Bursa aset digital global OKX resmi mengamankan putaran investasi strategis baru dengan valuasi pre-money mencapai $25 miliar (sekitar Rp395 triliun) pada Selasa (6/10/2026). Pendanaan segar ini melibatkan sejumlah institusi keuangan terkemuka, mencakup SC Ventures selaku unit modal ventura Standard Chartered, penerbit stablecoin Circle, penyedia infrastruktur pembayaran Ripple, serta manajer investasi kuantitatif Qube Research & Technologies (QRT). Langkah ini menandai akselerasi agresif OKX dalam mentransformasikan model bisnisnya dari sekadar platform perdagangan kripto menjadi ekosistem teknologi finansial global terpadu yang memadukan aset digital, rel pembayaran lintas batas, dan instrumen pasar modal tradisional.
Ekspansi Strategis Melampaui Bursa Kripto Murni
Suntikan modal terbaru ini merupakan perpanjangan langsung dari kemitraan strategis yang telah disepakati sebelumnya pada Maret 2026 bersama Intercontinental Exchange (ICE), perusahaan induk dari bursa saham New York Stock Exchange (NYSE). Dengan mempertahankan valuasi pre-money sebesar $25 miliar, putaran pendanaan ini menegaskan kepercayaan investor institusional terhadap posisi keuangan OKX di tengah tren pergeseran industri bursa digital menuju penyedia infrastruktur keuangan menyeluruh.
Pendiri sekaligus Chief Executive Officer OKX, Star Xu, menegaskan bahwa model bisnis bursa pertukaran kripto hanyalah pijakan awal bagi perusahaan. Menurut Star Xu, ambisi jangka panjang OKX adalah menyediakan aplikasi finansial menyeluruh yang memungkinkan pengguna di seluruh dunia untuk menyimpan saldo kas, bertransaksi harian, berinvestasi pada beragam kelas aset, hingga mengoptimalkan imbal hasil modal dalam satu pintu antarmuka tanpa friksi teknis yang rumit.
Integrasi Saham Tertokenisasi 24/7 dan X Layer Blockchain
Realisasi konvergensi keuangan tradisional dan blockchain tersebut terlihat jelas melalui pembentukan entitas patungan OKXICE. Pekan ini, konsorsium ini secara resmi mengajukan proposal ke Komisi Sekuritas dan Bursa AS (SEC) untuk meluncurkan fasilitas perdagangan saham AS tertokenisasi selama 24 jam penuh dalam 7 hari sepekan di bawah kerangka percontohan regulasi tokenisasi berdurasi lima tahun.
Melalui fasilitas perdagangan tersebut, pengguna nantinya dapat memperdagangkan saham tertokenisasi dari 63 korporasi publik terkemuka AS secara on-chain menggunakan jaringan blockchain Layer-2 milik OKX, X Layer. Transaksi dan penyelesaian instan (settlement) akan difasilitasi oleh instrumen dolar digital terpercaya, termasuk USD Coin (USDC), Tether (USDT), serta Global Dollar (USDG). Seluruh saham digital ini dirancang tetap mempertahankan hak kepemilikan yuridis yang sah, termasuk hak perolehan dividen perusahaan dan hak suara voting dalam rapat umum pemegang saham.
Analisis Institusional dan Peran Ekosistem Investor Baru
Kendati menawarkan terobosan likuiditas yang signifikan, laporan riset perbankan investasi Macquarie memperkirakan bahwa adopsi tahap awal platform ini akan didominasi oleh partisipasi investor ritel global. Analis Macquarie menyoroti bahwa institusi keuangan mapan Wall Street masih menghadapi kalkulasi biaya integrasi teknologi yang tinggi serta sikap menunggu kepastian permanen dari kerangka aturan SEC, sebagaimana diuraikan pula dalam catatan analisis pasar dari TD Securities.
Masuknya investor baru ini secara strategis melengkapi pilar operasional OKX. Circle dan Ripple memperkuat rel likuiditas dolar digital melalui USDC dan stablecoin RLUSD, sementara Standard Chartered telah berperan sebagai kustodian institusional bagi dana Treasury AS tertokenisasi BUIDL kelolaan BlackRock yang bermitra dengan OKX. Di sisi lain, QRT hadir untuk menyuntikkan likuiditas kuantitatif dan menjaga efisiensi penentuan harga pasar secara berkelanjutan.
Sumber: CoinDesk



