Wali amanat rehabilitasi bursa kripto Mt. Gox resmi memperpanjang tenggat waktu pembayaran ganti rugi kepada para kreditur selama satu tahun penuh hingga 31 Oktober 2027. Keputusan strategis ini diambil oleh kurator kebangkrutan Nobuaki Kobayashi setelah memperoleh persetujuan resmi dari Pengadilan Distrik Tokyo (Tokyo District Court) di Jepang. Perpanjangan masa penyelesaian klaim ini memberikan kelonggaran waktu tambahan bagi ribuan kreditur yang belum menyelesaikan tahapan verifikasi atau mengalami kendala teknis dalam proses pencairan dana. Di sisi lain, kepastian ini meredakan kekhawatiran pelaku pasar kripto global terhadap potensi limpahan pasokan (supply overhang) puluhan ribu Bitcoin yang masih tersimpan di dompet perwalian entitas tersebut.
Izin Pengadilan Tokyo dan Kategori Pembayaran Kreditur
Keputusan penundaan tenggat pelunasan ini mencakup tiga kategori pembayaran utama yang telah ditetapkan dalam rencana rehabilitasi sipil Mt. Gox. Kategori tersebut meliputi pembayaran dasar (base repayments), pembayaran sekaligus awal (early lump-sum repayments), serta pembayaran perantara (intermediate repayments). Kurator Nobuaki Kobayashi menegaskan bahwa perpanjangan waktu ini sangat diperlukan karena proses rekonsiliasi data dan pemrosesan perbankan internasional kerap menghadapi hambatan birokrasi yang memakan waktu lama.
Langkah ini menandai perpanjangan tenggat tahunan keempat berturut-turut yang disahkan oleh pengadilan Jepang sejak tahun 2023. Meskipun sebagian besar kreditur yang telah merampungkan prosedur administratif tanpa kendala pemrosesan telah menerima pengembalian aset, sejumlah pembayaran masih tertunda. Masalah administrasi akun di bursa mitra, kesalahan data rekening bank penerima, serta ketidaklengkapan dokumen identitas menjadi faktor dominan yang menghambat penyelesaian klaim para kreditur global.
Status Distribusi Aset dan Sisa Cadangan 34.387 Bitcoin
Proses distribusi kompensasi aset dalam bentuk Bitcoin (BTC) dan Bitcoin Cash (BCH) sejatinya telah digulirkan secara bertahap sejak pertengahan 2024 melalui sejumlah bursa kripto yang ditunjuk sebagai agen pembayaran resmi. Berdasarkan laporan wali amanat, program pelunasan tersebut telah berhasil menjangkau lebih dari 19.500 kreditur per Maret 2025. Kendati demikian, volume sisa aset yang belum dialokasikan masih tergolong sangat besar dan berada di bawah pengawasan ketat kurator.
Data pelacakan on-chain dari alamat dompet resmi yang terafiliasi dengan entitas perwalian Mt. Gox menunjukkan cadangan yang tersisa saat ini tercatat sekitar 34.387,51 BTC. Jumlah tersebut setara dengan miliaran dolar Amerika Serikat berdasarkan valuasi pasar terkini. Dana perwalian ini sengaja ditahan di dompet dingin (cold storage) dan hanya ditransfer ke bursa kustodian ketika kelompok kreditur terkait telah diverifikasi secara penuh oleh sistem kliring pengadilan.
Redanya Kekhawatiran Pasokan dan Implikasi Pasar Kripto
Kabar perpanjangan batas waktu hingga Oktober 2027 ini memberikan angin segar bagi stabilitas harga Bitcoin di pasar spot global. Selama beberapa tahun terakhir, narasi mengenai pelepasan likuidasi massal dari cadangan Mt. Gox kerap memicu kepanikan dan menekan sentimen pasar. Dengan diperpanjangnya jadwal pelunasan hingga akhir 2027, ancaman banjir pasokan secara mendadak di bursa-bursa utama dapat ditekan secara signifikan, sehingga likuiditas pasar dapat menyerap distribusi bertahap dengan lebih teratur.
Mt. Gox, yang sempat mendominasi lebih dari 70% volume perdagangan Bitcoin global pada masa awalnya, kolaps pada tahun 2014 silam setelah peretasan masif melenyapkan sekitar 850.000 BTC. Penanganan kasus kebangkrutan terpanjang dalam sejarah industri kripto ini kini memasuki babak penuntasan akhir. Dengan tenggat baru yang jatuh pada 31 Oktober 2027, pihak kurator diharapkan dapat menyelesaikan seluruh sengketa sisa klaim tanpa mengguncang dinamika pasar kripto secara keseluruhan.
Sumber: TokenPost



