Aave Labs mengumumkan perombakan besar terhadap standar penilaian aset yang bisa dijadikan jaminan di protokolnya, menyusul eksploit besar yang menimpa KelpDAO dan mengguncang ekosistem DeFi. Langkah ini muncul setelah penyerang memanfaatkan jembatan lintas-chain KelpDAO untuk mencetak sekitar 116.500 token rsETH tanpa dukungan aset riil, dengan nilai mencapai sekitar US$293 juta atau sekitar Rp4,8 triliun.
Menurut laporan CoinDesk yang terbit 7 Mei 2026, token rsETH hasil eksploit kemudian disetor ke Aave sebagai agunan untuk meminjam wrapped ether asli. Akibatnya, Aave terancam menanggung utang bermasalah dalam jumlah ratusan juta dolar. Insiden ini disebut sebagai salah satu eksploit DeFi terbesar sepanjang 2026 dan kembali menyoroti lemahnya pengawasan risiko teknis di sektor keuangan terdesentralisasi.
Chief Legal and Policy Officer Aave Labs, Linda Jeng, mengatakan bahwa kerangka risiko lama Aave terlalu sempit karena lebih banyak menilai risiko finansial dan volatilitas harga. Ke depan, setiap aset yang ingin masuk ke Aave akan diperiksa lebih ketat, bukan hanya dari sisi pasar, tetapi juga dari interoperabilitas, potensi celah keamanan siber, dan desain arsitektur teknologinya.
Tak hanya itu, Aave juga akan menerbitkan playbook resmi berisi standar minimum bagi penerbit aset sebelum bisa listing di protokol. Perusahaan juga mulai menilai keterkaitan sistemik antarprotokol DeFi, agar dampak krisis di satu proyek tidak cepat menular ke ekosistem lain.
Sebagai respons darurat, sejumlah pelaku industri membentuk inisiatif DeFi United untuk membantu menutup kekurangan agunan dan mencegah penyebaran bad debt lebih luas. Beberapa nama besar seperti Lido, EtherFi, dan Ethena disebut ikut memberi komitmen dalam upaya penyelamatan ini.
Kasus ini berpotensi menjadi titik balik penting bagi industri DeFi. Jika sebelumnya fokus utama hanya pada likuiditas dan imbal hasil, kini keamanan infrastruktur dan kualitas integrasi lintas-protokol menjadi sorotan utama. Bagi investor, insiden ini menjadi pengingat keras bahwa risiko hack dan desain protokol masih menjadi ancaman besar, bahkan di platform dengan reputasi besar sekalipun.
Sumber: CoinDesk
