Sam Bankman-Fried (SBF), pendiri bursa kripto FTX yang kini bangkrut, secara resmi mengajukan permohonan grasi kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Permohonan ini muncul dalam catatan Kantor Pengacara Grasi Departemen Kehakiman AS pada Senin (8/6/2026), dengan status "pending" atau sedang ditinjau.
Mantan maestro kripto berusia 34 tahun itu saat ini menjalani hukuman 25 tahun penjara atas tuduhan penipuan dan konspirasi yang menyebabkan keruntuhan FTX pada November 2022. Kejatuhan bursa tersebut mengungkap lubang keuangan senilai $8 miliar dan memicu pelarian dana nasabah secara masif.
Strategi Politik di Balik Permohonan Grasi
Langkah SBF mengajukan grasi bukanlah tanpa strategi. Selama berbulan-bulan menjalani masa tahanan, ia secara konsisten menyelaraskan diri dengan posisi politik Trump melalui komunikasi yang difasilitasi pihak penjara. Ia memuji keputusan presiden melancarkan serangan ke Iran, mendukung penggantian mantan Ketua SEC Gary Gensler dengan Paul Atkins, dan menyoroti penurunan harga bensin selama masa kepemimpinan Trump.
Dalam sebuah wawancara telepon dengan FOX Business baru-baru ini, SBF mengonfirmasi keinginannya mendapatkan grasi. "Tentu saja," jawabnya ketika ditanya apakah ia menginginkan pengampunan dari Gedung Putih. "Ini pada akhirnya diserahkan kepada presiden, bukan kepada saya." Ia menolak mengungkapkan apakah anggota keluarganya aktif melobi pemerintahan atas namanya.
Orang tua SBF, Profesor Stanford Law Joseph Bankman dan Barbara Fried, sebelumnya telah menjangkau individu-individu di lingkaran Trump untuk menjajaki kemungkinan grasi bagi putra mereka. Namun, belum jelas apakah diskusi langsung dengan pejabat Gedung Putih pernah terjadi.
Trump dan Sejarah Grasi Kripto
Sejarah Trump memberikan grasi kepada figur-figur kontroversial di industri kripto menjadi alasan optimisme kubu SBF. Sejak kembali menjabat, Trump telah memberikan pengampunan kepada pendiri Silk Road Ross Ulbricht, mantan CEO Binance Changpeng "CZ" Zhao, serta para pendiri BitMEX. Keputusan-keputusan ini menimbulkan spekulasi bahwa SBF mungkin menjadi penerima grasi berikutnya.
Namun, harapan tersebut jauh dari jaminan. Dalam wawancara dengan The New York Times pada Januari 2026, Trump secara eksplisit menyatakan bahwa Bankman-Fried seharusnya tidak berharap mendapatkan grasi, mengelompokkannya bersama terdakwa profil tinggi lainnya yang tidak ia rencanakan untuk diampuni.
Babak Baru Kasus FTX
Pengajuan grasi ini menambah babak baru dalam saga hukum salah satu kasus terbesar dalam sejarah keuangan kripto. FTX, yang pernah menjadi bursa kripto terbesar ketiga di dunia, runtuh hanya dalam hitungan hari setelah laporan CoinDesk mengungkap kejanggalan dalam neraca perusahaan afiliasinya, Alameda Research. Runtuhnya FTX menghapus miliaran dolar dana investor dan menjadi pemicu krisis kripto yang berkepanjangan.
Untuk saat ini, SBF tetap menjalani masa tahanannya di fasilitas pemasyarakatan federal sementara upaya banding dan petisi grasi bergerak melalui saluran hukum yang terpisah. Kantor Pengacara Grasi menyatakan bahwa rincian peninjauan yang sedang berlangsung tidak diungkapkan kepada publik.
Kasus ini menjadi ujian penting bagi kebijakan Trump terhadap industri kripto. Akankah presiden yang telah mengampuni tokoh-tokoh kripto kontroversial lainnya memberikan kesempatan kedua kepada pria yang menjadi simbol kehancuran kepercayaan di pasar kripto global? Keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan Trump, dan industri kripto global kini menanti dengan seksama.



