Latar Belakang: Bank Sentral Iran Relaksasi Kontrol Valuta
Bank Sentral Iran (CBI) dilaporkan telah melonggarkan kendali valuta asing untuk mendorong eksporternya mengimpor devisa ke dalam negeri, termasuk melalui kripto, di tengah penegakan sanksi AS yang semakin ketat. Kabar ini dibocorkan Financial Times pada Rabu (9/9/2026), mengutip sumber yang familiar dengan kebijakan baru tersebut.
Detail Kebijakan Baru
Menurut laporan, eksportir Iran kini diizinkan mendanai impor menggunakan penghasilan luar negeri secara langsung, tanpa terlebih dahulu menjual valuta asing mereka melalui platform tukar resmi pemerintah pada kurs resmi. Hal ini efektif membuka jalan bagi penggunaan Tether (USDT) dan Bitcoin (BTC) untuk menyelesaikan transaksi lintas batas melalui bursa kripto domestik Iran.
"Ini adalah pergeseran signifikan dalam pendekatan Iran terhadap kripto," kata analis TRM Labs yang sebelumnya melacak aliran kripto ke entitas Iran yang disanksi. "Dengan mengizinkan penyelesaian via USDT dan BTC, Iran menciptakan jalur alternatif yang sulit diblokir oleh sistem finansial tradisional."
Konteks: Eskalasi Sanksi & Penyitaan Aset Kripto
Langkah ini datang setelah serangkaian tindakan keras AS: - **Juni 2026**: TRM Labs melaporkan >$3,8 miliar aliran antara CoinEx dan entitas Iran yang disanksi selama 7+ tahun. CoinEx menyangkal hubungan komersial. - **Juni 2026**: Treasury AS menyanksi 4 bursa kripto Iran dalam kampanye "Economic Fury". - **Juli 2026**: Sekretaris Treasury Scott Bessent mengklaim AS telah menyita ~$1 miliar aset kripto Iran. - **14 Juli 2026**: Bessent mengonfirmasi pembekuan >$130 juta kripto di dompet terhubung Bank Sentral Iran.
Data on-chain menunjukkan volume transaksi USDT dari/ke alamat terkait Iran naik 340% YoY per Q2 2026, menurut Chainalysis — bukti nyata kripto menjadi *lifeline* ekonomi tekanan sanksi.
Tanggapan Internasional
"Iran telah mengubah kripto dari ancaman menjadi alat strategis survival ekonomi," ujar Elizabeth Rosenberg, mantan pejabat Treasury AS yang kini di Center for a New American Security. "Ini menguji kemampuan AS menegakkan sanksi sekunder di era aset digital."
Sementara itu, CoinEx dalam pernyataan resmi (via X, 9/9) menegaskan: "Kami tidak pernah menyediakan saluran pendanaan ke pihak yang disanksi dan mematuhi semua sanksi yang berlaku."
Dampak ke Pasar & Regulasi
Pakaran hukum internasional memperkirakan langkah ini memaksa OCC dan FinCEN memperketat *guidance* terkait *mixing services* dan *non-custodial wallet* yang digunakan negara *pariah*. Perbandingan: Venezuela (2018) mencoba *Petro* tapi gagal; Iran kini menggunakan stablecoin & BTC *public chain* — model yang lebih tahan sensor.
Kesimpulan
Relaksasi kontrol valuta Iran menandai escalasi *cat-and-mouse* antara sanksi AS dan adopsi kripto negara-nasion. Bagi pasar, ini sinyal bullish jangka panjang bagi USDT & BTC sebagai *settlement layer* tahan sensor — tapi juga risiko regulasi ketat bagi bursa & *mixer* yang melayani jurisdiksi bersanksi.


