realitas pasar fisik komoditas energi. Pada kontrak berjangka tradisional yang diperdagangkan di bursa terdaftar seperti New York Mercantile Exchange (NYMEX) milik CME Group, pergerakan harga kontrak secara alamiah akan mengalami konvergensi menuju harga pasar fisik seiring mendekatnya tanggal jatuh tempo penyerahan barang. Sebaliknya, struktur kontrak perpetual yang diadopsi dari industri kripto beroperasi tanpa tanggal kedaluwarsa tetap dan sepenuhnya bergantung pada mekanisme pembayaran berkala untuk menjaga korelasi harga.
CMC memperingatkan CFTC bahwa penghapusan tanggal kedaluwarsa pada kontrak komoditas berisiko memicu distorsi harga, manipulasi pasar, serta mengaburkan fungsi lindung nilai bagi produsen dan konsumen riil. Asosiasi tersebut menegaskan bahwa pelonggaran izin bagi produk perpetual futures di luar aset digital dapat menciptakan preseden berbahaya yang mengikis kepatuhan regulasi bursa berjangka konvensional. Mereka meminta regulator menerapkan evaluasi kehati-hatian ketat sebelum memberikan lampu hijau bagi produk yang dapat mengaburkan batasan antara lindung nilai komersial dan spekulasi ritel murni.
Struktur Kontrak WTIPERP Kalshi dan Mekanisme Funding Rate
Penolakan terbuka dari asosiasi bursa derivatif ini dipicu oleh pengajuan resmi dokumen kontrak berkode WTIPERP oleh Kalshi ke meja CFTC pada tanggal 20 Oktober 2026. Berdasarkan berkas pengajuan tersebut, Kalshi merancang instrumen ini untuk memberikan eksposur harga minyak mentah secara berkelanjutan kepada pelaku pasar tanpa mengharuskan mereka memindahkan posisi secara manual atau menanggung beban biaya *roll-over* ke kontrak bulanan berikutnya. Setiap kontrak diselesaikan secara tunai dengan ukuran 100 barel minyak mentah, jauh lebih terjangkau dibandingkan kontrak standar WTI di NYMEX yang mencakup 1.000 barel per lot.
Guna menjaga agar harga perdagangan kontrak tetap selaras dengan pasar acuan fisik, Kalshi menerapkan sistem pembayaran pendanaan harian (*daily funding payments*) yang ditautkan pada kalkulasi harga referensi dari dua kontrak berjangka terdekat di NYMEX. Kalshi juga menetapkan bahwa jam perdagangan WTIPERP akan mengikuti jadwal bursa komoditas konvensional, termasuk penutupan pada akhir pekan, hari libur nasional, dan penghentian perdagangan otomatis saat pasar fisik mengalami suspensi. Meskipun Kalshi menyatakan telah berkonsultasi dengan berbagai kelompok industri sebelum melayangkan permohonan, CMC tetap bersikukuh bahwa struktur pembiayaan harian tersebut tidak memadai untuk menggantikan kepastian konvergensi fisik pasar berjangka.
Serbuan Bursa Lepas Pantai dan Pertarungan Status Hukum Swaps
Perdebatan mengenai kontrak WTIPERP ini kian memanas di tengah meluasnya penawaran produk perpetual futures di bursa terdesentralisasi lepas pantai seperti Hyperliquid, yang memperdagangkan derivatif komoditas dan indeks saham tradisional selama 24 jam penuh tanpa jeda. CMC menyoroti bahwa ketiadaan batas jam perdagangan dan minimnya verifikasi identitas di platform lepas pantai memungkinkan spekulan AS menerobos pembatasan geografis menggunakan koneksi VPN. Kondisi tersebut memicu persaingan tidak sehat bagi bursa terdaftar di AS yang terikat kewajiban uji tuntas nasabah, kepatuhan sanksi pencucian uang, dan pengawasan manipulasi pasar.
Sengketa ini sekaligus memperpanjang babak litigasi sengit seputar klasifikasi hukum kontrak perpetual di bawah Commodity Exchange Act dan undang-undang Dodd-Frank. Pelaku bursa mapan berargumen bahwa kontrak tanpa tanggal kedaluwarsa secara hukum tergolong sebagai transaksi *swaps* yang wajib tunduk pada kerangka regulasi ketat, sementara regulator federal dan platform inovator seperti Kalshi berupaya memperluas definisi kontrak berjangka guna memulangkan likuiditas domestik dari yurisdiksi luar negeri. CFTC saat ini masih menahan status persetujuan resmi atas kontrak WTIPERP sembari meninjau masukan industri, sementara Kalshi terus memperluas ekspansi lini produknya di tengah rentetan gugatan dari kejaksaan negara bagian terkait izin kontrak prediksi.
Sumber: TokenPost



