CME Ambil Langkah Hukum Lawan CFTC
CME Group, bursa derivatif terbesar di dunia, mengumumkan rencana untuk menggugat Commodity Futures Trading Commission (CFTC) setelah regulator tersebut menyetujui produk perpetual futures dari platform prediksi Kalshi. Pengumuman ini disampaikan langsung oleh CEO CME Terrence Duffy dalam wawancara dengan CNBC pada Rabu malam.
Duffy secara tegas menyatakan bahwa keputusan CFTC menyetujui perpetual futures Kalshi tidak memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam Dodd-Frank Act, undang-undang reformasi keuangan yang disahkan setelah krisis 2008. Menurutnya, produk yang disetujui CFTC bukanlah futures, melainkan swap yang memiliki persyaratan regulasi berbeda.
"Di bawah Dodd-Frank Act, definisi tentang apa itu swap dan apa itu futures sangat jelas. Ketika ada dua pihak yang saling bertukar pembayaran satu sama lain, itu dikategorikan sebagai swap," tegas Duffy. "Produk yang disetujui sebagai futures ini sebenarnya bukan futures — mereka adalah swap. Dan jika itu swap, ada persyaratan yang berbeda untuk berpartisipasi di pasar swap."
Tensi Bursa Tradisional vs Platform Kripto Meningkat
Perseteruan ini menandai eskalasi tensi antara bursa derivatif tradisional dan platform perdagangan berbasis blockchain yang mencoba memasuki pasar derivatif. CME selama ini mendominasi pasar futures Bitcoin dan crypto di Amerika Serikat, dan kehadiran Kalshi dengan produk perpetual futures dianggap sebagai ancaman serius terhadap dominasi tersebut.
Duffy, yang akan mundur dari jabatannya tahun depan, menekankan bahwa CME perlu memahami "aturan main" terlebih dahulu sebelum mempertimbangkan untuk menawarkan kontrak perpetual futures versinya sendiri. Namun, aturan tersebut saat ini dinilai "tidak terlalu jelas" oleh eksekutif veteran itu.
CFTC Dituding Misrepresentasi Fakta
Lebih lanjut, Duffy tidak ragu mengkritik CFTC ketika ditanya apakah regulator tersebut "menggambarkan fakta secara keliru." Ia menjawab bahwa ia meyakini "sampai batas tertentu" badan tersebut memang melakukan misrepresentasi. Duffy menyoroti rilis CFTC tentang perdagangan 24/7 sebagai contoh, di mana agensi menyebutnya sebagai aturan (rule) padahal sebenarnya bukan. "Saya pikir ada banyak masalah," kata Duffy menutup pernyataannya.
Dampak Besar bagi Masa Depan Derivatif Kripto
Persetujuan CFTC terhadap perpetual futures Kalshi menjadi tonggak penting karena membuka pintu bagi produk derivatif crypto yang diperdagangkan secara terus-menerus tanpa tanggal kedaluwarsa — format yang sangat populer di bursa crypto global namun selama ini absen dari pasar teregulasi AS.
Gugatan CME terhadap CFTC akan menjadi pertarungan hukum besar-besaran yang dapat membentuk lanskap regulasi derivatif crypto di Amerika Serikat untuk tahun-tahun mendatang. Jika pengadilan memenangkan CME, hal ini bisa membatalkan persetujuan perpetual futures Kalshi dan memperketat kendali CFTC dalam menyetujui produk derivatif baru. Sebaliknya, jika CFTC menang, legitimasi perpetual futures di AS akan semakin kokoh.
Kasus ini menambah daftar panjang perseteruan hukum seputar prediction markets dan derivatif crypto. Sebelumnya, Kentucky juga menggugat Kalshi dan Polymarket atas penawaran kontrak event olahraga, menunjukkan bahwa tekanan regulasi terhadap platform prediksi berbasis blockchain terus meningkat dari berbagai arah — baik dari regulator federal, bursa tradisional, maupun pemerintah negara bagian.



