Keamanan

Peretas Korut Cuci $38 Juta via Relay usai THORChain Dibekukan

Peretas Korut Cuci $38 Juta via Relay usai THORChain Dibekukan

Key Takeaways

Peretas Korut melarikan $38 juta dana curian lewat Relay Protocol Bridge dalam 7 jam usai THORChain lumpuh, meski protokol mengklaim telah aktifkan filter KYT.

Penyelidik on-chain independen Specter mengungkap bahwa kelompok peretas yang terafiliasi dengan Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK) telah memindahkan aset kripto senilai $38 juta melalui jembatan lintas rantai Relay Protocol Bridge hanya dalam rentang waktu tujuh jam pada Sabtu (31/10/2026). Aliran dana curian berskala masif tersebut terpantau masih terus berlangsung secara aktif ketika laporan dipublikasikan pada pukul 20.42 UTC. Sindikat siber Korea Utara, yang diduga kuat merupakan dalang di balik pembobolan bursa kripto Binance senilai $6,3 miliar, bergerak cepat mengalihkan rute pencucian uang mereka setelah jalur utama di protokol THORChain mengalami pembekuan transaksi akibat insiden teknis reorganisasi jaringan Ethereum.

Relay Protocol Jadi Jalur Alternatif Usai THORChain Dibekukan

Berdasarkan analisis forensik Specter, pengalihan rute likuiditas ke Relay Protocol Bridge dilakukan karena pelaku tidak dapat mencuci dana dalam tempo singkat melalui THORChain. Beberapa jam sebelumnya, THORChain terpaksa membekukan seluruh fungsi pertukaran aset (swaps) di 12 blockchain setelah galat reorganisasi rantai Ethereum memicu pengembalian ganda senilai 10 ETH. Penutupan mendadak rute utama tersebut memaksa peretas mencari infrastruktur jembatan alternatif yang mampu memproses transfer bernilai jutaan dolar tanpa latensi waktu konfirmasi yang panjang.

Relay Protocol Bridge kemudian dimanfaatkan sebagai saluran utama untuk melarikan dana keluar dari pengawasan bursa terpusat. Dalam waktu kurang dari setengah hari, transaksi bernilai total $38 juta berhasil dieksekusi melintasi berbagai jaringan tanpa hambatan likuiditas yang berarti. Penyelidik mencatat bahwa peretas memanfaatkan otomasi transaksi berfrekuensi tinggi untuk memecah saldo ke berbagai alamat dompet perantara baru sebelum mengonversinya menjadi token lapis pertama yang tidak memiliki fitur pembekuan kontrak pintar oleh penerbit terpusat.

Kegagalan Sistem KYT dan Tantangan Screening On-Chain

Temuan yang paling mengejutkan dari penyelidikan Specter adalah ketidakefektifan sistem kepatuhan yang diterapkan oleh pengelola protokol. Pihak Relay Protocol sebelumnya telah mengklaim mengaktifkan sistem Know-Your-Transaction (KYT) otomatis guna mendeteksi dan memblokir alamat dompet berisiko tinggi yang terkait dengan aktivitas terlarang atau sanksi internasional. Namun, sistem penyaringan kepatuhan tersebut terbukti gagal membendung aliran dana peretas, memungkinkan transaksi bernilai puluhan juta dolar tetap diproses dan diselesaikan secara mulus di buku besar on-chain.

Kegagalan ini memicu perdebatan sengit di kalangan pengembang Web3 mengenai keandalan filter kepatuhan pada antarmuka terdesentralisasi. Para analis keamanan siber menilai bahwa banyak sistem KYT yang diintegrasikan pada protokol lintas rantai hanya bekerja pada lapisan antarmuka pengguna (frontend) atau memiliki celah latensi data antara pelabelan alamat oleh vendor analitik dan eksekusi kontrak pintar. Kelemahan arsitektur inilah yang kerap dieksploitasi oleh kelompok peretas profesional seperti Lazarus Group untuk meloloskan transaksi sebelum dompet mereka dimasukkan ke dalam daftar hitam global.

Eskalasi Pencucian Uang Lintas Jaringan dan Respons Industri

Aktivitas pencucian dana yang terus berlanjut ini menempatkan jembatan lintas rantai kembali ke pusat perhatian regulator keuangan internasional dan aparat penegak hukum federal. Hingga Sabtu malam waktu setempat, Specter menegaskan bahwa proses transfer aset curian masih terus terdeteksi di Relay Protocol Bridge, menandakan bahwa sindikat siber Korea Utara terus berkejaran dengan waktu untuk mengamankan jarahan sebelum intervensi teknis lanjutan diterapkan oleh operator validator node.

Peristiwa ini sekaligus mempertegas pola operasi terstruktur para peretas dalam mendiversifikasi jalur pelarian dana ketika satu protokol pertukaran menutup layanannya. Dengan nilai peretasan industri yang menembus rekor tertinggi sepanjang tahun 2026, koordinasi cepat antara bursa terpusat, pengembang protokol DeFi, dan penyedia analitik kepatuhan menjadi sangat krusial. Industri kripto global kini mendesak pengembang jembatan likuiditas untuk memperketat validasi transaksi di tingkat lapisan konsensus guna mencegah eksploitasi berulang oleh sindikat kejahatan siber lintas negara.

Sumber: TokenPost

Disclaimer

Artikel ini hanya untuk tujuan informasi dan edukasi. Konten yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai nasihat keuangan, investasi, atau trading. Setiap keputusan investasi adalah tanggung jawab pribadi. Selalu lakukan riset mendalam (DYOR - Do Your Own Research) sebelum berinvestasi dalam aset kripto atau digital.

Komentar (0)

Silakan login untuk bergabung dalam diskusi.

Login untuk Komentar