Di tengah meningkatnya kompleksitas ancaman siber dalam ekosistem aset digital, CertiK, firma audit keamanan blockchain terkemuka, mengumumkan rencananya untuk melakukan Penawaran Umum Perdana (IPO) di bursa Amerika Serikat. Langkah strategis ini menargetkan valuasi sebesar $2 miliar, menyamai capaian valuasi mereka pada putaran pendanaan Seri C tahun 2022.
Didukung oleh investor kelas kakap seperti Insight Partners, Tiger Global, dan Advent International, CertiK berambisi memperluas jangkauan layanan keamanannya. Ronghui Gu, Co-founder CertiK, menyatakan, "IPO ini adalah akselerator bagi inovasi kami, terutama dalam pengembangan teknologi deteksi kerentanan smart contract yang lebih canggih."
Rekam jejak CertiK mencakup audit terhadap lebih dari 4.000 proyek blockchain, termasuk nama-nama besar seperti Binance dan Chainlink, dengan klaim keberhasilan mencegah potensi kerugian hingga miliaran dolar.
Michael Lee, pakar cybersecurity dari Bloomberg, menyoroti bahwa tren IPO di sektor keamanan ini didorong oleh desakan regulasi global dan kebutuhan pasar akan standar keamanan yang lebih tinggi. "Insiden eksploitasi yang baru-baru ini menimpa protokol seperti Saga dan Makina telah mendongkrak permintaan audit ke level tertinggi baru," jelasnya. CertiK juga diketahui tengah meluncurkan perangkat verifikasi berbasis AI untuk memperkuat infrastruktur blockchain.
Di kancah domestik, CertiK telah menjalin kemitraan strategis dengan sejumlah bursa kripto lokal di Indonesia. Budi Santoso, Ketua Asosiasi Blockchain Indonesia, menekankan urgensi audit dalam membangun kepercayaan investor ritel. "Keamanan adalah fondasi, terutama belajar dari insiden kebocoran data masa lalu," tegasnya.
Pasar merespons rencana ini dengan antusiasme yang tercermin dari kenaikan saham-saham terkait sektor kripto. Dengan target perampungan IPO pada pertengahan 2026, CertiK diharapkan dapat menetapkan standar keamanan baru bagi industri aset digital, khususnya di wilayah Asia.
