Presiden Bank Sentral Eropa atau ECB, Christine Lagarde, kembali mengerem antusiasme terhadap stablecoin berbasis euro. Dalam forum ekonomi Banco de España LatAm di Spanyol, Lagarde menegaskan bahwa stablecoin euro bukan cara yang efisien untuk memperkuat peran mata uang tunggal Eropa di panggung global. Pernyataan itu langsung memicu perdebatan baru di industri aset digital, karena datang di saat pasar stablecoin dunia terus membesar dan hampir seluruh likuiditasnya dikuasai dolar AS. Bagi pelaku industri kripto, sikap ECB memberi sinyal bahwa Eropa masih berhati-hati bahkan cenderung defensif terhadap inovasi privat di sektor pembayaran digital. Sebaliknya, bagi otoritas moneter, laju adopsi stablecoin justru membawa risiko sistemik yang tidak boleh diremehkan. Dengan kata lain, debat tentang stablecoin kini telah bergeser dari eksperimen teknologi menjadi pertarungan arah kebijakan ekonomi lintas kawasan. Ini membuat setiap komentar pejabat bank sentral segera diterjemahkan pasar sebagai sinyal strategis jangka panjang.Perdebatan soal stablecoin di Eropa sebenarnya sudah berlangsung lama, tetapi nadanya berubah setelah Amerika Serikat makin agresif menata regulasi sektor ini. Pemerintah AS mendorong kerangka hukum yang dinilai bisa memperkuat dominasi dolar melalui stablecoin yang didukung obligasi pemerintah. Di sisi lain, kawasan euro masih fokus pada proyek euro digital dan penguatan infrastruktur pembayaran yang dikendalikan bank sentral. Lagarde menilai Eropa tidak perlu meniru instrumen yang berkembang di yurisdiksi lain jika tujuan strategisnya berbeda. Menurutnya, jalan yang lebih tepat adalah memperdalam integrasi pasar modal, memperkuat aset aman berbasis euro, dan membangun infrastruktur penyelesaian transaksi yang sesuai dengan kepentingan Eropa. Pandangan ini menunjukkan bahwa ECB ingin euro digital menjadi tulang punggung inovasi pembayaran, bukan stablecoin yang diterbitkan sektor swasta.
Dalam paparannya, Lagarde menyebut dua risiko material dari stablecoin. Pertama adalah risiko stabilitas keuangan, karena stablecoin merupakan kewajiban entitas privat yang sangat bergantung pada kualitas cadangan dan kepercayaan pasar. Ia menyinggung episode depeg USDC pada 2023, ketika sekitar 3,3 miliar dolar cadangan Circle terpapar krisis Silicon Valley Bank dan harga token sempat jatuh ke sekitar 0,877 dolar. Risiko kedua adalah transmisi kebijakan moneter. Jika dana masyarakat berpindah besar-besaran dari bank ke stablecoin non-bank, kemampuan perbankan menyalurkan kredit bisa melemah dan efektivitas suku bunga kebijakan ikut tergerus. Sementara itu, pelaku industri seperti CEO t-0 James Brownlee dan CEO MANSA Mouloukou Sanoh menilai penolakan terhadap stablecoin euro justru berisiko membuat Eropa makin tertinggal ketika pasar global sudah dikuasai token dolar.
Bagi pasar kripto, komentar Lagarde mempertegas bahwa pertarungan terbesar stablecoin bukan lagi soal teknologi, melainkan arah politik dan desain sistem keuangan. Untuk investor Indonesia, isu ini penting karena struktur pasar stablecoin global ikut memengaruhi likuiditas lintas bursa, biaya transfer, hingga dominasi pasangan perdagangan berbasis dolar. Jika Eropa tetap lambat mendorong alternatif stablecoin euro, dominasi dolar on-chain berpotensi makin kuat, dan itu bisa membuat ekosistem internasional semakin terpusat pada issuer besar dari AS. Di sisi lain, pendekatan konservatif ECB juga memberi pelajaran bahwa regulasi yang jelas belum tentu identik dengan dukungan penuh terhadap inovasi privat. Pasar akan mencermati apakah Eropa akhirnya membuka ruang kompromi, atau memilih mempercepat euro digital sebagai jawaban atas kebutuhan pembayaran blockchain.
Untuk saat ini, pasar membaca pernyataan Lagarde sebagai sinyal bahwa kebijakan stablecoin di Eropa akan tetap ketat dan berorientasi mitigasi risiko. Namun perdebatan belum selesai, karena kebutuhan atas alat pembayaran digital lintas batas terus meningkat. Jika penggunaan stablecoin terus tumbuh sementara alternatif berbasis euro tertahan, tekanan terhadap pembuat kebijakan Eropa bisa makin besar. Investor dan pelaku industri kini menunggu apakah ECB akan menawarkan jalur inovasi yang lebih konkret, atau justru mempertahankan posisi kerasnya di tengah ekspansi cepat stablecoin global. Sikap ini juga bisa memengaruhi keputusan startup, issuer, dan pengembang infrastruktur yang sedang memilih yurisdiksi paling ramah untuk membangun produk pembayaran berbasis blockchain. Sumber: https://decrypt.co/367265/ecbs-lagarde-pushes-back-on-euro-stablecoins-warns-of-structural-weaknesses
