Langkah Besar Perbankan AS
Persaingan memperebutkan dominasi uang digital di atas infrastruktur blockchain memasuki babak baru. Bank-bank raksasa Amerika Serikat secara resmi mengumumkan rencana membangun jaringan deposit tokenisasi bersama, sebuah langkah strategis yang secara langsung menantang pertumbuhan stablecoin seperti USDC dan USDT.
JPMorgan Chase, Bank of America, Citigroup, dan sejumlah bank besar lainnya pada Jumat (6/6) mengonfirmasi akan meluncurkan jaringan deposit tokenisasi melalui The Clearing House pada paruh pertama 2027. Proyek ambisius ini memungkinkan simpanan bank berpindah melalui infrastruktur blockchain dengan penyelesaian transaksi 24 jam, memberikan uang bank tradisional kemampuan yang selama ini menjadi keunggulan kompetitif stablecoin.
Dari Eksperimen ke Infrastruktur Bersama
Inisiatif ini bukanlah langkah yang tiba-tiba. Selama bertahun-tahun, bank-bank besar AS telah bereksperimen dengan sistem blockchain privat seperti JPM Coin dan Onyx. Namun proyek terbaru ini menandai eskalasi signifikan: alih-alih sistem internal tertutup, jaringan ini akan menghubungkan berbagai bank dalam satu infrastruktur bersama, memperluas jangkauan dan interoperabilitas deposit tokenisasi secara fundamental.
Menurut Reid Noch, Vice President of U.S. Equity Market Structure di TD Securities, lanskap persaingan kini semakin jelas. "Mengikuti GENIUS Act, persaingan tampaknya mulai muncul antara stablecoin, deposit tokenisasi, dan reksa dana pasar uang tokenisasi untuk menjadi instrumen kas onchain yang paling disukai," ujarnya. GENIUS Act sendiri merupakan regulasi stablecoin AS yang memberikan kerangka hukum bagi penerbit stablecoin, sekaligus membuka jalan bagi bank untuk merespons secara kompetitif.
Ancaman Stablecoin dan Respons Perbankan
Dorongan di balik langkah bank sangat jelas: mencegah drainase simpanan. Stablecoin, khususnya USDC milik Circle dan USDT milik Tether, mengalami pertumbuhan eksplosif dan semakin banyak digunakan tidak hanya untuk perdagangan kripto, tetapi juga pembayaran lintas batas dan produk tabungan. Jika stablecoin menjadi arus utama, simpanan nasabah berpotensi bermigrasi dari rekening bank tradisional ke dompet kripto โ sebuah ancaman eksistensial bagi model bisnis perbankan.
Data dari Jefferies pada Maret lalu memperkirakan stablecoin dapat mendorong pengurasan 3% hingga 5% simpanan inti bank dalam lima tahun ke depan dan mengurangi laba rata-rata bank sekitar 3%. Angka yang cukup signifikan untuk membuat para eksekutif perbankan bergerak cepat, meskipun beberapa di antaranya โ termasuk CEO JPMorgan Jamie Dimon โ secara publik sempat meremehkan ancaman stablecoin.
Deposit Tokenisasi vs Stablecoin: Perbedaan Kunci
Namun, deposit tokenisasi berbeda secara fundamental dari stablecoin. Alih-alih menciptakan token yang beredar bebas di blockchain publik, deposit tokenisasi merepresentasikan simpanan nasabah dalam bentuk token digital yang dapat bergerak di atas rel blockchain, namun tetap berada dalam sistem perbankan yang teregulasi. Ini adalah pendekatan "onchain tapi terkontrol" โ memberikan efisiensi blockchain tanpa melepaskan kendali.
Noch menambahkan bahwa deposit tokenisasi mengatasi inefisiensi pembayaran global yang sudah berlangsung lama. "Siapa pun yang pernah mentransfer uang, terutama secara internasional, tahu prosesnya bisa mahal dan sering memakan waktu satu atau dua hari kerja," katanya. Infrastruktur blockchain memungkinkan transfer hampir instan sepanjang waktu sekaligus mengurangi biaya dan friksi penyelesaian.
Respons Industri dan Masa Depan
Cody Carbone, CEO Digital Chamber, menyambut baik langkah ini sebagai validasi industri. "Bank-bank terbesar di Amerika secara sukarela masuk onchain. Ketika institusi terbesar negara memutuskan masa depan keuangan berjalan di atas blockchain, mereka membuktikan apa yang selama ini dibangun oleh industri kami," tegasnya.
Meski demikian, Noelle Acheson, penulis "Crypto is Macro Now," mengingatkan bahwa pendekatan perbankan tetap berbeda tajam dari visi jaringan terbuka kripto. Bank telah menghabiskan bertahun-tahun bereksperimen dengan sistem blockchain privat yang memindahkan uang secara internal sambil mempertahankan kontrol ketat atas pengguna dan transaksi. Jaringan The Clearing House memperluas model itu ke berbagai bank, tetapi tetap jauh dari ekosistem blockchain publik tempat stablecoin beredar bebas.
Acheson berpendapat bahwa banyak nasabah korporat mungkin lebih memilih sistem yang didukung bank dan sesuai dengan kerangka kepatuhan yang ada, meskipun stablecoin menawarkan likuiditas dan fleksibilitas lebih besar. Pilihan antara kebebasan stablecoin dan keamanan deposit tokenisasi akan menjadi pertarungan utama dalam beberapa tahun mendatang.
Kesimpulan
Terlepas dari hasil akhirnya, satu hal sudah jelas: teknologi blockchain telah bergerak jauh melampaui eksperimen. Ketika JPMorgan, Bank of America, dan Citigroup โ tiga institusi keuangan terbesar AS โ secara sukarela membangun infrastruktur onchain, transformasi keuangan tradisional bukan lagi pertanyaan "apakah" melainkan "seberapa cepat".
Sumber: CoinDesk โ "America's Largest Banks Are Building a New Digital Currency Network to Stop a Massive Deposit Drain" (6 Juni 2026).



