Bursa aset kripto terbesar di dunia, Binance, secara resmi membuka kembali layanan penarikan Bitcoin (BTC) pada Minggu (1/11/2026). Langkah pembukaan ini menandai fase awal pemulihan operasional terencana menyusul insiden pembobolan hot wallet berskala masif senilai $6,3 miliar yang terdeteksi pada 29 Oktober lalu. Manajemen Binance menetapkan jaringan Bitcoin sebagai rantai pertama yang dipulihkan akses penarikannya, sebelum secara bertahap memperluas fasilitas serupa ke belasan ekosistem blockchain utama lainnya guna memastikan kestabilan likuiditas serta integritas sistem verifikasi transaksi.
Tahapan Pemulihan Penarikan dan Verifikasi 15 Jaringan Utama
Proses reaktivasi penarikan dana nasabah dijalankan melalui jendela waktu pemulihan bertahap yang dijadwalkan berlangsung antara pukul 01.00 hingga 04.00 ET (06.00–09.00 UTC) pada hari Minggu. Pada fase pertama pemulihan ini, Binance menargetkan cakupan hingga 15 jaringan blockchain secara bertahap. Selain jaringan Bitcoin asli, rencana pembukaan penarikan mencakup aset berkapitalisasi besar seperti Ether (ETH), Tether (USDT), dan USD Coin (USDC) di jaringan Ethereum, serta koin bawaan BNB beserta kedua stablecoin tersebut di jaringan BNB Smart Chain.
Pihak bursa menegaskan bahwa seluruh rute transaksi penarikan akan diaktifkan secara progresif setelah melewati audit dan pemeriksaan keamanan ketat di setiap simpul jaringan. Manajemen Binance juga mengingatkan para nasabah bahwa proses penarikan berpotensi mengalami antrean atau keterlambatan sementara selama masa peralihan bertahap ini. Seluruh pengguna diminta memeriksa ketersediaan operasional dari masing-masing aset dan jaringan secara mandiri pada dasbor akun, sementara fasilitas setoran (deposit) dipastikan tetap berjalan normal tanpa interupsi.
Penutupan Defisit Cadangan 95% dan Jaminan Solvensi 10 Aset
Dalam pernyataan resmi terbarunya, manajemen Binance mengonfirmasi bahwa perusahaan telah berhasil menutupi sekitar 95% dari total nilai aset yang terdampak peretasan. Angka pemulihan likuiditas ini meningkat signifikan dibandingkan pembaruan sebelumnya yang mencatat rasio penutupan sebesar 90%. Manajemen menekankan bahwa persentase 95% ini mencerminkan pengisian kembali cadangan aset (replenishment) dari kas internal dan alokasi dana darurat korporasi, bukan sekadar pelacakan dana curian yang dilarikan peretas.
Selain itu, Binance memastikan bahwa saldo simpanan nasabah untuk 10 aset kripto utama telah memiliki penjaminan cadangan penuh (100% backed) dengan rasio 1:1. Penutupan defisit ini dilakukan melalui kombinasi injeksi modal cadangan bursa, pembelian aset pengganti di pasar spot dan over-the-counter (OTC), serta pembekuan koordinatif puluhan juta dolar dana curian oleh penerbit stablecoin Tether dan Circle sesaat setelah peretasan terjadi pada pukul 16.05 ET (20.05 UTC) pada 29 Oktober.
Mitigasi Risiko Sistemik dan Target Bukti Cadangan zk-SNARKs
Langkah cepat Binance mereaktivasi penarikan dan mengamankan solvabilitas kas internal dinilai berhasil meredam kepanikan pasar yang sempat memicu ancaman penarikan massal (bank run) dan efek penularan sistemik ke ekosistem keuangan terdesentralisasi (DeFi). Untuk membuktikan transparansi neraca secara independen, snapshot cadangan aset telah diambil pada pukul 20.00 ET tanggal 30 Oktober, mencakup verifikasi saldo kas bursa terhadap total kewajiban simpanan pengguna secara riil.
Sebagai puncak dari proses pertanggungjawaban publik, Binance menargetkan publikasi penuh audit Proof of Reserves berbasis kriptografi zero-knowledge (zk-SNARKs) pada rentang waktu 2 hingga 3 November waktu setempat. Laporan kriptografi ini dirancang untuk memverifikasi secara matematis bahwa bursa memegang seluruh cadangan aset pengguna tanpa membocorkan saldo privat nasabah, sekaligus memulihkan kepercayaan investor global pasca serangan siber terbesar dalam sejarah industri aset digital.
Sumber: TokenPost



