Stablecoin Tether (USDT) mengalami lonjakan premium yang tidak biasa di bursa kripto India, diperdagangkan 7% hingga 10% di atas nilai nominal dolarnya. Lonjakan ini terjadi menyusul aksi penegakan hukum oleh Enforcement Directorate (ED) India terhadap sejumlah firma pembayaran kripto di Bengaluru pada akhir pekan lalu.
Berdasarkan data perdagangan, USDT sempat menyentuh harga sekitar ₹102,88 per token, sementara nilai tukar resmi dolar AS terhadap rupee berada di kisaran ₹94,65. Dengan kapitalisasi pasar mencapai $184,68 miliar, USDT merupakan stablecoin berdenominasi dolar terbesar di dunia, dan pergerakan harganya di pasar India menjadi sinyal signifikan bagi ekosistem kripto Asia Selatan.
Normalnya, premium USDT di India berkisar antara 3% hingga 4%. Angka ini mencerminkan biaya tambahan yang harus dibayar pembeli lokal untuk mendapatkan eksposur dolar melalui USDT dibandingkan melalui sistem perbankan konvensional. Premium melebar ketika permintaan lokal melampaui pasokan token yang tersedia untuk diperdagangkan.
Pertukaran Buka Suara
Minal Thakur, Executive Vice President CoinDCX yang berbasis di Mumbai, menjelaskan bahwa premium USDT merupakan fungsi dari kedalaman order book lokal relatif terhadap harga referensi dolar global. "India secara struktural merupakan pembeli bersih kripto, sehingga permintaan INR lokal seringkali melampaui likuiditas sisi jual yang tersedia. Ketika likuiditas itu menipis di dekat harga referensi global, pasar akan melakukan kliring pada harga yang lebih tinggi," ujarnya.
Thakur menambahkan bahwa premium tersebut menjadi sinyal dari arbitrage band lokal — seberapa mahal atau lambatnya penyedia likuiditas untuk mengisi kembali pasokan dan menutup kesenjangan harga.
Senada dengan itu, Ashish Singhal, Co-Founder dan CEO CoinSwitch, menegaskan bahwa premium bukanlah sesuatu yang ditetapkan oleh bursa secara sepihak. "Seperti halnya aset yang diperdagangkan secara aktif, ketika permintaan melampaui pasokan yang tersedia, harga akan menyesuaikan. Premium USDT tidak unik pada satu platform; ini mencerminkan dinamika pasar yang lebih luas, termasuk kondisi likuiditas dan ketersediaan aset digital berdenominasi dolar," jelasnya.
Dampak Penegakan Hukum
Meskipun kedua eksekutif bursa tidak secara langsung menyebut tindakan ED dalam pernyataan mereka, kesenjangan pasokan yang mendorong premium lebih tinggi secara luas dikaitkan dengan aksi penegakan hukum tersebut. Para pembuat pasar dan penyedia likuiditas diduga mengurangi aktivitas pengadaan USDT dari luar negeri setelah penggerebekan ED, yang tercermin sebagai kelangkaan likuiditas sisi pasokan.
Beroperasi di bursa India selama ini relatif lebih sulit bagi pembuat pasar karena pajak tetap 30% atas keuntungan kripto, tanpa kompensasi kerugian, serta pajak 1% yang dipotong di sumber (TDS). Aturan-aturan ini telah lama berkontribusi pada dislokasi pasar dan memperburuk kesenjangan pasokan-permintaan.
Konteks Lebih Luas
Fenomena premium stablecoin bukanlah hal yang unik bagi India. Stablecoin pernah diperdagangkan dengan premium di berbagai pasar selama periode permintaan tinggi atau keterbatasan likuiditas. Namun, skala premium kali ini — mencapai dua hingga tiga kali lipat dari tingkat normal — mengindikasikan tekanan yang luar biasa pada jalur pasokan kripto India.
Dengan MiCA Uni Eropa yang mulai berlaku penuh pada 1 Juli dan berbagai regulator global yang memperketat pengawasan terhadap stablecoin, kasus India ini menyoroti kerentanan pasar negara berkembang terhadap guncangan regulasi. Ketergantungan pada stablecoin sebagai jembatan menuju dolar AS membuat dislokasi pasokan semacam ini berdampak langsung pada harga yang dibayar oleh investor ritel.



