Protokol likuiditas lintas rantai terdesentralisasi THORChain mengaktifkan mekanisme rem darurat dan menghentikan seluruh aktivitas pertukaran aset (swaps) di 12 dari 13 blockchain yang didukungnya pada Sabtu (31/10/2026). Langkah pembekuan operasional berskala masif ini dipicu oleh anomali teknis berupa reorganisasi rantai (reorg) mendadak pada jaringan Ethereum yang menyebabkan protokol keliru memproses pengembalian dana ganda (duplicate refund) atas satu transaksi deposit 10 Ether (ETH). Menariknya, firma intelijen blockchain Chainalysis mengungkapkan bahwa pembekuan darurat ini secara tak terduga menghantam jalur pencucian uang peretas Korea Utara yang tengah berupaya melarikan dana hasil peretasan bursa Binance senilai $6,3 miliar melalui jembatan lintas rantai tersebut.
Reorganisasi Ethereum Picu Galat Pengembalian Ganda 10 ETH
Insiden bermula ketika konsensus jaringan Ethereum mengalami reorganisasi rantai tak terduga, situasi teknis di mana blok yang sempat terkonfirmasi digantikan oleh rantai blok pesaing yang lebih panjang. Bagi protokol lintas rantai seperti THORChain yang memantau transaksi masuk di rantai eksternal, penulisan ulang riwayat transaksi Ethereum tersebut membuat sistem mendeteksi peristiwa yang sama dua kali. Akibatnya, kontrak pintar protokol secara otomatis mengeksekusi pengembalian dana dua kali berturut-turut untuk deposit sebesar 10 ETH.
Menyadari anomali pembayaran ganda tersebut, sistem pengaman internal THORChain langsung memicu suspensi darurat otomatis guna melindungi cadangan likuiditas kolam. Mekanisme penghentian perdagangan lintas rantai ini dapat berlangsung hingga 720 blok atau sekitar 1,5 jam, dengan opsi perpanjangan melalui konsensus pemungutan suara (voting) para operator node validator. Kendati aktivitas swap dibekukan di 12 blockchain, fungsi penandatanganan transaksi keluar (outbound signing) dilaporkan tetap aktif di sebagian besar jaringan terdampak agar penarikan tertunda tidak terkunci permanen.
Chainalysis Deteksi Rute Pencucian Dana Peretas Binance Terganggu
Dampak suspensi darurat ini meluas jauh melampaui kerugian teknis 10 ETH. Analisis forensik on-chain dari Chainalysis mengonfirmasi bahwa rute swap lintas rantai yang dibekukan THORChain tengah dimanfaatkan secara aktif oleh kelompok peretas terafiliasi Republik Demokratik Rakyat Korea (DPRK/Lazarus Group). Sindikat siber tersebut berupaya mengonversi aset hasil pembobolan dompet bursa Binance menjadi koin lapis pertama (L1) native guna menghindari pembekuan smart contract stablecoin yang digencarkan penerbit tersentralisasi.
Dengan dibekukannya fitur swap di 12 jaringan blockchain utama, upaya peretas untuk memecah dan memindahkan likuiditas curian secara cepat seketika terhenti di tengah jalan. Penundaan operasional yang tidak disengaja ini memberikan jeda waktu krusial bagi aparat penegak hukum internasional, tim investigasi federal, dan analis keamanan bursa untuk melacak pergerakan dompet perantara sebelum aset dikonversi ke jaringan privat. Chainalysis menegaskan bahwa jeda likuiditas ini murni dipicu respons protokol terhadap insiden reorg Ethereum, bukan intervensi terkoordinasi yang disengaja terhadap dompet kriminal.
Tantangan Keamanan Lintas Rantai dan Ketergantungan Ekosistem RUNE
Peristiwa ini kembali menyoroti kerentanan mendasar protokol likuiditas terdesentralisasi yang mengandalkan interoperabilitas tanpa perantara bursa terpusat. THORChain beroperasi menggunakan token tata kelola native RUNE untuk memfasilitasi pertukaran langsung antar-aset kripto native, seperti Bitcoin, Ethereum, dan Avalanche. Namun, arsitektur yang menghubungkan belasan jaringan independen ini memiliki konsekuensi di mana anomali pada satu rantai acuan—seperti pergeseran blok Ethereum—dapat melumpuhkan stabilitas operasional di hampir seluruh ekosistem protokol.
Insiden pada akhir Oktober ini tercatat bukan yang pertama bagi THORChain di tahun 2026, setelah sebelumnya protokol sempat mengalami pembekuan operasional akibat eksploitasi dan gangguan komunikasi rantai pada Zcash (ZEC) serta TRON. Komunitas dan operator node saat ini tengah mengevaluasi perbaikan logika penanganan latensi finalitas Ethereum agar kejadian serupa tidak terulang, sembari memperdebatkan peran desentralisasi protokol ketika fasilitas likuiditas bebas izin (permissionless) mereka terus dijadikan target utama rute pencucian uang peretasan skala global.
Sumber: TokenPost



