Bitcoin kembali tergelincir ke level terendah dua bulan pada Selasa (2/6), diperdagangkan di kisaran $67.800 atau turun sekitar 5% dalam 24 jam terakhir. Penurunan ini menempatkan level terendah Februari di $60.000 kembali dalam jangkauan, memicu kekhawatiran di kalangan investor dan pelaku pasar kripto.
Aksi jual kali ini berbeda dari kepanikan awal Februari yang menjatuhkan Bitcoin dari $78.000 ke $60.000 hanya dalam 72 jam. Kali ini tekanan terjadi secara bertahap dalam bentuk deretan candle merah yang konsisten, menunjukkan pelemahan yang lebih terstruktur dan berpotensi bertahan lebih lama.
Pemicu utama sentimen negatif datang dari MicroStrategy (MSTR). Perusahaan yang dipimpin Michael Saylor ini mengonfirmasi penjualan 32 BTC senilai $2,5 juta pada akhir Mei — penjualan Bitcoin pertama perusahaan sejak 2022. Meskipun jumlahnya kecil dibandingkan total kepemilikan MSTR yang mencapai $58 miliar dalam BTC, pasar membaca sinyal ini dengan serius.
"Ini pertama kalinya pemegang MSTR, BTC, dan STRC benar-benar terjebak dalam posisi sulit," tulis Jeff Dorman, CIO Arca, dalam unggahan di X akhir pekan lalu. "Seseorang akan rugi besar, dan itu akan terjadi dalam 4 bulan ke depan."
Saham Strategy dan perusahaan treasury Bitcoin lainnya anjlok tajam. MSTR turun 8-10%, sementara Strive (ASST) dan ProCap Financial (BRR) juga mencatat penurunan serupa. Platform kripto seperti Coinbase (COIN), Bullish (BLSH), dan Galaxy (GLXY) terkoreksi 3-5%.
Yang menarik, tidak semua perusahaan treasury Bitcoin ikut menjual. Strive (ASST) justru menambah 2.500 BTC senilai $185,2 juta dengan harga rata-rata $74.092 per koin, membawa total kepemilikannya menjadi 19.000 BTC atau sekitar $1,3 miliar. Langkah kontras ini menunjukkan perpecahan strategi di antara pemain institusional.
Geoff Kendrick, Kepala Riset Aset Digital Standard Chartered, melihat momen ini sebagai titik balik potensial. Dalam catatan kepada klien, ia menyatakan bahwa Ethereum (ETH) bisa mengungguli Bitcoin hingga 40% dari level saat ini. Sejak pengumuman penjualan MSTR, ETH terapresiasi 5% relatif terhadap BTC — salah satu lompatan ETH-vs-BTC terbesar dalam sesi di mana Bitcoin melemah sejak awal 2024.
"Saya melihat Senin kemarin sebagai awal outperformance ETH terhadap BTC," tulis Kendrick, yang mempertahankan target harga ETH $4.000 akhir 2026 dan $40.000 pada 2030. Ia mencatat perusahaan treasury Ethereum seperti Bitmine memiliki keunggulan dari pendapatan staking sekitar $258 juta per tahun, membuat model bisnis mereka lebih berkelanjutan.
Di sisi lain, arus modal terus mengalir deras ke sektor kecerdasan buatan (AI). Alphabet (Google) mengumumkan penggalangan dana $80 miliar termasuk $10 miliar dari Berkshire Hathaway untuk investasi infrastruktur AI. Saham perusahaan tambang Bitcoin yang beralih ke AI seperti TerraWulf, Cipher Digital, dan Hut 8 justru melonjak sekitar 700% dalam setahun terakhir, semakin menjauh dari korelasi dengan harga Bitcoin.
Analis kripto Wazz memperingatkan di X bahwa "penjualan paksa di kripto bahkan belum dimulai," mengindikasikan potensi tekanan lebih lanjut jika harga terus melemah. Level $63.000 dianggap sebagai zona uji ulang yang realistis, sementara wick Februari di $60.000 tetap menjadi skenario terburuk dalam jangka pendek.
Dengan Bitcoin yang kini diperdagangkan di sekitar $68.000 dan tekanan jual yang belum mereda, pasar kripto memasuki fase kritis. Pertanyaan besarnya: apakah ini koreksi biasa dalam siklus bullish, atau awal dari tren bearish yang lebih dalam?
Sumber: CoinDesk
