Protokol perdagangan terdesentralisasi Ostium mengumumkan penghentian seluruh aktivitas trading pada Rabu (15/7) setelah perusahaan keamanan blockchain Blockaid dan CertiK melaporkan eksploitasi terhadap vault likuiditas OLP miliknya.
Berdasarkan laporan Blockaid, kerugian akibat serangan ini diperkirakan mencapai sekitar $18 juta atau setara dengan Rp270 miliar. Sementara itu, CertiK menempatkan angka kerugian lebih tinggi, yaitu sekitar $22 juta. Kedua firma keamanan tersebut mengaitkan insiden ini dengan kompromi pada sistem oracle Ostium yang bertugas memasok data harga eksternal ke protokol.
Ostium mengonfirmasi melalui akun resmi X bahwa mereka telah mengidentifikasi masalah yang memengaruhi vault dan segera menghentikan semua perdagangan. Beberapa saat kemudian, protokol tersebut mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh pengguna untuk sementara mencabut persetujuan (revoke approvals) terhadap kontrak pintar Ostium hingga investigasi selesai dilakukan.
Tim Ostium menyatakan bahwa investigasi masih berlangsung dan mereka belum mengonfirmasi penyebab pasti insiden maupun estimasi kerugian yang dilaporkan oleh firma keamanan blockchain.
Bagaimana Serangan Terjadi
Menurut analisis Blockaid, peretas berhasil mengeksploitasi komponen PriceUpKeep forwarder yang merupakan bagian dari infrastruktur otomatis Ostium. Komponen ini bertugas mengirimkan laporan harga oracle ke jaringan, dan peretas memanipulasi sistem dengan mengirimkan laporan harga palsu menggunakan timestamp masa depan (future-dated timestamps).
Manipulasi ini menciptakan ilusi bahwa posisi trading yang sebenarnya merugi tampak menghasilkan keuntungan. Akibatnya, vault Ostium memproses pembayaran senilai $18 juta dalam bentuk USDC kepada peretas. Data on-chain di Arbitrum mengonfirmasi transaksi keluar tersebut.
Ostium menggunakan sistem umpan harga kustom untuk melacak harga aset dunia nyata (real-world assets), dengan jaringan otomatisasi pihak ketiga bernama Gelato yang bertanggung jawab mendorong harga ke on-chain pada momen yang tepat. Kontrak pintar bernama PriceUpKeep menjadi pusat proses tersebut, bertindak sebagai pemicu yang menulis data harga terbaru ke blockchain setiap kali perdagangan perlu dieksekusi.
Profil Ostium
Dibangun di atas jaringan Arbitrum, Ostium adalah platform perdagangan perpetual on-chain yang menawarkan eksposur leverage hingga 200x pada 75 pasangan perdagangan yang mencakup saham, ETF, komoditas, indeks, valuta asing, dan mata uang kripto. Protokol ini sebelumnya telah mengumpulkan pendanaan sebesar $27,8 juta, termasuk putaran Seri A senilai $24 juta yang dipimpin oleh General Catalyst dan Jump Crypto pada akhir 2025. Ostium telah memproses volume perdagangan kumulatif lebih dari $50 miliar.
Serangan Oracle Makin Meningkat
Insiden ini merupakan yang terbaru dalam rangkaian serangan terhadap protokol DeFi tahun ini. Pekan lalu, protokol Summer.fi kehilangan $6 juta dalam serangan serupa yang menargetkan sistem keeper dan oracle. Menurut data DeFiLlama, peretasan kripto pada bulan April 2026 mengakibatkan kerugian hampir $630 juta, tertinggi sejak Februari 2025, dengan protokol DeFi menyumbang mayoritas kerugian tersebut.
Peneliti keamanan mencatat bahwa serangan DeFi terkini semakin menyasar infrastruktur off-chain seperti sistem oracle, akses privileged, dan manajemen kunci, alih-alih hanya mengeksploitasi kelemahan smart contract. Tren ini menimbulkan kekhawatiran baru tentang kesiapan DeFi untuk adopsi institusional.
Dalam catatan riset bulan April, analis JPMorgan menyatakan bahwa keamanan bridge tetap menjadi tantangan utama bagi sektor ini, memunculkan pertanyaan apakah DeFi dapat berkembang untuk mendukung partisipasi institusional yang lebih luas. Para eksekutif industri memperingatkan bahwa imbal hasil DeFi yang semakin menurun membuat risiko keamanan semakin sulit dibenarkan bagi investor institusional.



