Departemen Keuangan Amerika Serikat secara resmi menjatuhkan sanksi kepada empat bursa cryptocurrency asal Iran pada Selasa (3/6), termasuk Nobitex yang merupakan bursa kripto terbesar di negara tersebut. Langkah ini merupakan bagian dari kampanye 'Economic Fury' yang bertujuan memutus akses Iran dari sistem keuangan global.
Selain Nobitex, tiga bursa lainnya yang masuk dalam daftar hitam Office of Foreign Assets Control (OFAC) adalah Wallex, Bitpin, dan Ramzinex. Dengan sanksi ini, warga negara dan badan usaha Amerika Serikat dilarang memberikan layanan kepada platform-platform tersebut.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa rezim Iran telah menyalahgunakan teknologi aset digital untuk menghindari sanksi dan mentransfer kekayaan ke luar negeri. "Sementara ekonomi Iran jatuh bebas, rezim memilih menggunakan teknologi aset digital untuk agenda korup mereka, termasuk menghindari sanksi dan mentransfer kekayaan ke luar negeri," ujar Bessent dalam pernyataan resminya.
Data dari Chainalysis mengungkapkan bahwa Nobitex menangani sekitar 50 persen dari total volume perdagangan kripto di Iran. Platform intelijen blockchain tersebut menyebut Nobitex sebagai pusat "jalur pipa dolar digital" Iran yang memfasilitasi pembayaran untuk Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) dan entitas-entitas yang telah terkena sanksi sebelumnya.
Departemen Keuangan juga menuduh Nobitex berkontribusi pada penindasan rakyat Iran melalui fasilitasi pengawasan yang terhubung dengan negara terhadap warga sipil. CEO Nobitex, Seyed Ali Khoee, dan Chairman Amir Hossein Rad juga ikut ditambahkan ke dalam daftar sanksi OFAC.
Sanksi terbaru ini muncul hanya empat hari setelah Bessent mengungkapkan bahwa Departemen Keuangan AS telah menyita hampir 1 miliar dolar AS dalam bentuk cryptocurrency dari bursa kripto dan dompet digital Iran sejak perang Iran dimulai pada Februari lalu. Kampanye 'Economic Fury' sendiri dimulai pada 14 April, beberapa bulan setelah serangan gabungan AS-Israel ke Iran.
Pemerintahan Trump menyatakan bahwa salah satu prioritas utama Departemen Keuangan adalah mengakhiri program nuklir Iran. Bessent menegaskan bahwa Treasury akan terus melacak aliran dana, baik melalui sistem perbankan konvensional maupun aset digital.
Langkah sanksi ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat antara AS dan Iran, dengan kedua negara terus melancarkan serangan militer meskipun pembicaraan gencatan senjata masih berlangsung. Ketidakpastian situasi di Timur Tengah ini juga turut memicu volatilitas pasar kripto global, dengan Bitcoin sempat anjlok ke level $65.000 pada Rabu pagi.
Para analis keamanan siber memperingatkan bahwa sanksi terhadap infrastruktur kripto Iran dapat mendorong rezim untuk semakin mengandalkan jaringan bawah tanah dan mixer kripto guna menyamarkan transaksi, yang pada akhirnya akan mempersulit upaya penegakan hukum global.
