Robinhood Markets Inc. resmi mengantongi izin regulasi dari Otoritas Jasa Keuangan Dubai (Dubai Financial Services Authority/DFSA) untuk meluncurkan layanan perdagangan ritel serta kustodi aset digital dan ekuitas global. Platform pialang asal Amerika Serikat tersebut dijadwalkan mulai beroperasi penuh pada tahun 2027 melalui kantor pusat regional Timur Tengah dan Afrika Utara (MENA) di kawasan ekonomi khusus Dubai International Financial Centre (DIFC). Otorisasi ini mencakup sepuluh kelas aset, termasuk Bitcoin, berbagai aset kripto terkemuka, saham, dana kelolaan ETF, hingga token investasi terdaftar.
Ekspansi Kantor Pusat MENA dan Hak Kustodi Aset Digital Langsung
Persetujuan regulasi dari DFSA memberikan wewenang penuh kepada Robinhood untuk mengelola penyimpanan kustodi aset digital nasabah secara mandiri sejak hari pertama peluncuran. Hal ini menandai lompatan kepatuhan signifikan bagi perusahaan yang pada masa-masa awal di AS memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum mampu membuka fitur penarikan Bitcoin secara langsung bagi penggunanya. Otorisasi ini bukan sekadar izin perantara perutean pesanan (order routing), melainkan izin kustodi penuh yang menempatkan perlindungan aset nasabah di bawah pengawasan regulasi ketat DIFC.
Untuk memimpin operasional di kawasan tersebut, Robinhood menunjuk Salah Kaddoura sebagai Senior Executive Officer sekaligus Presiden Robinhood MENA. Jabatan ini diakui secara resmi oleh DFSA sebagai penanggung jawab utama kepatuhan perusahaan di hadapan regulator perbankan dan pasar modal setempat. Kaddoura akan bertanggung jawab langsung dalam merekrut tim lokal dan merancang infrastruktur operasional di Dubai menjelang peluncuran komersial pada 2027.
Chief Executive Officer sekaligus Chairman Robinhood, Vlad Tenev, menegaskan bahwa kehadiran di DIFC merupakan tonggak strategis dalam agenda ekspansi internasional perusahaan. Tenev menyatakan bahwa DIFC adalah salah satu pusat keuangan terpenting di dunia, dan langkah ekspansi ini mendekatkan visi Robinhood untuk membangun platform global yang memungkinkan siapa saja di mana saja memiliki aset keuangan berkualitas tinggi secara aman dan transparan.
Agresivitas Ekspansi Global Robinhood di Tengah Dinamika Finansial
Langkah ekspansi ke Dubai ini memperluas rangkaian ekspansi internasional Robinhood ke luar pasar Amerika Serikat, menyusul penetrasi perusahaan ke pasar Inggris pada 2024 dan operasional penuh di Uni Eropa pada 2025. Selain itu, pialang publik ini juga telah mengantongi persetujuan prinsip (in-principle approval) untuk layanan pialang dari regulator Singapura pada April 2026, serta menuntaskan akuisisi platform kripto asal Kanada, WonderFi, pada Juni 2026. Saat ini, Robinhood mencatatkan lebih dari satu juta pengguna aktif di luar pasar domestik AS.
Johann Kerbrat, General Manager Crypto and International Robinhood, menjelaskan bahwa ekspansi ke Dubai didorong oleh gelombang pesat investor ritel baru yang melek finansial di kawasan Timur Tengah. Manuver ini selaras dengan langkah perbendaharaan korporasi Robinhood, di mana pada 7 Oktober 2026 lalu Kerbrat mengumumkan alokasi $25 juta Bitcoin ke dalam neraca keuangan perusahaan (corporate balance sheet). Alokasi tersebut menjadi kali pertama dalam sejarah Robinhood menyimpan Bitcoin sebagai aset cadangan kas kasir internal perusahaan, bukan semata-mata mewakili simpanan nasabah.
Di pasar domestik AS, Robinhood juga terus memperluas fitur layanannya dengan merilis perdagangan akhir pekan (weekend trading) dan kontrak perpetual futures kripto. Langkah strategis ini memperkuat diversifikasi pendapatan perusahaan di tengah persaingan ketat pialang institusional dan bursa kripto terdesentralisasi global.
Iklim Kompetisi DIFC dan Regulasi Aset Kripto di Uni Emirat Arab
Kehadiran Robinhood mempertegas posisi DIFC sebagai magnet utama lembaga keuangan multinasional di tengah ketegangan geopolitik kawasan. Kawasan keuangan bebas federal tersebut mencatatkan lebih dari 10.000 perusahaan terdaftar aktif pada tahun ini, menarik raksasa Wall Street seperti Citadel pimpinan Ken Griffin, Deutsche Bank, hingga Moody's. Perusahaan proprietary trading Maven bahkan baru saja mengumumkan penutupan kantor New York untuk memindahkan fokus operasionalnya ke Dubai.
Kendati demikian, Robinhood akan menghadapi iklim persaingan yang ketat di Uni Emirat Arab. DIFC mencatat sedikitnya 72 pialang berlisensi per 31 Maret 2026, sementara yurisdiksi darat (onshore) Dubai diawasi secara terpisah oleh Virtual Assets Regulatory Authority (VARA) yang telah melisensikan sejumlah bursa kripto global. Regulasi DFSA sendiri berlaku khusus di dalam zona bebas keuangan federal DIFC dengan standar perbankan common law yang independen.
Hingga saat ini, manajemen Robinhood belum merinci daftar negara mana saja di kawasan MENA yang akan dilayani pada tahap awal, struktur biaya transaksi yang akan diterapkan, maupun kriteria kelayakan investor (eligible investors). Definisi kriteria investor tersebut nantinya akan menjadi penentu utama besaran pangsa pasar ritel yang dapat dijangkau oleh Robinhood di Timur Tengah.
Sumber: Bitcoin Magazine



