Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani dua perintah eksekutif pada Senin (22/6) yang bertujuan memperkuat kepemimpinan AS dalam komputasi kuantum sekaligus mempercepat transisi pemerintah federal menuju kriptografi post-kuantum. Langkah ini membawa urgensi baru bagi industri kripto yang selama ini bergulat dengan ancaman 'Q-Day', hari di mana komputer kuantum mampu memecahkan standar enkripsi yang saat ini melindungi jaringan blockchain dan dompet kripto.
Mengapa Komputasi Kuantum Mengancam Bitcoin?
Komputasi kuantum telah lama dipandang sebagai ancaman eksistensial terbesar bagi Bitcoin dan aset kripto lainnya. Teknologi ini, jika mencapai kematangan tertentu, secara teoritis dapat membalikkan kriptografi kurva eliptik (ECDSA) yang menjadi tulang punggung keamanan Bitcoin. Alamat-alamat lama dengan kunci publik terekspos, termasuk sekitar 1,1 juta BTC milik Satoshi Nakamoto, menjadi target paling rentan.
Isi Dua Perintah Eksekutif Trump
Perintah eksekutif pertama, berjudul "Ushering in the Next Frontier of Quantum Innovation"', mengarahkan lembaga federal untuk mengejar pengembangan komputer kuantum yang "relevan secara ilmiah" pada tahun 2028. Departemen Energi, Pertahanan, Perdagangan, bersama NASA, diperintahkan menyusun rencana penerapan sensor dan teknologi jaringan kuantum dalam lima tahun.
Perintah kedua berfokus pada keamanan siber. Target adopsi kriptografi post-kuantum untuk sistem federal dimajukan dari 2035 menjadi Desember 2031, dengan proyek migrasi percontohan melalui NIST harus selesai akhir 2027. Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur (CISA) juga ditugaskan mendampingi operator infrastruktur kritis dalam transisi ini.
Respons Global dan Industri Kripto
Kebijakan ini memperkuat konsensus global bahwa ancaman kuantum bukan lagi fiksi ilmiah. Google sebelumnya menetapkan deadline 2029 untuk adopsi kriptografi post-kuantum. BTQ Technologies telah meluncurkan testnet Bitcoin berbasis proposal ketahanan kuantum BIP-360. Pada April lalu, pengembang Bitcoin mengusulkan BIP-361 yang akan membekukan Bitcoin di alamat lawas yang rentan jika pemilik gagal melakukan migrasi.
Yang paling mengkhawatirkan, dewan penasihat kuantum Coinbase memperingatkan bahwa sekitar 7 juta Bitcoin — lebih dari sepertiga total suplai yang beredar — berpotensi rentan terhadap serangan kuantum. Angka ini mencakup Bitcoin yang tersimpan di alamat dengan kunci publik terekspos, termasuk dompet早期 Bitcoin dan alamat P2PK (Pay-to-Public-Key).
Siapa yang Paling Siap?
Dari sisi positif, percepatan regulasi ini mendorong seluruh ekosistem kripto untuk bergerak. Stellar baru saja merilis peta jalan migrasi kuantum, sementara Algorand menargetkan ketahanan kuantum broad pada akhir 2027. Ethereum, dengan fleksibilitas smart contract-nya, dianggap lebih siap beradaptasi dibandingkan Bitcoin yang konservatif secara protokol.
Namun tantangan terbesar tetap pada tata kelola. Upgrade sebesar migrasi kriptografi post-kuantum di Bitcoin memerlukan konsensus luas dari miner, developer, dan node operator—proses yang terkenal lambat dan penuh perdebatan. Beberapa pengamat khawatir fragmentasi komunitas bisa terjadi jika proposal BIP-360 dan BIP-361 tidak mencapai konsensus tepat waktu.
Apa Selanjutnya?
Perintah eksekutif Trump juga mencakup perluasan program pengembangan tenaga kerja, penguatan rantai pasok domestik, dan koordinasi dengan sekutu internasional. FBI akan memperluas tim kontra-intelijen khusus untuk melindungi riset kuantum dari ancaman siber dan spionase.
Dengan tenggat 2031 yang kini resmi menjadi patokan federal, industri kripto memiliki jendela waktu yang semakin sempit untuk menyelesaikan transisi ke era post-kuantum. Komunitas Bitcoin dan Ethereum kini berpacu dengan waktu—dan dengan kemajuan komputasi kuantum yang terus melesat, "Q-Day" mungkin datang lebih cepat dari perkiraan siapa pun.
Sumber: Decrypt



