Departemen Keuangan Amerika Serikat melalui Office of Foreign Assets Control (OFAC) resmi menambahkan empat wallet kripto yang terhubung dengan Bank Sentral Iran ke dalam daftar sanksi pada Selasa, 14 Juli 2026. Langkah ini langsung direspons oleh Tether dengan membekukan dana senilai $131 juta dalam bentuk USDT yang tersimpan di keempat alamat tersebut.
Keempat wallet yang beroperasi di jaringan blockchain TRON ini sebelumnya telah menerima lebih dari $165 juta dalam bentuk stablecoin, berdasarkan analisis dari Chainalysis. Meskipun Tether berhasil memblokir $131 juta, sebagian dana telah berpindah sebelum pembekuan diberlakukan.
Aksi sanksi terbaru ini menjadikan total USDT milik Bank Sentral Iran yang telah dibekukan mencapai sekitar $475 juta. Sebelumnya pada April 2026, Tether telah membekukan $344 juta USDT yang juga terhubung dengan bank sentral negara tersebut.
Pembekuan ini tidak berarti penyitaan aset. Dana yang diblokir masih terlihat secara on-chain dan tetap berada di bawah kendali wallet Bank Sentral Iran, namun alamat-alamat tersebut tidak lagi dapat mentransfer atau menebus USDT yang dimilikinya.
Langkah ini merupakan perluasan dari sanksi yang sudah ada sebelumnya, bukan pengenaan sanksi baru. Bank Sentral Iran sendiri telah masuk dalam daftar blokir AS sejak 2019 di bawah otorisasi kontra-terorisme, terkait dukungannya terhadap Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam dan Hizbullah.
Aksi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran, setelah kesepakatan gencatan senjata antara kedua negara gagal dan serangan udara serta drone kembali berlangsung. Iran bahkan dilaporkan melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di negara-negara Teluk pada Kamis, 16 Juli 2026.
Pola Sanksi yang Meluas
Sanksi terhadap wallet kripto ini bukanlah yang pertama. Pada Juni 2026, OFAC juga memberikan sanksi kepada Nobitex dan bursa kripto Iran lainnya yang dituduh membantu bank sentral Iran dalam mengonversi aset masuk dan keluar dari stablecoin.
Menurut laporan Elliptic, Bank Sentral Iran telah mengakumulasi setidaknya $507 juta dalam bentuk USDT. Dana tersebut digunakan untuk mendukung nilai mata uang rial Iran yang terus melemah akibat tekanan ekonomi dan sanksi internasional.
Chainalysis mengungkapkan bahwa keempat alamat yang baru disanksi menerima dana dari penyedia likuiditas institusional dan pemroses pembayaran berbasis di Asia. Temuan ini menunjukkan adanya jaringan kompleks yang digunakan Iran untuk menghindari sanksi keuangan internasional melalui jalur kripto.
OFAC juga menegaskan bahwa daftar wallet yang dipublikasikan tidak bersifat lengkap, yang berarti alamat-alamat lain yang dikendalikan oleh Bank Sentral Iran mungkin masih memenuhi syarat sebagai properti yang diblokir.
Dengan dimasukkannya wallet-wallet ini ke daftar sanksi, bursa kripto, kustodian, dan perusahaan kepatuhan kini memiliki daftar alamat yang jelas untuk disaring. Setiap entitas yang bertransaksi dengan alamat-alamat tersebut berisiko menghadapi konsekuensi hukum dari otoritas AS.



