Tiga raksasa perbankan investasi Wall Street—Goldman Sachs, Wells Fargo, dan Morgan Stanley—secara terbuka menegaskan bahwa teknologi tokenisasi aset riil (real-world assets/RWA) bukan merupakan ancaman disrupsi, melainkan mesin pertumbuhan pendapatan baru bagi sektor keuangan tradisional. Dalam laporan kinerja keuangan kuartal ketiga (Q3) 2026 yang dirilis pekan ini, jajaran eksekutif puncak ketiga institusi tersebut menguraikan peta jalan ekspansi digital masing-masing, mulai dari otomatisasi perdagangan instrumen pasar modal, pengiriman dana lintas batas berbasis deposito tertokenisasi, hingga layanan penasihat kekayaan digital. Langkah terkoordinasi ini menandai pergeseran fundamental institusi perbankan global dari sekadar eksplorasi awal menuju integrasi komersial infrastruktur blockchain ke dalam pasar keuangan utama.
Goldman Sachs dan Replikasi Transformasi Perdagangan Elektronik
Chief Executive Officer (CEO) Goldman Sachs, David Solomon, menekankan bahwa gelombang tokenisasi, keuangan terdesentralisasi (DeFi), dan pasar prediksi berpotensi mendongkrak pendapatan meja perdagangan (trading desk), alih-alih menggerus pangsa pasar perseroan. Solomon membandingkan fase transisi blockchain saat ini dengan revolusi perdagangan saham elektronik yang terjadi sekitar 50 tahun silam, di mana kekhawatiran serupa sempat mencuat sebelum akhirnya justru memperbesar volume perdagangan ekuitas institusional secara eksponensial.
Menurut Solomon, kemajuan infrastruktur terdesentralisasi secara langsung menciptakan ragam produk keuangan baru, memperluas kanal distribusi likuiditas, serta menarik basis klien yang lebih heterogen. Sejak membangun platform aset digital GS DAP pada tahun 2022, Goldman Sachs telah aktif melakukan uji coba tokenisasi pada obligasi korporasi, reksa dana pasar uang, dan aset real estat. Pada Juli 2026, bank investasi ini turut berpartisipasi dalam uji coba sistem tokenisasi Depository Trust and Clearing Corporation (DTCC), entitas kustodi sentral yang memproses transaksi pasar sekuritas AS hingga ribuan triliun dolar per tahun.
Terobosan Deposito Tertokenisasi Wells Fargo di Jalur Lintas Batas
Berbeda dengan fokus perdagangan Goldman Sachs, Wells Fargo memprioritaskan efisiensi transmisi moneter melalui penerapan deposito tertokenisasi (tokenized deposits) untuk penyelesaian pembayaran lintas negara. Chief Financial Officer (CFO) Wells Fargo, Michael Santomassimo, mengungkapkan bahwa sistem tersebut telah berjalan penuh di lingkungan produksi komersial, dengan kecepatan eksekusi transfer dana antar-rekening penerima tuntas dalam waktu kurang dari dua menit.
Inovasi berbasis buku besar terdistribusi ini memberikan keunggulan kompetitif strategis bagi Wells Fargo, khususnya dalam mengatasi keterbatasan jaringan kantor cabang fisik internasional perseroan dibandingkan para pesaing global. Melalui integrasi pembayaran berbasis blockchain, perseroan mampu mengamankan pangsa pasar remitansi korporasi global tanpa membebani neraca dengan ekspansi fisik. Selain transfer dana, manajemen Wells Fargo kini tengah merancang perluasan implementasi ke ranah sekuritas tertokenisasi, aset riil (RWA), dan fasilitas transaksi aset kripto terkurasi bagi nasabah segmen wealth management.
Morgan Stanley dan Paradigma Baru Layanan Penasihat Keuangan
Di sisi pengelolaan kekayaan, Morgan Stanley menyoroti aspek strategis perpindahan modal yang semakin instan di era Web3. CFO Morgan Stanley, Sharon Yeshaya, menggarisbawahi bahwa kemudahan pemindahan aset digital justru akan melipatgandakan kebutuhan investor institusi maupun ritel terhadap jasa konsultasi profesional. Likuiditas yang bergerak tanpa hambatan menuntut manajemen risiko portofolio yang lebih dinamis dan terstruktur.
Yeshaya menegaskan bahwa Morgan Stanley terus memompa investasi modal pada kapabilitas infrastruktur digital di divisi wealth management dan sekuritas institusional. Keberadaan aset tertokenisasi dinilai menyederhanakan siklus kliring dan penyelesaian transaksi (settlement), memangkas biaya operasional perantara, serta mengurangi risiko counterparty. Sinergi antara keandalan sistem perbankan konvensional dan fleksibilitas teknologi blockchain ini diproyeksikan menjadi katalis utama likuiditas pasar modal global menuju efisiensi modal penuh sepanjang akhir 2026 dan seterusnya.



