Bitcoin justru naik 2,5% ke $62.410 setelah data CPI AS menunjukkan inflasi 4,2% — tertinggi dalam 3 tahun — sesuai ekspektasi pasar dan meredakan kekhawatiran kejutan kenaikan suku bunga.
Inflasi AS Capai Level Tertinggi dalam 3 Tahun
Bitcoin mencatat reli mengejutkan pada perdagangan Rabu (10/6) setelah Biro Statistik Tenaga Kerja AS merilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) bulan Mei yang mencapai 4,2% secara tahunan — level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun terakhir. Alih-alih anjlok, BTC justru melesat sekitar 2,5% ke level $62.410 dalam hitungan menit usai rilis data.
Kenaikan inflasi ini didorong oleh lonjakan harga energi dan bensin akibat memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali mengerek harga minyak dunia. Secara bulanan, inflasi headline naik 0,5%, sementara inflasi inti (core CPI) yang mengecualikan komponen pangan dan energi tercatat 2,9% year-on-year dan 0,2% month-over-month.
Mengapa Bitcoin Justru Naik Saat Inflasi Tinggi?
Paradoks reli Bitcoin di tengah inflasi tinggi ini memiliki penjelasan rasional: pasar sudah memperkirakan angka tersebut. Ekonom yang disurvei Reuters telah memproyeksikan CPI headline akan menyentuh 4,2%, sehingga data aktual yang sesuai ekspektasi justru menghilangkan risiko "kejutan panas" yang bisa memaksa Federal Reserve mengambil sikap lebih hawkish.
Dengan kata lain, pasar bernapas lega karena The Fed tidak memiliki alasan tambahan untuk memperketat kebijakan moneter melampaui yang sudah diperhitungkan. Ini membuka ruang bagi trader untuk kembali masuk ke aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Analisis Teknikal: Bear Flag Masih Mengancam
Dari sisi teknikal, BTC memantul dari zona support krusial di kisaran $60.000–$62.000 yang juga bertepatan dengan rata-rata pergerakan eksponensial 200 minggu (200-week EMA). Level ini secara historis menjadi garis pertahanan kuat yang sering memicu pembalikan arah dalam siklus-siklus sebelumnya.
Meski demikian, para analis memperingatkan bahwa reli ini belum mengonfirmasi pembalikan bullish penuh. Bitcoin masih diperdagangkan di bawah resistensi kunci, termasuk simple moving average 20-periode dan 50-periode pada grafik empat jam. Struktur teknis saat ini juga menunjukkan pola bear flag yang berpotensi membawa harga kembali turun.
Jika pola bear flag terkonfirmasi dengan penembusan ke bawah garis tren bawah, target penurunan berikutnya berada di sekitar $57.800 pada bulan Juni — sekitar 7,6% di bawah level saat ini. Sebaliknya, jika BTC berhasil menembus konfluensi resistensi di atas, termasuk SMA 20 dan SMA 50 serta garis atas bear flag, reli pemulihan bisa berlanjut ke rentang $64.000 hingga $68.000.
Sentimen Institusional dan Arus Dana
Data inflasi ini menjadi krusial karena terjadi di tengah ekspektasi sikap hawkish dari Federal Reserve di bawah kepemimpinan yang diproyeksikan tetap ketat terhadap inflasi. Bitcoin ETF spot AS yang tercatat di bursa juga belum menunjukkan pertumbuhan signifikan — nilainya hampir tidak berubah sejak kemenangan pemilu Trump, menandakan minat institusional yang masih tertahan.
Sementara itu, arus keluar (outflow) dari produk investasi kripto terus berlanjut. CoinShares melaporkan bahwa outflow terbaru lebih mencerminkan guncangan sentimen jangka pendek daripada krisis struktural, namun tekanan terhadap harga Bitcoin tetap nyata.
Pelaku pasar kini mencermati pergerakan harga dalam beberapa hari ke depan untuk menentukan apakah reli pasca-CPI ini memiliki kekuatan untuk berlanjut atau hanya menjadi jeda sebelum koreksi lebih dalam.
Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai nasihat keuangan, investasi, atau trading. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi. Selalu lakukan riset mendalam (DYOR - Do Your Own Research) sebelum berinvestasi dalam aset kripto atau digital.