Tether resmi memimpin putaran pendanaan awal (pre-seed) untuk perusahaan teknologi finansial asal Bolivia, Peso, dalam langkah strategis memperluas infrastruktur pembayaran berbasis stablecoin USDT di kawasan Amerika Latin. Investasi ini difokuskan untuk mendukung penetrasi Peso dalam mengintegrasikan transaksi USDT ke dalam ekosistem perdagangan harian, merchant ritel, serta jaringan perbankan domestik. Melalui kemitraan ini, konsumen di Bolivia kini dapat memanfaatkan aset digital dolar untuk bertransaksi langsung pada sektor konsumsi primer, menandai pergeseran penting adopsi kripto dari instrumen spekulasi menjadi alat penyelesaian pembayaran riil.
Integrasi Pembayaran USDT pada Layanan Yango dan Perbankan
Fintech Peso telah mengintegrasikan modul pembayaran USDT ke dalam aplikasi pemesanan dan pengantaran makanan Yango di Bolivia. Integrasi operasional ini memungkinkan ribuan pengguna aktif melakukan penyelesaian tagihan pesanan makanan harian menggunakan saldo stablecoin secara instan. Selain menyasar ekosistem ride-hailing dan delivery, Peso turut menyediakan infrastruktur terminal point-of-sale (POS) bagi pedagang fisik serta fasilitas pembayaran berbasis kode respons cepat (QR code) yang mempermudah kasir toko dalam menerima dolar digital tanpa friksi konversi valuta rumit.
Guna menghubungkan likuiditas on-chain dengan sistem keuangan konvensional, platform Peso juga menyediakan fasilitas rekening virtual yang terhubung langsung ke jaringan perbankan nasional Bolivia melalui mekanisme transfer Automated Clearing House (ACH). Skema kliring antarbank ini memfasilitasi konversi mulus antara mata uang fiat boliviano dan USDT, sehingga pelaku usaha mikro maupun korporasi dapat menyelesaikan kewajiban dagang lintas kanal tanpa perlu bergantung pada ketersediaan uang tunai kertas yang kian terbatas di pasar domestik.
Lonjakan Permintaan Dolar Digital di Tengah Inflasi Bolivia
Masuknya pendanaan dari Tether berlangsung di tengah memburuknya krisis likuiditas valuta asing yang melanda perekonomian Bolivia sepanjang beberapa tahun terakhir. Sejak bank sentral memutuskan untuk melepas kebijakan pasak mata uang (currency peg) terhadap dolar AS pada Juni lalu, laju inflasi melonjak drastis dan akses sektor riil terhadap uang kertas dolar menjadi sangat terbatas. Kondisi pengetatan likuiditas tersebut memaksa kalangan pebisnis dan masyarakat beralih secara masif ke instrumen dolar sintetis seperti USDT untuk mempertahankan daya beli dan kelangsungan arus kas impor.
Pemerintah Bolivia merespons pergeseran pasar ini secara pragmatis dengan mengumumkan rencana integrasi aset kripto dan stablecoin ke dalam arsitektur keuangan nasional sejak November 2025, termasuk pemberian izin bagi bank domestik untuk melayani kustodi aset digital. Langkah deregulasi berlanjut pada Juli 2026 melalui penyusunan kerangka hukum terpadu yang mengakui USDT sebagai alat pembayaran, tabungan, dan penyelesaian transaksi dagang formal bersanding dengan mata uang boliviano. Tren adopsi ini turut diperkuat oleh kolaborasi platform pinjaman digital Tala dan dompet El Dorado yang baru saja merilis fasilitas kredit instan berdenominasi USDT di atas blockchain Tempo.
Ekspansi Infrastruktur Pembayaran Stablecoin di Amerika Latin
Suntikan modal dari penerbit stablecoin terbesar di dunia ini diproyeksikan menjadi katalis utama bagi Peso untuk memperluas jangkauan operasionalnya ke empat pasar ekonomi utama Amerika Latin, mencakup Bolivia, Brasil, Kolombia, dan Argentina. Keempat yurisdiksi tersebut memiliki kesamaan karakteristik makroekonomi, yakni tingginya ketergantungan impor, kerentanan depresiasi mata uang lokal, serta besarnya populasi masyarakat yang belum terlayani perbankan konvensional (unbanked) namun memiliki penetrasi telepon pintar yang matang.
Keberhasilan integrasi Peso di Bolivia mempertegas strategi Tether dalam membangun jalur pembayaran alternatif yang mandiri dari hegemoni korespondensi perbankan dolar internasional tradisional. Dengan memfasilitasi pertukaran langsung antara USDT dan mata uang lokal di tingkat akar rumput, Tether tidak hanya memperkuat dominasi sirkulasi pasokan lebih dari $120 miliar USDT secara global, tetapi juga mengukuhkan stablecoin sebagai pilar penyelesaian transaksi komersial paling efisien di negara-negara berkembang.



