Aplikasi pialang saham dan bursa kripto ternama Robinhood resmi mengumumkan peluncuran mainnet publik jaringan blockchain miliknya, Robinhood Chain, pada Rabu (1/7). Langkah strategis ini menandai titik balik penting dalam upaya perusahaan menjembatani dunia keuangan tradisional dengan keuangan terdesentralisasi (DeFi) dalam satu ekosistem terpadu.
Teknologi di Balik Robinhood Chain
Robinhood Chain dibangun di atas Arbitrum, salah satu solusi Layer-2 Ethereum paling populer, dan dideskripsikan oleh perusahaan sebagai jaringan "AI-native" โ istilah yang merujuk pada kemampuannya mendukung perdagangan yang dijalankan oleh agen kecerdasan buatan. Dengan teknologi rollup Arbitrum, jaringan ini menawarkan transaksi yang lebih cepat dan biaya yang jauh lebih rendah dibandingkan mainnet Ethereum, menjadikannya ideal untuk aplikasi keuangan skala ritel.
Kemitraan Strategis dengan Pemain Besar
Sejak awal, Robinhood Chain sudah terintegrasi dengan sejumlah pemain utama ekosistem kripto. BitGo hadir sebagai mitra kustodian institusional, sementara Chainlink menyediakan infrastruktur oracle untuk data harga on-chain yang akurat. Robinhood juga menggandeng Uniswap dan Pleiades untuk menyediakan automated market making (AMM) khusus untuk likuiditas publik dan proprietary trading. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen serius Robinhood dalam membangun fondasi DeFi yang matang sejak hari pertama.
Stock Tokens dan Fitur DeFi Baru
Salah satu fitur paling menarik dari peluncuran ini adalah "Stock Tokens" โ representasi saham perusahaan besar seperti Nvidia dan Apple dalam bentuk token di atas blockchain. Pengguna di yurisdiksi yang memenuhi syarat (tidak termasuk Amerika Serikat) dapat menempatkan Stock Tokens ini ke dalam kolam pinjaman (lending pools) dan menggunakannya sebagai agunan di protokol DeFi. Ini menjadi langkah konkret pertama tokenisasi saham oleh perusahaan publik besar yang terintegrasi langsung dengan ekosistem DeFi.
Selain itu, Robinhood juga memperluas rangkaian fitur di Robinhood Wallet. Pengguna kini dapat melakukan perdagangan perpetual (perps trading) langsung dari dompet digital mereka melalui bursa perpetual terdesentralisasi Lighter. Sementara itu, pengguna di AS yang memenuhi syarat dapat memanfaatkan Robinhood Earn, fitur yang memungkinkan peminjaman stablecoin berbasis dolar USDG dengan imbal hasil sekitar 7% APY.
Ekspansi Geografis dan Dampak Pasar
Peluncuran ini juga disertai ekspansi geografis yang signifikan. Robinhood kini membuka layanan untuk pengguna di Kanada dan segera di Singapura, menambah basis pelanggan yang sudah mencapai hampir 28 juta pengguna. Perusahaan juga mengindikasikan rencana untuk menawarkan layanan kripto kepada pengguna di Inggris dalam waktu dekat.
Saham Robinhood (HOOD) ditutup naik lebih dari 8% pada perdagangan Rabu, menembus $108,65, meskipun masih berada sekitar 29% di bawah level tertinggi 52-minggu di $153,86. Sentimen positif investor mencerminkan ekspektasi bahwa diversifikasi ke blockchain dapat membuka aliran pendapatan baru yang lebih stabil bagi perusahaan.
Analisis: Taruhan Besar di Tengah Tekanan
Namun, ekspansi ambisius ini terjadi di tengah tekanan finansial yang signifikan. Bulan lalu, Robinhood memangkas sekitar 10% tenaga kerjanya setelah pendapatan dari layanan kripto anjlok 34% secara kuartalan โ dari $221 juta menjadi $134 juta. Peluncuran blockchain ini dengan demikian dapat dilihat sebagai taruhan strategis perusahaan untuk membalikkan tren penurunan pendapatan kripto melalui inovasi produk dan diferensiasi ekosistem.
Dengan peluncuran Robinhood Chain, batas antara Wall Street dan dunia DeFi semakin kabur. Jika berhasil, inisiatif ini dapat menjadi cetak biru bagi perusahaan fintech dan pialang saham lainnya untuk membangun jembatan serupa antara keuangan tradisional dan terdesentralisasi. Namun, tantangan regulasi โ terutama di AS โ tetap menjadi rintangan signifikan yang harus dinavigasi dengan hati-hati.
Sumber: Decrypt, CoinDesk, Cointelegraph



