Pasar aset kripto kembali mengalami tekanan jual tajam pada sesi perdagangan Asia, Kamis (29/10/2026), setelah harga Bitcoin (BTC) menembus level psikologis penting dan anjlok ke bawah $80.000 per koin. Aset kripto terkemuka ini tergelincir dari level tertinggi harian di atas $81.700 menuju titik terendah sekitar $79.800, sekaligus mengakhiri fase pemulihan teknikal yang sempat bertahan selama dua hari berturut-turut. Pembalikan arah pasar secara tiba-tiba ini dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari pelemahan saham sektor teknologi global yang dipimpin oleh raksasa semikonduktor Korea Selatan, Samsung Electronics, serta sikap kebijakan moneter yang tetap ketat dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve. Akibat penurunan tajam ini, pasar derivatif kripto terhantam gelombang likuidasi paksa berskala besar yang menyapu bersih ratusan juta dolar modal para trader berleverage tinggi.
Gelombang Likuidasi Berjangka Sapu Ratusan Juta Dolar
Data pasar derivatif mencatat total likuidasi kontrak berjangka (futures) kripto mencapai angka masif sebesar $356 juta dalam kurun waktu 24 jam terakhir. Dari total kerugian tersebut, posisi beli atau long menjadi korban terbesar dengan nilai mencapai $205 juta yang terhapus akibat ketidakmampuan pelaku pasar mempertahankan margin agunan saat harga anjlok mendadak. Kontrak futures Bitcoin memimpin daftar likuidasi dengan kerugian modal mencapai $94 juta, disusul oleh kontrak berjangka Ether (ETH) yang mencatatkan likuidasi sebesar $72 juta.
Penurunan harga Bitcoin ke bawah $80.000 mempercepat aksi jual berantai di berbagai bursa derivatif utama dunia. Ketika harga spot menembus level support teknikal, order stop-loss otomatis dan likuidasi terprogram memicu tekanan jual sekunder yang semakin memperdalam koreksi pasar. Aset kripto lapis kedua turut terseret ke zona merah, di mana harga Ether merosot ke kisaran $2.321, sementara token utama lainnya seperti Solana (SOL) dan Ripple (XRP) masing-masing membukukan penurunan harian antara 1% hingga 3% seiring keringnya likuiditas beli di buku pesanan terpusat.
Sentimen Negatif Saham Samsung Menjalar ke Pasar Finansial
Pemicu utama gelombang aksi jual di pasar Asia bermula dari laporan kinerja keuangan kuartalan Samsung Electronics yang meleset dari ekspektasi tinggi para analis Wall Street dan pelaku pasar regional. Saham Samsung langsung merosot lebih dari 5% pada pembukaan perdagangan di Seoul setelah divisi semikonduktor perusahaan membukukan laba operasional sebesar 106,5 triliun won untuk periode tiga bulan yang berakhir September 2026. Meskipun angka tersebut mencerminkan lonjakan laba hingga 15 kali lipat secara tahunan, realisasi ini tetap berada di bawah konsensus analis yang memperkirakan rata-rata laba sebesar 108,5 triliun won.
Kekhawatiran investor semakin meningkat setelah manajemen Samsung mengumumkan rencana belanja modal (capex) tahun ini yang diproyeksikan mencapai 84,4 triliun won (sekitar $63 miliar), atau mengalami kenaikan sekitar 60% dibandingkan periode sebelumnya. Beban capex yang membengkak di tengah tanda-tanda normalisasi siklus memori memicu kepanikan investor ekuitas. Indeks acuan Korea Selatan, KOSPI, anjlok lebih dari 2%, sementara kontrak berjangka indeks Nasdaq AS terpangkas hingga 1,4%. Koreksi serentak pada aset berisiko teknologi ini langsung merambat ke ekosistem kripto yang memiliki korelasi beta tinggi terhadap sentimen pasar saham global.
Kebijakan Moneter Hawkish The Fed Membatasi Likuiditas Spekulatif
Tekanan eksternal semakin diperparah oleh pernyataan dari bank sentral AS, Federal Reserve, yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75% hingga 4,00%. Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, mengakui adanya kemajuan bertahap dalam menekan laju inflasi konsumen, namun menegaskan bahwa tekanan harga di tingkat dasar perekonomian masih tergolong berlebihan dan belum sepenuhnya terkendali. Lembaga perbankan global ING memproyeksikan The Fed berpeluang besar kembali menaikkan suku bunga acuan pada pertemuan Desember mendatang, melanjutkan pengetatan moneter yang telah dimulai sejak September lalu.
Kebijakan moneter yang restriktif ini menjaga imbal hasil riil (real yield) obligasi pemerintah AS tetap berada di level tinggi, yang secara langsung mengurangi daya tarik instrumen spekulatif tanpa imbal hasil tetap seperti aset kripto. Menanggapi dinamika makroekonomi ini, Chief Investment Officer of Global Fixed Income sekaligus Head of the Global Allocation Investment Team di BlackRock, Rick Rieder, mengingatkan para investor agar tidak berspekulasi ekstrem terhadap arah suku bunga. Rieder menyatakan bahwa imbal hasil riil saat ini sangat menarik dan pasar pendapatan tetap berkualitas tinggi menawarkan arus kas yang solid, sehingga pendekatan investasi berhati-hati lebih diutamakan di tengah kondisi makro yang sangat divergen.
Sumber: CoinDesk



