Data on-chain kembali membuka tabir aktivitas kelompok peretas paling ditakuti di industri kripto. Dompet yang terhubung dengan Lazarus Group, kelompok peretas yang didukung negara Korea Utara, dilaporkan menjual lebih dari $30 juta Bitcoin melalui platform derivatif terdesentralisasi Hyperliquid hanya dalam tiga pekan terakhir. Temuan ini dilaporkan CoinDesk berdasarkan data dari firma analitik blockchain Arkham, dan menjadi bukti terbaru bahwa aktor negara terus memanfaatkan bursa terdesentralisasi tanpa operator pusat untuk mencuci hasil kejahatan siber mereka.
Jejak Panjang Lazarus di Hyperliquid
Aktivitas ini bukan hal baru bagi Hyperliquid. Pada Desember 2024, platform yang beroperasi dari Singapura itu sempat menjadi sorotan publik setelah dompetnya dikaitkan dengan alamat yang terafiliasi Korea Utara. Saat itu Hyperliquid menegaskan tidak terjadi peretasan maupun kehilangan dana pengguna. Namun temuan terbaru menunjukkan bahwa alih-alih menghilang, alamat-alamat yang terkait Lazarus terus aktif dan kini dilaporkan menggunakan layanan yang kini dikenal sebagai HyperUnit untuk memindahkan dananya.
Menurut data yang ditinjau, dana Bitcoin hasil kejahatan itu tidak berhenti di satu titik. Sebagian besar hasil penjualan dikonversi menjadi Ethereum dan Solana sebelum kemudian didorong menuju bursa terpusat (centralized exchange). Pola ini khas kelompok Lazarus Group: memecah dana curian, menukarnya lintas aset, lalu mengalirkannya ke bursa agar jejaknya semakin sulit dilacak dan akhirnya bisa diuangkan. Peneliti blockchain Emmett Gallic menyebut alamat-alamat terkait Lazarus bahkan masih mengalirkan dana lewat HyperUnit hingga 31 Agustus 2026, menandakan aktivitas itu berlangsung saat laporan ini naik.
Dorongan AS Membawa Hyperliquid Onshore
Berbarengan dengan temuan tersebut, lanskap regulasi justru bergerak ke arah yang berdampingan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump baru-baru ini menyatakan pemerintahannya tengah berupaya membawa Hyperliquid masuk ke pasar AS, sebuah langkah yang sempat mendongkrak harga token HYPE secara tajam. Diskusi lanjutan juga tengah berlangsung, dengan Bloomberg melaporkan Hyperliquid berada dalam pembicaraan tahap lanjut dengan perusahaan induk Kraken, Payward, untuk mengalihkan akses produk perpetual futures-nya melalui Bitnomial, bursa dan lembaga kliring yang teregulasi di Amerika Serikat.
Konstelasi dua peristiwa ini menciptakan situasi yang pelik sekaligus menentukan. Di satu sisi, Hyperliquid mencatat volume harian lebih dari $4 miliar dan menjadi salah satu platform derivatif terdesentralisasi paling diminati. Di sisi lain, kenyataan bahwa dompet milik kelompok yang terkena sanksi OFAC masih leluasa menggunakannya memperkuat kekhawatiran regulator bahwa desain permissionless tanpa operator pusat rentan terhadap manipulasi dan aktivitas kriminal.
Rute akses melalui infrastruktur Bitnomial dinilai menjadi jawaban atas persoalan tersebut. Dengan pengawasan operator yang teregulasi, Hyperliquid dapat memenuhi kerangka kepatuhan yang selama ini menjadi penghalang utama masuk ke pasar AS. Langkah ini juga sejalan dengan upaya SEC dan CFTC yang tengah menyusun aturan untuk menarik kembali perdagangan perpetual yang selama ini banyak berlangsung di luar negeri, sebuah pasar yang nilainya jauh melampaui pasar domestik AS.
Bagi para pelaku pasar, temuan pergerakan dana Lazarus Group di Hyperliquid menjadi pengingat bahwa kemajuan teknologi dan celah keamanan kerap berjalan beriringan. Adopsi institusional terus menguat, namun risiko pencucian uang lintas batas tetap menjadi momok yang harus dijawab oleh regulator, platform, dan industri secara keseluruhan. Seberapa cepat Hyperliquid mampu menyeimbangkan inovasi tanpa batas dengan kepatuhan yang ketat akan menjadi ujian penting bagi masa depan perdagangan derivatif terdesentralisasi.
Sumber
Sumber: CoinDesk, Cryptobriefing, Decrypt, Arkham Intelligence.



