Bitcoin

BREAKING: Bitcoin Tembus $64.800 Pasca Inflasi AS Mendingin

BREAKING: Bitcoin Tembus $64.800 Pasca Inflasi AS Mendingin

Key Takeaways

Bitcoin melonjak 3,6% ke level $64.800 pada Rabu (15/7) setelah data inflasi AS periode Juni menunjukkan pendinginan lebih tajam dari perkiraan, memicu aksi jual dolar dan rotasi ke aset berisiko.

Bitcoin melonjak 3,6% dalam 24 jam terakhir ke level $64.800 pada hari Rabu (15/7), menyentuh level tertinggi dalam beberapa pekan setelah data inflasi Amerika Serikat periode Juni menunjukkan pendinginan yang lebih tajam dari perkiraan para ekonom.

Inflasi AS Mendingin Drastis

Inflasi headline Juni turun menjadi 3,5% dari sebelumnya 4,2%, sementara inflasi inti yang mengecualikan komponen pangan dan energi melandai ke 2,6% dari 2,9%. Pendinginan pada inflasi inti menjadi sinyal kuat bahwa penurunan harga bukan sekadar efek sementara dari energi murah, melainkan indikasi perlambatan tekanan harga yang lebih fundamental di seluruh sektor ekonomi AS.

Data ini langsung memicu perubahan drastis dalam ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve. Probabilitas kenaikan suku bunga dalam waktu dekat anjlok dari 43% menjadi hanya 13% setelah rilis data inflasi, dan imbal hasil obligasi Treasury dua tahun turun enam basis poin.

Reli Pasar Global dan Kripto

Sentimen risk-on menyapu pasar global. Indeks MSCI Asia Pacific melonjak 2,3%, pencapaian terbaik dalam sebulan, dipimpin oleh saham teknologi. Korea Selatan menjadi bintang utama dengan Kospi meroket 8,2% dan saham SK Hynix melesat 13% di bursa Seoul.

Di sektor kripto, reli dipimpin oleh Ether yang menjadi aset dengan performa terbaik di antara kripto utama, naik 5,3% ke level $1.880 dalam 24 jam dan mengakumulasi kenaikan 7,1% dalam sepekan. HYPE, token native dari platform Hyperliquid, menguat 6,4% ke $67, sementara XRP naik 3,7% ke $1,10, Solana melesat 3,6% ke $78, Dogecoin naik 2,9%, dan BNB menambahkan 1,9% ke $579.

Volume perdagangan Bitcoin mencapai sekitar $31 miliar, mencerminkan partisipasi pasar yang kuat dalam sesi ini. Kenaikan terjadi di tengah data terbaru yang menunjukkan volume perdagangan bursa terpusat naik untuk pertama kalinya dalam lima bulan pada Juni, dengan perdagangan spot melonjak 15,3% ke $1,11 triliun dan volume perpetual RWA mencapai rekor $311 miliar.

Analis: September Jadi Ujian Berikutnya

"Bitcoin tetap merupakan aset berisiko yang sensitif terhadap suku bunga, bukan lindung nilai makro," ujar Jeff Ko, Kepala Analis di CoinEx. Ia menekankan bahwa meskipun data inflasi terbaru mengurangi tekanan jangka pendek, reli saat ini belum tentu membangun terobosan yang tahan lama.

Ko menunjuk pertemuan FOMC September sebagai ujian makro berikutnya yang signifikan bagi pasar kripto, bersama dengan arah dolar AS dan keberlanjutan aliran dana masuk ETF Bitcoin. Dengan inflasi inti masih berada di 2,6% — di atas target 2% The Fed — data terbaru ini lebih memberi ruang bagi bank sentral untuk menahan suku bunga, bukan alasan untuk mulai memangkas.

Di sisi geopolitik, harga minyak mentah Brent naik 1% ke atas $85 per barel setelah Presiden Trump mengancam akan melanjutkan serangan terhadap Iran dan AS memblokade pengiriman minyak Iran melalui Selat Hormuz. Minyak mentah telah melonjak 11% dalam dua sesi, menambah dimensi ketegangan pada lanskap risiko global.

Disclaimer

Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai nasihat keuangan, investasi, atau trading. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi. Selalu lakukan riset mendalam (DYOR - Do Your Own Research) sebelum berinvestasi dalam aset kripto atau digital.

Komentar (0)

Silakan login untuk bergabung dalam diskusi.

Login untuk Komentar