Pasar kripto kembali diguncang aksi jual brutal. Bitcoin (BTC) mencatat koreksi tajam sebesar 21% dalam 10 hari terakhir, menyentuh level $61.000 untuk pertama kalinya dalam empat bulan. Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan telah kehilangan lebih dari $2 triliun sejak puncaknya pada Oktober 2025, menyisakan kepanikan di kalangan investor ritel maupun institusional.
Pemicu utama kejatuhan ini adalah keputusan Strategy (sebelumnya MicroStrategy) โ pemegang Bitcoin korporat terbesar โ untuk menggunakan $1,38 miliar dana tunai hasil penerbitan ekuitas guna membeli kembali (buyback) sebagian utang konversi perusahaan. Langkah ini menghentikan sementara akumulasi Bitcoin Strategy yang selama ini menjadi motor penggerak psikologis pasar.
Strategy telah menjadi pembeli Bitcoin paling agresif, mengakumulasi 126.016 BTC senilai $9,31 miliar sejak Maret 2026. Namun, buyback utang yang diumumkan pada 15 Mei bertepatan dengan saham preferen Stretch (STRC) Strategy yang menjauh dari level krusial $100. Ketika STRC berada di bawah $100, kemampuan Strategy untuk menerbitkan saham baru โ sumber utama dana pembelian Bitcoin โ menjadi terbatas.
Kondisi likuiditas jangka pendek Strategy semakin mengetat. Posisi kas perusahaan kini menyusut menjadi hanya $900 juta, cukup untuk menutup dividen selama enam bulan. Meskipun leverage bersih Strategy di level konservatif 11% dan tidak ada klausul kontrak yang memaksa likuidasi cadangan Bitcoin, ketakutan pasar tetap meluas.
Analis kripto di bawah nama samaran zeroxkyle melalui newsletter "Grand Line" memperingatkan skenario "doom loop" โ situasi di mana penjualan Bitcoin oleh Strategy justru akan menekan harga lebih dalam, memperburuk kondisi likuiditas, dan membuat pembeli potensial menahan diri karena terus mengantisipasi aksi jual lanjutan. Istilah ini mengingatkan pasar pada kehancuran ekosistem Terra Luna pada 2022.
Michael Saylor, pendiri Strategy, berusaha meredakan kekhawatiran dengan menyebut arus keluar ETF dan belanja infrastruktur AI sebagai faktor utama tekanan harga BTC, bukan masalah fundamental perusahaan. Namun kerugian belum terealisasi Strategy terhadap kepemilikan Bitcoin kini menembus $11 miliar.
Data dari CoinGlass menunjukkan BTC/USD menghadapi minggu terburuknya di 2026 dengan penurunan lebih dari 13% dalam sepekan. Analis teknikal menunjuk level $60.000 sebagai garis pertahanan terakhir bagi bulls, bertepatan dengan Simple Moving Average 200 minggu (200-week SMA) di $61.626 โ level yang sama yang menjadi dasar selama bear market 2022.
Trader Daan Crypto Trades menyatakan bahwa tren turun masih dominan sejak Oktober 2025. "Penjual tetap memegang kendali. Setiap pantulan langsung dihadang dinding order jual di orderbook Binance," ungkap analis Exitpump.
Sementara itu, altcoin mengalami pukulan lebih parah. NEAR Protocol anjlok 15,2%, Internet Computer (ICP) turun 13,1%, dan XRP merosot 7% ke level terendah empat bulan. Hanya Bitcoin Cash (BCH) yang mencatat kenaikan tipis 1,5% di tengah lautan merah.
Standard Chartered dalam analisisnya menyebut tiga "jika" yang harus terpenuhi sebelum Bitcoin menemukan titik terendah: stabilisasi arus keluar ETF, pemulihan saham STRC Strategy di atas $100, dan meredanya rotasi modal ke sektor AI.
Satu titik terang kecil: leverage bersih Strategy yang hanya 11% berarti bahkan pada harga Bitcoin $30.000, cakupan aset terhadap utang masih tergolong konservatif. Perusahaan juga memiliki opsi menerbitkan saham MSTR dengan diskon atau menunda pembayaran dividen preferen tanpa konsekuensi gagal bayar.
Bagi investor Indonesia, volatilitas ekstrem ini menjadi pengingat pentingnya manajemen risiko di pasar kripto. Dengan ketidakpastian regulasi global dan pergeseran likuiditas ke sektor AI, tekanan pada aset digital berpotensi berlanjut hingga ada katalis bullish yang meyakinkan.
