Pasar kripto kembali diguncang gelombang panic selling pada Kamis dini hari (4/6/2026). Harga Bitcoin secara singkat menembus level $62.000 dalam perdagangan sesi Asia, memicu gelombang likuidasi massal yang menghapus lebih dari $1,5 miliar posisi long dalam 24 jam terakhir. Ini merupakan penurunan terdalam sejak Februari 2026.
Berdasarkan data CoinGlass, lebih dari 208.000 trader terkena likuidasi di seluruh pasar kripto. Bitcoin sendiri menyumbang kerugian lebih dari $800 juta, sementara Ethereum (ETH) mencatat likuidasi sebesar $386 juta. Pergerakan harga yang ekstrem ini memperpanjang tren bearish yang telah menekan pasar dalam beberapa minggu terakhir.
Meskipun Bitcoin sempat memantul kembali ke sekitar level $62.500, tekanan jual masih sangat terasa. Harga BTC telah kehilangan sekitar 14% dalam sepekan dan lebih dari 21% dalam empat minggu terakhir, menandai koreksi paling tajam tahun ini.
Gelombang aksi jual ini bertepatan dengan melemahnya permintaan institusional secara signifikan. Data dari SoSoValue menunjukkan bahwa investor telah menarik sekitar $1 miliar dari ETF Bitcoin spot AS sepanjang minggu ini, memperpanjang rekor arus keluar bersih yang belum pernah terjadi sebelumnya. Arus keluar ETF ini menjadi indikator utama bahwa institusi besar sedang mengurangi eksposur mereka terhadap aset kripto.
Presto Research dalam catatan risetnya pada Kamis pagi mengungkapkan bahwa kelemahan Bitcoin saat ini lebih mencerminkan persaingan antar kelas aset ketimbang katalis negatif spesifik dari sektor kripto. Firma riset tersebut mencatat bahwa penurunan besar Bitcoin tahun ini selalu bertepatan dengan reli pada emas dan saham kecerdasan buatan (AI), seiring investor mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.
Menurut analisis Presto, pemulihan Bitcoin ke depan mungkin tidak terlalu bergantung pada perkembangan internal pasar kripto, melainkan pada meredanya kekhawatiran inflasi dan kembalinya minat terhadap aset-aset yang sensitif terhadap likuiditas. Dengan kata lain, nasib Bitcoin saat ini lebih terkait erat dengan kebijakan makroekonomi AS dan pergerakan pasar saham teknologi.
Sementara itu, reli pasar IPO dan saham AI terus menarik rotasi modal dari aset kripto. Pengamat pasar menyebut fenomena ini sebagai "momentum trade reversal" — di mana trader yang sebelumnya memburu momentum naik Bitcoin kini beralih mengejar saham-saham teknologi dan IPO berkapitalisasi besar yang sedang naik daun.
Meskipun volatilitas ekstrem ini memicu kekhawatiran, beberapa analis tetap optimis terhadap prospek jangka panjang Bitcoin. Level support kunci kini berada di zona $60.000–$61.000, dan jika bertahan, Bitcoin berpotensi membentuk dasar untuk fase akumulasi berikutnya.
Trader disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas tinggi dan memantau perkembangan data ekonomi AS serta pernyataan pejabat The Fed dalam beberapa hari ke depan.
