Pasar kripto mencatat penurunan dramatis sepanjang paruh pertama 2026, dengan Bitcoin terperosok lebih dari 50 persen dari rekor tertingginya di $126.000 pada Oktober tahun lalu. Dalam wawancara eksklusif bersama CoinDesk di Washington, pendiri Binance Changpeng "CZ" Zhao akhirnya buka suara dan mengurai tiga faktor utama yang menjadi biang kerok di balik kejatuhan ini: pergeseran modal ke kecerdasan buatan (AI), ketegangan geopolitik global, dan siklus empat tahunan pasar kripto.
"Saya tidak khawatir tentang industri ini atau fluktuasi harga jangka pendek," tegas CZ. Mantan CEO Binance ini menegaskan keyakinannya bahwa dalam jangka panjang, permintaan terhadap teknologi finansial akan terus meningkat seiring pertumbuhan volume transaksi global, dan fundamental industri tetap kokoh meskipun harga sedang tertekan.
Bitcoin Anjlok 50% dari Puncak Oktober
Bitcoin membuka tahun 2026 di kisaran $89.000 dan sempat menyentuh $96.000 sebelum akhirnya merosot ke sekitar $60.000 pada akhir Juni. Jika ditarik mundur 12 bulan, penurunannya bahkan lebih tajam โ Bitcoin mencapai all-time high di atas $126.000 pada Oktober 2025 dan kini telah kehilangan sekitar setengah nilainya. Kapitalisasi pasar kripto global pun menyusut triliunan dolar dalam periode yang relatif singkat.
Hot Money Kabur ke AI
CZ menyoroti fenomena "hot money" โ modal spekulatif yang berpindah cepat antar sektor โ yang kini bermigrasi dari kripto ke industri AI. Menurutnya, investor yang sebelumnya memarkir dana di aset digital kini beralih ke perusahaan AI yang menjanjikan pertumbuhan eksponensial. Meski terdengar mengkhawatirkan, CZ justru menilai pergeseran ini positif dalam jangka panjang. "Industri baru seperti AI menyerap hot money dari kripto, dan ini akan menjadi hal yang positif seiring waktu," jelasnya. Ia meyakini inovasi di sektor AI pada akhirnya akan kembali bersinggungan dengan teknologi blockchain dan menciptakan nilai baru bagi ekosistem kripto secara keseluruhan.
Faktor kedua yang disorot adalah ketegangan geopolitik global yang semakin memanas. Ketidakpastian kebijakan perdagangan, konflik regional yang berkepanjangan, dan persaingan kekuatan besar telah mendorong investor beralih ke aset safe haven tradisional seperti emas, obligasi pemerintah, dan dolar AS. Aset digital yang masih dipersepsikan berisiko tinggi menjadi korban pertama dari pergeseran selera risiko ini.
Kondisi ini diperburuk oleh siklus empat tahunan pasar kripto yang secara historis konsisten. Tahun keempat pasca-halving โ yang jatuh pada 2026 โ secara historis cenderung menjadi periode konsolidasi dan koreksi setelah reli besar di tahun-tahun sebelumnya. Pola ini pernah terjadi pada 2014, 2018, dan 2022, dan tampaknya berulang kembali.
Regulasi dan Politik AS Jadi Sorotan
Dalam wawancara yang sama, CZ juga menanggapi perkembangan regulasi di Amerika Serikat. Digital Asset Market Clarity Act (Clarity Act) โ undang-undang kripto komprehensif yang tengah dibahas di Kongres AS โ masih menghadapi jalan terjal. Meski berharap RUU tersebut lolos tahun ini, CZ menyebut regulasi semacam ini bersifat "taktis" dan tidak akan berdampak fundamental pada pertumbuhan jangka panjang kripto. "Bahkan jika Clarity Act tidak menjadi undang-undang tahun ini, saya perkirakan AS akan tetap memimpin dalam regulasi kripto," ujarnya, seraya menambahkan bahwa banyak negara lain juga tengah memperkenalkan aturan serupa.
Menariknya, CZ juga membahas dinamika politik AS menjelang pemilu paruh waktu November mendatang. Ia memperingatkan bahwa politisi yang bersikap anti-kripto berisiko kehilangan suara signifikan dari konstituen yang sudah terpapar aset digital. "Siapa pun yang anti-kripto sekarang mungkin akan kehilangan cukup banyak suara," katanya lugas. Namun ia menegaskan akan menjaga jarak dari politik elektoral AS mengingat statusnya sebagai warga negara asing yang dilarang terlibat langsung dalam politik Amerika.
Prediction Market dan Masa Depan Kripto
Terkait tren prediction market yang tengah naik daun, CZ memberikan pandangan positif. Ia menilai platform prediksi terdesentralisasi dapat menjadi alat penemuan harga (price discovery) yang semakin penting, memungkinkan publik menentukan harga aset dan probabilitas peristiwa dengan lebih akurat. Meski mengakui adanya komponen spekulatif, ia justru melihat spekulasi sebagai penyedia likuiditas yang esensial bagi pasar keuangan modern.
Dengan sebagian besar kekayaan pribadinya tersimpan dalam token BNB, CZ memiliki kepentingan langsung terhadap kesehatan pasar kripto. Namun pengalamannya lebih dari satu dekade membangun Binance dari nol menjadi bursa kripto terbesar di dunia memberikan bobot tersendiri pada analisisnya. Dengan pendekatan realistis namun tetap optimistis, CZ menegaskan bahwa badai yang melanda pasar kripto saat ini hanyalah bagian dari evolusi industri yang lebih luas dan fundamental jangka panjang tetap solid.
Bagi investor kripto di Indonesia, perspektif pendiri Binance ini bisa menjadi panduan berharga dalam menavigasi volatilitas pasar dan memahami arah industri ke depan โ termasuk potensi persinggungan blockchain dengan AI yang semakin nyata.
Sumber: CoinDesk โ "Binance founder CZ blames crypto's sour 2026 on mix of AI, global tension, 4-year cycle" oleh Nikhilesh De (27 Juni 2026).



