Bitcoin Tutup di Bawah $60K, Cetak Rekor Terendah Sejak 2024
Bitcoin (BTC) mencatat penutupan harian di bawah level psikologis $60.000 untuk pertama kalinya sejak September 2024, menandai babak baru dalam tekanan bearish yang melanda pasar kripto global. Data dari TradingView menunjukkan BTC sempat menyentuh level terendah $58.000 sebelum sedikit memantul ke kisaran $59.770 pada Jumat sore (26/6).
Penurunan tajam ini terjadi di tengah gelombang aksi jual besar-besaran di pasar saham teknologi Asia. Indeks KOSPI Korea Selatan ambruk hingga 8%, memicu circuit breaker—mekanisme penghentian perdagangan darurat—untuk meredam kepanikan. Saham-saham teknologi raksasa Asia terjun bebas, memperpanjang tren pelemahan yang telah berlangsung sepanjang pekan.
ETF Bitcoin Catat Outflow Harian Tertinggi Sepanjang Juni
Tekanan terhadap Bitcoin diperparah oleh arus keluar (outflow) besar-besaran dari exchange-traded fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan ETF Bitcoin mencatat outflow harian sebesar $696,3 juta—yang terbesar sepanjang bulan Juni 2026—mengangkat total kerugian year-to-date menjadi $4,6 miliar. Angka ini mencerminkan sentimen risk-off yang mendominasi investor institusional.
Pasar derivatif juga tidak luput dari guncangan. Lebih dari $1 miliar posisi futures kripto dilikuidasi dalam 24 jam terakhir, dengan mayoritas merupakan posisi long yang bertaruh pada kenaikan harga. Likuidasi masif ini menciptakan efek domino yang semakin menekan harga aset digital secara keseluruhan.
Ether Anjlok ke $1.500, Tether Salip Kapitalisasi Pasar ETH
Ethereum (ETH) mengalami pukulan lebih dalam, merosot ke level $1.500—harga yang terakhir terlihat pada Oktober 2023 dan April 2025. Penurunan drastis ini menyebabkan stablecoin Tether (USDT) berhasil menyalip Ether dalam kapitalisasi pasar, sebuah peristiwa langka yang mencerminkan pelarian modal investor ke aset yang lebih stabil.
Inflasi AS dan Kebijakan The Fed Jadi Pemicu Utama
QCP Capital, perusahaan trading terkemuka, menyoroti peran data inflasi Amerika Serikat dalam memperburuk sentimen pasar. Indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) bulan Mei—tolok ukur inflasi pilihan Federal Reserve—mencatat kenaikan year-on-year tertinggi sejak pertengahan 2023.
"Core PCE sekarang diproyeksikan di 3,30%, sementara headline PCE di 3,82%, keduanya masih di atas target," tulis QCP. "Proyeksi inflasi The Fed untuk 2026 juga naik menjadi 3,6% dari sebelumnya 2,7%, menegaskan bahwa inflasi, bukan pertumbuhan, tetap menjadi kendala utama."
Analis: Divergensi Bullish Mulai Terbentuk
Dari sisi analisis teknikal, trader dan analis Michaël van de Poppe menyoroti pentingnya level 200-week Simple Moving Average (SMA) yang saat ini berada di $62.243. "Fakta bahwa STRC mengalami penurunan cukup besar kemarin dan Bitcoin pada dasarnya terhenti di $60.000 bukanlah sinyal lemah," ujarnya. "Ada divergensi bullish pada timeframe harian, meskipun masih jauh dari terkonfirmasi."
Sementara itu, The Kobeissi Letter mencatat bahwa banyak raksasa teknologi sudah berada di wilayah deep bear market—turun lebih dari 50% dari all-time high mereka. Saham Coinbase, misalnya, tercatat anjlok 69% dari puncaknya.
Dengan opsi kuartalan senilai miliaran dolar yang akan berakhir hari ini dan ketidakpastian makroekonomi yang terus membayangi, para pelaku pasar bersiap menghadapi volatilitas lanjutan. Rebutan level $60.000 kini menjadi pertarungan krusial yang akan menentukan arah Bitcoin dalam beberapa pekan mendatang.



